<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5793188356812913061</id><updated>2012-02-16T20:42:30.584-08:00</updated><category term='TARI BALI'/><category term='KESEHATAN'/><category term='babad'/><category term='OBAT TRADISIONAL'/><category term='TEHNOLOGI'/><category term='HINDU RELIGION'/><title type='text'>serombotan</title><subtitle type='html'>sekilas adat, budaya, alam dan perkembangan pulau bali</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://serombotan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serombotan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>gusade777</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04034465685906450642</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5793188356812913061.post-2241945412099736759</id><published>2010-04-11T08:57:00.000-07:00</published><updated>2010-04-11T09:06:59.223-07:00</updated><title type='text'>SEJARAH BALI KUNO</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pengantar&lt;br /&gt;Pembicaraan tentang sejarah memang cukup menarik bagi banyak orang. Bahkan, sementara ahli memberi pernyataan bahwa manusia tidak mungkin dapat meninggalkan sejarahnya. Mudah dipahami bahwa pernyataan itu pada intinya mengandung makna bahwa sejarah atau perjalanan hidup pada masa lampau sekelompok manusia beserta wilayah yang dihuninya adalah sangat penting. Sifat pentingnya itu bukan semata-mata karena sejarah telah mampu mengantar kelompok manusia itu sampai ke kehidupannya pada masa kini serta memungkinkan mereka dapat meneruskan perjalanannya ke masa-masa mendatang, tetapi lebih dari itu. Sejarah juga mampu menjadikan kelompok manusia yang bersangkutan memiliki cita-cita mengenai kualitas kehidupan dan dirinya yang ingin dicapai atau diwujudkannya. Sudah tentu dengan syarat, kelompok sosial tersebut harus bijak lestari dalam mengambil hikmah dari perjalanan sejarah yang telah dilaluinya. Ingat pulalah ungkapan sangat bermakna yang pernah terdengar, yang pada hakikatnya menyatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai sejarahnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi ingin ditegaskan bahwa uraian ringkas yang telah dikemukakan di atas, kiranya sudah cukup memberikan pemahaman bahwa pemahaman tentang sejarah sekelompok manusia, suku bangsa, begitu pula suatu bangsa-termasuk wilayah yang dihuninya-adalah sangat perlu karena dapat memberikan makna yang tidak terukur besarnya bagi kelompok sosial atau bangsa yang bersangkutan. Namun, perlu pula dikemukakan di sini bahwa menyusun uraian sejarah yang representatif bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak hal yang dapat menjadi penghambatnya. Di antara hambatan yang banyak itu, adalah kurangnya data atau dokumen yang mampu memberikan bahan-bahan yang diperlukan untuk penyusunan sejarah, merupakan hambatan terbesar yang lazim dihadapi oleh penyusun sejarah.&lt;br /&gt;Hal yang dikatakan di atas ini berlaku pula dalam upaya penyusunan sejarah Bali, terutama Sejarah Bali Kuno. Berkaitan erat dengan keadaan tersebut, maka perlu ditekankan di sini bahwa gambaran ringkas tentang Sejarah Bali Kuno yang disajikan berikut ini, memang betul-betul ringkas, bahkan pada beberapa bagiannya masih memiliki masalah yang belum terpecahkan sebagai akibat kurangnya data yang diperlukan. Kendati demikian, dalam kaitan dengan masalah pokok yang ingin diungkap dalam kitab ini, uraian ringkas tentang Sejarah Bali Kuno tersebut, tetap diharapkan mampu memberikan pemahaman yang berguna bagi pembacaannya. Mereka yang ingin mendapat sajian uraian Sejarah Bali Kuno yang lebih lengkap, sudah tentu wajib mencarinya pada sumber lain.&lt;br /&gt;• Bali Sebelum Tahun 800&lt;br /&gt;Tonggak awal rentangan masa Bali Kuno, adalah abad VIII. Atas dasar itu maka periode sebelum tahun 800 sesungguhnya tidak termasuk masa Bali Kuno. Gambaran umum periode tersebut diharapkan dapat menjadi landasan pemicaraan mengenai masa Bali Kuno, sehingga terwujud uraian lebih utuh. Gambaran periode sebelum tahun 800 itu meliputi masa prasejarah Bali dan berita-berita asing tentang Bali, khususnya yang berasal dari Cina.&lt;br /&gt;Babakan masa prasejarah Bali pada dasarnya sesuai dengan babakan masa prasejarah Indonesia secara keseluruhan. Babakan itu meliputi tingkat-tingkat kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan (baik yang tingkat sederhana maupun tingkat lanjut), masa bercocok tanam, dan masa perundagian atau kemahiran teknik.1&lt;br /&gt;Peninggalan-peninggalan masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana ditemukan di desa Sembiran dan pesisir timur serta tenggara Danau Batur. Peninggalan-peninggalan itu berupa kapak perimbas, kapak genggam, pahat genggam, dan serut (Soejono, 1962 : 34-43 ; Heekeren, 1972 : 46). Tahap kehidupan berikutnya, yakni masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, meninggalkan bukti-bukti di Gua Selonding, Gua Karang Boma I, Gua Karang Boma II yang terletak di perbukitan kapur Pecatu (Kabupaten Badung). Bukti-bukti itu antara lain berupa alat-alat dari tulang dan tanduk rusa, serta sisa-sisa makanan, yakni kulit-kulit kerang dan siput laut, serta gigi babi rusa (Sutaba, 1980 : 15). Bukti-bukti yang serupa ditemukan juga di Goa Gede Nusa Penida (Suastika, 2005 : 30-31).&lt;br /&gt;Pada masa bercocok tanam, jumlah penduduk Bali telah bertambah dan persebarannya semakin meluas. Peninggalan benda-benda budaya mereka ditemukan di Palasari, Pulukan, Kediri, Kerambitan, Bantiran. Kesiman, Ubud, Payangan, Pejeng, Selulung, Selat, Nusa Penida, dan beberapa desa di Kabupaten Buleleng. Benda-benda itu pada umumnya berupa alat-alat dan perkakas yang digunakan sehari-hari, misalnya kapak dan pahat batu persegi empat panjang. Artefak-artefak tersebut di dapat sebagai temuan lepas, dalam arti, bukan merupakan hasil ekskavasi yang sistematik (Sutaba, 1980 : 19 ; cf. Suastika, 1985 : 30-33).&lt;br /&gt;Masa perundagian merupakan babakan terakhir dari masa prasejarah. Benda-benda temuan dari masa ini antara lain berupa nekara (di Pejeng, bebitra, dan Peguyangan), tajak, gelang kaki dan tangan, cincin, anting-anting, ikat pinggang, dan pelindung jari tangan (Sutaba, 1980 : 23-25). Peninggalan-peninggalan lain yang berasal dari masa ini adalah cetakan nekara dari batu di desa Manuaba dan sejumlah sarkofagus yang ditemukan di desa Nongan, Bajing, Bedulu, Mas, Tegallalang, Plaga, Ambyarsari, Poh Asem, Tigawasa, dan Cacang (Sutaba, 1980 : 25-26).&lt;br /&gt;Telah diketahui bahwa sarkofagus adalah salah satu sarana atau wadah penguburan. Wadah penguburan yang lain ada pula berupa tempayan. Tradisi penguburan dengan sarkofagus dan tempayan muncul bersamaan dengan tradisi megalitik di Indonesia, termasuk di Bali. Penguburan dengan tempayan adalah cara penguburan sekunder, yakni penguburan yang dilakukan setelah mayat lebih dahulu dikuburkan di tempat lain (penguburan primer). Dapat ditambahkan bahwa di situs prasejarah Gilimanuk ditemukan pula cara penguburan sekunder tanpa menggunakan wadah. Di situ, pada saat penguburan primer, mayat orang dewasa dan kanak-kanak dikubur dengan posisi membujur atau terlipat. Kemudian, tulang-tulangnya yang tertentu dikumpulkan untuk dikubur kembali di dalam tanah (penguburan sekunder) tanpa menggunakan wadah (Soejono, 1977 : 191-192, 223-227).&lt;br /&gt;Sarkofagus dan peninggalan-peninggalan lain yang berasal dari tradisi megalitik kian hari semakin banyak ditemukan. Peninggalan-peninggalan itu antara lain berupa bangunan suci yang terdiri atas susunan batu, menhir, teras berundak (di Selulung, Batukaang, Tenganan Pegringsingan, Sembiran, dan Trunyan), tahta batu, arca menhir, lesung batu, palung batu, dan batu dakon (di Gelgel), serta arca-arca sederhana yang melambangkan nenek moyang ditemukan di Poh Asem, Depaa, dan Pura Besakih di dea Keramas (Covarrubias, 1972 : 26 ; 167-168 ; Sutaba, 1980b : 30 ; 1982 : 107-108 ; 1995 : 88-93 ; Mahaviranata, 1982 : 119-127 ; Oka, 1985 : 118-129).&lt;br /&gt;Kemampuan menghasilkan benda-benda budaya yang telah disebutkan tidak dapat dilepaskan dari perkembangan aspek-aspek sosial ekonomi, sosial budaya (termasuk religi), teknologi, dan sebagainya yang dicapai masyarakat prasejarah. Beberapa hal mengenai aspek-aspek itu dikemukakan berikut ini.&lt;br /&gt;Para ahli tampaknya sepakat menyatakan bahwa kehidupan bercocok tanam merupakan “tonggak sejarah” kemajuan peradaban umat manusia yang sangat penting. Di antara mereka, bahkan ada yang menyatakan bahwa perubahan ke tahap kehidupan itu merupakan revolusi pertama dan sangat besar dalam sejarah peradaban umat manusia. Menurut H.R. van Heekeren, nenek moyang pendukung kebudayaan ini di Indonesia, termasuk yang di Bali, sudah menyebar dari tanah daratan Asia Tenggara. Mereka memasuki wilayah kepulauan lebih kurang pada tahun 1500-1000 sebelum masehi, setelah menempuh perjalanan panjang melalui darat, sungai, dan laut (1955 : 40-42).&lt;br /&gt;Kehidupan bercocok tanam mendorong mereka bertempat tinggal tetap dan membangun perkampungan dengan organisasi yang semakin teratur. Mereka telah mengenal perdagangan, paling tidak dengan sistem tukar barang-barang in natura. Kehidupan religi mereka semakin berkembang. Pelaksanaan upacara-upacara berlandaskan konsep magis (sympathic magic) menjelang kegiatan berburu (Kosasih, 1985 : 159), merupakan salah satu hal yang mengawali perkembangan kehidupan religi mereka. Mereka juga telah meyakini adanya “kehidupan” setelah kematian, dalam arti, mereka meyakini bahwa arwah nenek moyang mempunyai kemampuan mengatur, melindungi, dan memberkahi orang-orang yang masih hidup, atau sebaliknya menghukum keturunannya jika ternyata berbuat salah. Hal ini dapat dibuktikan antara lain dengan perlakuan masyarakat terhadap jasad orang yang meninggal atau upacara-upacara penguburan yang diselenggarakan.&lt;br /&gt;Kemajuan dalam pelbagai aspek kehidupan yang dicapai pada masa bercocok tanam berkembang semakin subur dan cepat pada masa perundagian, yakni yang merupakan tahap akhir masa prasejarah dan sekaligus merupakan saat-saat penjelang masa sejarah Bali. Dalam bidang teknologi, penduduk Bali pada waktu itu2 telah mampu melakukan peleburan bijih-bijih logam, pengecoran logam dalam rangka pembuatan suatu benda,3 serta menghiasi benda-benda ciptaannya dengan motif-motif tertentu. Kemampuan-kemampuan itu menunjukkan betapa tingginya tingkat kemajuan dalam bidang piroteknologi (pyrotechnology) yang telah dicapai.4 Hal itu dikatakan demikian, karena semua pekerjaan tersebut memerlukan panas dengan temperatur yang sangat tinggi.&lt;br /&gt;Jumlah penduduk yang semakin bertambah memungkinkan desa-desa tumbuh semakin banyak dan berkembang semakin pesat. Kehidupan bergotong royong kian diperlukan, diversifikasi dalam pelbagai aspek kehidupan, baik yang berkenaan dengan mata pencaharian hidup maupun tugas dan fungsi seseorang atau sekelompok orang dalam masyarakat, kian berkembang pula. Kelompok-kelompok sosial dengan keterampilan tertentu, misalnya yang terampil dalam bidang arsitektur, seni pahat, seni tabuh, dan seni tari, semakin dibutuhkan oleh masyarakat dan serta merta mempercepat terwujudnya masyarakat yang heterogen. Lebih jauh, mudah dipahami bahwa dalam masyarakat heterogen yang telah digambarkan terdapat pelbagai kepentingan pihak-pihak tertentu yang perlu dikoordinasikan agar tercapai tujuan hidup bermasyarakat secara optimal. Keadaan ini menuntut kehadiran pemimpin atau pemimpin-pemimpin yang berwibawa. Dengan kata lain, tokoh pemimpin, yang mungkin pada mulanya sebagai primus inter pares, menjadi semakin penting. Hal itu sekaligus mencerminkan bahwa masyarakat pada waktu itu telah mengenal stratifikasi sosial, walaupun dalam wujud yang masih bersifat embrio. Keberadaan hal itu, selain dapat dipahami sebagai konsekuensi logis dari adanya pemimpin tertinggi dan kepala masing-masing kelompok sosial, sistem penguburan juga memberikan petunjuk yang sangat berarti. Tampaknya, hanya orang-orang yang semasa hidupnya menempati kedudukan terhormat saja dikubur dalam sarkofagus atau tempayan. Sebaliknya, mayat orang kebanyakan dikubur secara biasa dalam tanah.&lt;br /&gt;Hal lain yang perlu dikemukakan ialah masalah religi. Pelbagai peninggalan tradisi megalitik, misalnya tahta batu, dolmen, menhir, arca yang bercorak megalitik, dan hiasan kedok muka pada beberapa sarkofagus mencerminkan bahwa perkembangan religi pada masa itu telah maju. Pemujaan terhadap arwah leluhur yang bersemayam di puncak-puncak gunung atau tempat-tempat suci lain dan kekuatan-kekuatan alam tertentu yang diyakini dapat mempengaruhi kehidupan mereka berkembang semakin subur, Bahkan, dapat dikatakan bahwa sebagian besar dari benda-benda peninggalan tradisi megalitik itu sampai dewasa ini masih disucikan dan digunakan sebagai media memohon kesejahteraan masyarakat (Sutaba, 1995 : 88).&lt;br /&gt;Hal yang menarik perhatian pula ialah sejumlah tahta batu diberikan nama khas Bali, misalnya Pelinggih Bhatara Puseh, Bhatara Dalem, Jero Wayan, Jero Nongan, Pesimpangan Batu Belig, dan Pesimpangan Tamba Waras (Kusumawati, 1989 : 107-222 ; Sutaba, 1995 : 101-102). Lebih jauh mengenai kekhasan Bali, R.P. Soejono menunjuk pola hias kedok muka pada beberapa sarkofagus serta sistem kubur sekunder dengan tata letak bagian-bagian rangka yang sangat teratur dan betul-betul tidak ada persamaannya di tempat lain. Dikatakannya bahwa hiasan kedok muka itu, selain berfungsi dekoratif, juga melambangkan kekuatan gaib yang berfungsi melindungi roh orang yang meninggal dari gangguan roh-roh jahat (1977 : 30-169 ; 246-270 ; 1993 : 7). Selain itu, beliau juga terkesan dengan pahatan yang menggambarkan alat vital wanita dan kerbau pada sarkofagus yang ditemukan di Ambiarsari dan Munduk Tumpeng. Dalam kaitan dengan pahatan-pahatan tersebut, khususnya yang terdapat pada sarkofagus di Munduk Tumpeng, beliau menyatakan bahwa hal itu memperkuat pemahaman mengenai fungsi sarkofagus tipe itu, yakni untuk menopang pencapaian tujuan hidup setelah seseorang lepas dari lingkaran kelahiran kembali (rebirth). Roh orang itu akan diangkut oleh kerbau yang berfungsi sebagai kendaraan bagi roh orang yang meninggal agar sampai di alam arwah dengan selamat dan cepat. Dengan kata lain, sarkofagus Munduk Tumpeng memiliki makna ganda, yakni kelahiran kembali dan kehadiran dengan selamat di alam para leluhur (19... : 183).&lt;br /&gt;Mudah dipahampi bahwa sejalan dengan perkembangan atau kemajuan dalam bidang religi akan muncul pula tokoh-tokoh yang mempunyai kemampuan khusus dalam bidang spiritual, misalnya para pemimpin upacara-upacara magis-religius. Kedudukan mereka terhormat dan peranannya sangat besar. Kedudukan dan peranannya seperti itu menyebabkan mereka menjadi tokoh-tokoh yang amat disegani oleh masyarakat (cf. Bertling, 1974 : 11-15).&lt;br /&gt;Gambaran di atas diharapkan dapat memberikan pemahaman bahwa manusia Bali pada akhir masa perundagian, atau menjelang masa sejarah, telah mencapai tingkat kehidupan sosial ekonomi, sosial budaya, religi, teknologi, dan sebagainya yang relatif maju dan kompleks. Dengan bekal itulah, mereka menyongsong kehadiran pengaruh budaya-budaya asing berikutnya, yang sebagaimana akan diketahui, dengan arus terkuat berasal dari daratan India.&lt;br /&gt;Keterangan-keterangan tentang Bali yang terdapat dalam sumber-sumber Cina perlu dikemukakan pula di sini. Nama-nama dalam kitab Cina, yang oleh sementara orang pernah diidentifikasikan sebagai Bali, adalah P’o-li, Dva-pa-tan, dan Mali. Toponim P’o-li dikenal sejak pemerintahan dinasti Liang (502-556). P’o-li dikatakan terletak di sebuah pulau di sebelah tenggara Kanton Groeneveldt, 1960 : 80). Nama P’o-li juga terbaca dalam kitab sejarah dinasti Sui 9581-617). Di sana disebutkan bahwa jika seseorang berlayar dari Gau-chi (Annam Utara) ke arah selatan, maka akan sampai di Chih-tu, kemudian di Tan-tan, dan akhirnya di P’o-li (Groeneveldt, 1960 : 82), Keterangan seperti itu terbaca pula dalam kitab sejarah baru dinasti T’ang (618-908), dengan sedikit tambahan yang menyatakan bahwa di sebelah timur P’o-li terletak Lu-cha dengan adat-istiadat sama dengan P’o-li (Groenveldt, 1960 : 83-84 ; Slametmulyana, 1981 : 126).&lt;br /&gt;Informasi tentang P’o-li yang berbeda jika dibandingkan dengan keterangan-keterangan di atas terdapat dalam kitab sejarah kuno dinasti T’ang (618-908). Penulis kitab itu mencatat bahwa P’o-li merupakan batas sebelah timur kerajaan Ho-ling. Lebih jauh, Ho-ling (Ka-ling) dikatakan terletak di sebuah pulau di lautan sebelah selatan. Di sebelah timur Ho-ling terletak P’o-li, di sebelah barat To-po-teng, di sebelah utara Chen-la (Kamboja), dan di sebelah selatan adalah lautan (Groenveldt, 1960 : 12 cf. Sumadio, dkk., 1990 : 281).&lt;br /&gt;Sesungguhnya, identifikasi P’o-li dengan Bali sangat diragukan, bahkan tidak disetujui oleh kebanyakan ahli. Identifikasi P’o-li dengan Bali pernah dikemukakan oleh P. Pelliot. Akan tetapi, ditambahkannya pula bahwa P’o-li mungkin identik dengan Kalimantan. Pendapat yang menyatakan bahwa P’o-li terletak di Kalimantan, atau sama dengan Kalimantan, dikemukakan juga oleh E. Bretschneider dan Dato Sir Roland Braddel (Sumadio, dkk., 1990 : 281).&lt;br /&gt;Ahli-ahli sebagian besar mengemukakan bahwa P’o-li terletak di wilayah Sumatra. Menurut G. Schlegel, P’o-li identik dengan Asahan di pantai timur laut Sumatra Utara, dan menurut W.P. Groeneveldt, P’o-li berada di pantai utara Sumatra. Hsu Yu-ts’iao mengindentifikasi negeri P’o-li dengan Pantai di pantai timur laut Sumatra dan V. Obdeyn menyatakan P’o-li terletak di pulau Bangka. Menurut J.L. Moens, P’o-li pada aad VI sama dengan Palembang, Sedangkan P’o-li pada abad VII adalah untuk menyatakan sebuah kerajaan yang terletak di Jawa. Dapat ditambahkan bahwa menurut G.E. Gerini, P’o-li terletak di pantai barat Semenanjung Malaya (Sumadio, dkk., 1990 : 281).&lt;br /&gt;Pendapat-pendapat yang telah dikemukakan cenderung menyatakan bahwa P’o-li merupakan kerajaan besar, atau paling tidak terletak di wilayah yang luas. Kecenderungan itu sesuai dengan gambaran yang di dapat dari kitab sejarah dinasti Sui. Menurut penulis kitab itu, panjang kerajaan P’o-li dari timur ke barat adalah selama empat bulan perjalanan, dan dari utara ke selatan selama 45 hari perjalanan (Groeneveldt, 1960 : 82). Apabila memang benar P’o-li merupakan kerajaan besar, maka tidak sesuai dengan Bali yang relatif kecil.&lt;br /&gt;Toponim yang lebih cocok diidentifikasikan dengan Bali, menurut bagian lain pendapat Groeneveldt, adalah Dva-pa-tan yang terbaca dalam kitab sejarah kuno dinasti T’ang. Negeri itu dikatakan terletak di sebelah selatan Kamboja dalam jarak dua bulan pelayaran, atau di sebelah timur Ho-ling (Ka-ling). Adat istiadatnya sama dengan Ho-ling. Di sana, tiap bulan padi sudah dapat dituai, dan penduduk menulis pada daun rontal. Jika ada orang mati, mayatnya diberi perhiasan emas, ke dalam mulutnya dimasukkan sepotong emas, lalu dibakar disertai dengan bau-bauan yang harum (Groeneveldt, 1960 : 12-58). Di dalam kitab Chu-fan-chih bagian Su-chi-tan, Bali disebut dengan nama Mali. Lebih jauh, penulis kitab Yao-i-chin-lue mencatat nama P’eng-li yang mungkin dapat diidentifikasikan dengan Pali atau Mali (Sumadio, dkk., 1990 : 282).&lt;br /&gt;• Bali Tahun 800-882&lt;br /&gt;Dokumen tertua ditemukan di Bali, dalam hal ini di Pejeng, ialah prasasti-prasasti berbahasa Sansekerta pada tablet-tablet tanah liat yang semula tersimpan di dalam stupika-stupika (stupa-stupa kecil) dari tanah liat. Prasasti-prasasti itu berupa mantra-mantra agama Buddha yang terkenal dengan nama ye-te-mantra. Prasasti-prasasti sejenis ini ditemukan juga di Pura Pegulingan Basangambu, Tampaksiring dan situs Kalibukuk Buleleng. Bunyi teksnya sebagai berikut.&lt;br /&gt;“Ye dharmā hetu-prabhawā&lt;br /&gt;Hetun tesān tathāgato hyawadat&lt;br /&gt;Tesāñca yo nirodha&lt;br /&gt;Ewamwādi mahāśramanah” (Goris, 1948 : 3).&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;“Keadaan tentang sebab-sebab kejadian itu, sudah diterangkan oleh Tathagata (Buddha), Tuan mahatapa itu telah menerangkan juga apa yang harus diperbuat orang supaya dapat menghilangkan sebab-sebab itu”5&lt;br /&gt;Mantra sejenis itu tertulis pula di atas pintu Candi Kalasan (di Jawa Tengah) yang berasal dari abad VIII atau tahun 700 Śaka (778). Berdasarkan kesamaan tipe aksara mantra-mantra di kedua tempat itu, maka mantra-mantra agama Buddha di Pejeng diduga berasal dari abad VIII pula (Goris, 1949 : 3-4 ; cf. Budiastra, 1980/1981 : 36-38).&lt;br /&gt;Di desa Pejeng ditemukan pula fragmen-fragmen prasasti berbahasa Sansekerta dengan huruf Bali Kuno. Keadaannya sudah sangat tua. Di antara bagian-bagian yang masih terbaca antara lain manuśasana... (pada fragmen d), ...mantramārgga... (pada fragmen g), ...śiwas (...) ddh ... (pada fragmen h), yang secara lengkap kiranya berbunyi ... śiwasiddhanta ..., dan ...sakalabhuwanakrt ... (pada fragmen k), yakni nama lain untuk Wiśwakarman. Hal-hal itu memberi petunjuk bahwa isi prasasti tersebut pada umumnya bersifat keagamaan, dalam hal ini agama Hindu sekte Śiwa ; bahkan agama itu rupanya telah bersifat mantris atau tanris (Stutterheim, 1929 : 62).&lt;br /&gt;Fragmen-fragmen tersebut di atas tidak ada yang berangka tahun. Stutterheim, setelah melakukan studi komparatif antara huruf fragmen-fragmen prasasti itu dengan huruf prasasti-prasasti di Jawa, terutama di Jawa Tengah, dapat menyimpulkan bahwa di antara fragmen-fragmen itu ada yang berasal dari masa sebelum tahun 800 Saka, atau sekitar permulaan abad IX (Stutterheiom, 1929 : 62).&lt;br /&gt;Fragmen-fragmen tersebut di atas tidak ada yang berangka tahun. Stutterheim, setelah melakukan studi komparatif antara huruf fragmen-fragmen prasasti itu dengan huruf prasasti-prasasti di Jawa, terutama di Jawa Tengah, dapat menyimpulkan bahwa di antara fragmen-fragmen itu ada yang berasal dari masa sebelum tahun 800 Saka, atau sekitar permulaan abad IX (Stutterheim, 1929 : 59). Jika dugaan itu benar, maka berarti, di daerah Pejeng (Gianyar) pada waktu itu, agama Buddha dan agama Hindu sekte Siwa telah mempunyai pemeluk masing-masing, yang hidup saling menghormati dengan penuh toleransi.&lt;br /&gt;• Bali Tahun 882-955&lt;br /&gt;Rentangan waktu tahun itu disebut pula periode Singhamandawa, karena hampir seluruh prasasti dari periode itu dikeluarkan di Panglapuan (panglapwan) di Singhamandawa. Pada bagian awal periode tersebut, yaitu tahun 882-914, terbit tujuh buah prasasti berbahasa Bali kuno, yakni prasasti Sukawana AI (804 Saka), Bebetin AI (818 Saka), Trunyan AI (833 Saka), Trunyan B (833 Saka), Bangli, Pura Kehen A, Gobleg, Pura Desa I (836 Saka), dan Angsri A. Ketujuh prasasti itu tidak memuat nama raja atau pejabat yang mengeluarkannya (Goris, 1954a : 53-62).&lt;br /&gt;Prasasti pertama pada intinya berisi tentang pengembalian fungsi kesucian ulan (semacam bangunan suci keagamaan) di wilayah perkebunan di bukit Citamani (sekarang Kintamani). Tampaknya, ulan itu sempat digunakan sebagai tempat lalu-lalang bagi orang-orang yang pulang pergi ke kebun atau sawah ladangnya. Kebijakan yang ditempuh penguasa ialah menyuruh Senapati danda, bhiksu Siwakangsita, Siwanirmala, dan Siwaparjna membangun pertapaan yang dilengkapi pasanggrahan (satra) di bagian lain bukit Cintamani. Selanjutnya, orang-orang yang lalu-lalang di daerah itu agar tidak lagi menggunakan jalan setapak yang melewati kompleks ulan melainkan melalui jalan di kompleks pertapaan. Batas-batas wilayah pertapaan ditetapkan. Prasasti ini juga memuat ketetapan pembebasan para bhiksu dari tugas dan pajak-pajak tertentu, serta aturan pembagian harta warisan. Berdasarkan prasasti itu, dapat diketahui bahwa di bawah pucuk pemerintahan paling sedikit ada empat jabatan tinggi kerajaan, yaitu sarbwa, dinganga, nayakan, makarun, dan manuratang ajna. Jabatan-jabatan ini tetap bertahan selama periode Singhamandawa, yakni ketika prasasti-prasasti dikeluarkan di panglapuan di Singhamandawa (882-942). Setelah itu, jabatan-jabatan tinggi kerajaan rupanya semakin meningkat jumlahnya.&lt;br /&gt;Prasasti Bebetin AI berkenaan dengan desa (banwa) bharu, atau secara lebih lengkap kuta di banwa bharu, yang bermakna desa bharu yang berbenteng. Dalam prasasti itu dikatakan bahwa pada suatu ketika desa itu diserang atau dirusak oleh perampok. Banyak penduduk mati terbunuh atau terluka dan banyak pula yang mengungsi ke desa-desa tetangga. Setelah keadaan aman, merekapun kembali ke desa bharu. Demi kelengkapan desa, khususnya dalam bidang spiritual, raja menyuruh pejabat nayakan pradhana yaitu kumpi ugra dan bhiksu Widya Ruwana untuk memimpin pembangunan kuil Hyang Api, dengan batas-batas wilayah yang telah ditentukan. Prasasti ini memuat pula aturan-aturan pembagian harta warisan dan ketetapan mengenai tugas atau kewajiban serta hak-hak penduduk yang berdiam di sana.&lt;br /&gt;Desa bharu rupanya terletak di pesisir pantai utara Pulau Bali,6 dan merupakan salah satu pelabuhan yang ada pada waktu itu. Dugaan terakhir ini didasarkan atas adanya ketentuan yang mengatur saudagar-saudagar dari luar yang berdagang di sana dan perahu-perahu yang mengalami kerusakan termuat dalam prasasti itu. Bagian teks prasasti Bebetin AI mengenai hal itu, sebagaimana terbaca pada lembaran Iib.3-4 berunyi sebagai berikut.&lt;br /&gt;”... anada tua banyaga turun ditu, paniken (baca : paneken) di hyangapi, parunggahna, ana mati ya tua banyaga, perduan drbyana prakara, ana cakcak lancangna kajadyan papagerrangen kuta ...” (Goris, 1954a : 55).&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;”...Jika ada saudagar berlabuh (turun) di sana, barang-barang persembahannya supaya dihaturkan kepada kuil Hyang Api, (jika) ada mati (di antara) saudagar itu, segala harta miliknya agar dibagi dua, (jika) perahunya rusak, supaya dijadikan pagar untuk memperkuat benteng, ...”&lt;br /&gt;Isi kedua prasasti berikutnya, yaitu prasasti Trunyan AI dan Trunyan B, khususnya pada lembaran Ib-IIa.4, pada dasarnya sama. Keduanya mengenai izin yang diberikan kepada penduduk desa Turunan untuk mendirikan bangunan suci bagi Bhatara Da Tonta. Selanjutnya, penduduk wajib membayar iuran dan melaksanakan kewajiban-kewajiban tertentu untuk keperluan bangunan suci itu. Sebagai imbangannya, mereka dibebaskan dari pajak-pajak serta kewajiban-kewajian tertentu yang lazim ditunaikan bagi raja.&lt;br /&gt;Pada bagian lain prasasti Trunyan AI dinyatakan bahwa jika ada utusan raja melakukan persembahyangan di sana pada bulan Asuji, utusan itu wajib diberikan makanan dan minuman. Prasasti itu menyinggung pula upacara di kuil Guha Mangurug Jalalingga serta kewajiban-kewajiban penduduk desa Hasar, Halang Guras, Pungsu, dan Panumbahan dalam kaitan dengan upacara-upacara di kuil Sang Hyang di Turunan (Bhatara Da Tonta) dan Guha Mangurug Jalalingga.&lt;br /&gt;Bagian lebih lanjut, prasasti Trunyan B antara lain memuat perihal iuran yang wajib dibayar oleh penduduk desa Air Rawang di sebelah timur teluk Danau Batur untuk keperluan upacara Sang Hyang di Turunan. Di sana disebutkan pula bahwa setiap bulan Bhadrawada (Agustus-September), Bhatara Da Tonta harus disucikan dengan air Danau Batur, kemudian dibedaki kuning, serta dihiasi dengan cincin bepermata dan anting-anting. Petugas yang berwenang melaksanakan hal-hal itu adalah Sahayan Padang dari desa Air Rawang. Pada bagian akhir prasasti Trunyan B terbaca kalimat kutukan yang ringkas (Goris, 1954a : 58-59).&lt;br /&gt;Prasasti Pura Kehen A berkenaan dengan bangunan suci (dang udu) Hyang Karimama yang berada di desa Simpat Bunut. Bangunan suci itu tampaknya sempat kurang terurus. Dalam rangka memulihkan fungsinya, raja menugasi bhiksu Siwarudra, Anantasuksma, dan Prabhawa serta penduduk desa Simpat Bunut agar melakukan perbaikan serta perluasan (pamasamahyan) pertapaan di Hyang Karimama itu. Batas-batasnya kemudian ditetapkan. Para bhiksu yang berdiam di sana walaupun pada prinsipnya wajib tunduk pada aturan yang berlaku, juga tetap mendapat hak istimewa (previlise), misalnya para bhiksu tidak boleh diwajibkan ikut bergotong royong mengangkut kayu dan bambu, tidak boleh dilibatkan dalam masalah-masalah jual beli, pemungutan pajak, dan pencelupan benang. Dalam prasasti itu juga ditentukan bahwa pertapaan di Hyang Karimama dibolehkan memiliki cabang di desa lain, asalkan tidak lebih dari 20 buah (Goris, 1954a : 60-61).&lt;br /&gt;Penguasa tertinggi pada periode Singhamandawa memberikan perhatian sangat besar terhadap bidang spiritual keagamaan. Hal itu dapat diketahui antara lain berdasarkan isi kelima prasasti yang telah dibicarakan dan isi prasasti Gobleg, Pura Desa I yang berangka tahun 836 Saka. Dalam prasasti ini disebutkan bahwa bangunan suci di Bukittunggal yang bernama Indrapura, yang berada dalam wilayah desa Air Tabar, agar diperbaiki dan diperluas sesuai dengan rencana. Raja menugasi sejumlah tokoh untuk memimpin pelaksanaannya. Prasasti ini juga memuat aturan pembagian harta warisan dan keringanan dari tugas-tugas tertentu yang didapat oleh penduduk.&lt;br /&gt;Prasasti Angsri A keadaannya sangat aus. Dari bagian yang terbaca dapat diketahui antara lain nama bangunan suci Hyang Api dan Hyang Tanda. Kedua bangunan suci itu mendapat persembahan bagian harta warisan keluarga yang putus keturunan (Goris, 1954a : 62).&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil pembacaan terhadap prasasti-prasasti yang berasal dari masa Bali Kuno selanjutnya dapat diketahui dua puluh tokoh raja atau ratu dan seorang rajapatih yang pernah menduduki pucuk pemerintahan di Bali. Di antaranya, ada yang memerintah sendiri dan ada pula yang memerintah bersama-sama dengan tokoh lain, yakni suami, permaisuri, atau ibu surinya. Urutan pemerintahan mereka secara kronologis dapat dilihat pada lampiran 1 karya tulis ini dan uraian ringkas mengenai masa pemerintahan masing-masing pucuk pemerintahan itu disajikan sebagai berikut.&lt;br /&gt;Nama raja Bali Kuno yang tercantum pertama kali dalam prasasti adalah Sri Kesari Warmadewa. Prasasti-prasasti atas nama raja itu, atau yang dapat diidentifikasikan demikian, adalah prasasti Blanjong (835 Saka),dan prasasti Penempahan,8 dan prasasti Malet Gede (835 Saka)9. Keadaan ketiga prasasti itu telah aus. Banyak bagiannya tidak terbaca lagi secara utuh, termasuk nama raja yang disebut di dalamnya. Bagian nama raja yang terbaca pada isi A.4 prasasti Blanjong adalah ... sri kesari ... sedangkan pada sisi B.13 terbaca ... sri kesariwarmma (dewa) (Goris, 1954a : 64-65). Bagian nama raja dalam prasasti Penempahan yang masih terbaca adalah ... sri ke ... dan pada prasasti Malet Gede berbunyi ... sri kaesari ... (Kartoatmodjo, 1977 : 150-151 ; cf. Damais, 1959 : 964).&lt;br /&gt;Dalam jajaran raja-raja Bali Kuno, Sri Kesari Warmadewa merupakan raja pertama yang menggunakan unsur warmadewa sebagai bagian gelarnya. Berdasarkan kenyataan itu maka dapat dikatakan bahwa Sri Kesari merupakan cikal-bakal dinasti (vamsakara) Warmadewa di Bali. Raja-raja dari dinasti ini, sebagaimana akan diketahui, berkuasa di Bali paling sedikit selama satu abad, yakni sejak awal abad X sampai dengan awal abad XI.&lt;br /&gt;Hal lain yang menarik perhatian ialah ketiga prasasti tersebut pada hakikatnya menggambarkan kemenangan raja Sri Kesari terhadap musuh-musuhnya. Sebagai akibat prasasti-prasasti itu telah aus, hanya dua di antara musuh-musuh itu dapat diketahui, yakni di Gurun dan di Suwal (Goris, 1954a : 65). Perlu ditambahkan bahwa lokasi Gurun dan Suwal sampai dewasa ini belum diketahui secara pasti. Di antara para ahli, ada yang berpendapat bahwa Gurun mungkin sama dengan Lombok dewasa ini. Pendapat lain menyatakan bahwa Gurun mungkin identik dengan Nusa Penida (Goris, 1954b : 243 ; cf. Kartoatmodjo, 1977 : 152).&lt;br /&gt;Raja Sri Kesari Warmadewa diganti oleh Sang Ratu Sri Ugrasena. Raja Ugrasena mengeluarkan prasasti-prasastinya tahun 837-864 Saka (915-942). Masa pemerintahan raja ini hampir sezaman dengan masa pemerintahan Pu Sindok di Jawa Timur (Goris, 1948 : 5). Ada sebelas prasasti, semuanya berbahasa Bali Kuno, dikeluarkan oleh raja Ugrasena, yakni prasasti-prasasti Banjar Kayang (837 Saka), prasasti Les, Pura Bale Agung (837 Saka), Babahan I (839 Saka), Sembiran AI (844 Saka), Pengotan AI (846 Saka), Batunya AI (855 Ska), Dausa, Pura Bukit Indrakila AI (857 Saka), Serai AI (858 Saka), Dausa, Pura Bukit Indrakila BI (864 Saka), prasasti Tamblingan Pura Endek I (-), dan Gobleg, Pura Batur A (Goris, 1954a : 8-11 ; 63-72).&lt;br /&gt;Berdasarkan prasasti-prasasti itu dapat diketahui sejumlah kebijakan penting dilakukan oleh raja Ugrasena. Beberapa di antaranya dikemukakan berikut ini. Keringanan dalam pembayaran pajak diberikan kepada desa Sadungan dan Julah, karena desa itu belum pulih benar dari kerusakan akibat diserang perampok. Dengan alasan sama, bahkan desa Kundungan dan Silihan dibebaskan dari kewajiban bergotong royong untuk raja. Selain itu, raja juga berkenan menyelesaikan perselisihan antara para wajib pajak di wilayah perburuan dengan pegawai pemungut pajak, yakni dengan menetapkan kembali secara jelas jenis dan besar pajak yang mesti dibayar oleh penduduk (Goris, 1954a : 63-68 ; 70-71).&lt;br /&gt;Berkaitan erat dengan aspek kehidupan beragama, Raja Ugrasena memberikan izin kepada penduduk desa Haran dan Parcanigayan untuk memperluas pasanggrahan dan bangunan suci Hyang Api yang terletak di desanya masing-masing. Keberadaan penduduk desa Tamblingan sebagai jumpung Waisnawa ”sekte (?) Waisnawa”, serta kaitannya dengan bangunan suci Hyang Tahinuni, juga mendapat perhatian raja. Prasasti Gobleg, Pura Batur A yang memuat hal itu teksnya tidak lengkap sehingga rincian ketetapan mengenai sekte tersebut tidak sepenuhnya dapat diketahui (Goris, 1954a : 68-72).&lt;br /&gt;Dapat ditambahkan bahwa pada tahun 839 Saka (917), sebagaimana tercatat dalam prasasti Babahan I yang tersimpan di desa Babahan (Tabanan), raja Ugrasena mengadakan perjalanan ke Buwunan (sekarang Bubunan) dan ke Songan 10. Dalam kunjungan itu, raja memberikan izin kepada kakek (pitamaha), di Buwunan dan di Songan melaksanakan upacara bagi orang yang mati secara tidak wajar, jika saatnya telah tiba. Baginda juga menetapkan batas-batas wilayah pertapaan yang terletak di bagian puncak bukit Pttung.&lt;br /&gt;Setelah mangkat, diduga Ugrasena dicandikan di Air Madatu dan dikenal dengan sebutan sang ratu siddha dewata sang lumah di air madatu (cf. Goris, 1954b : 211). Epitet ini terbaca dalam prasasti Raja Tabanendra Warmadewa yang ditemukan di desa Kintamani. Dalam prasasti itu dikatakan bahwa raja Tabanendra, bersama-sama dengan permaisurinya, menyuruh sejumlah tokoh agar memugar atau memperluas pasanggarahan di Air Mih yang dibangun pada masa pemerintahan raja dengan epitet tersebut di atas (Goris, 1954a : 76).&lt;br /&gt;Jika epitet itu memang benar untuk Raja Ugrasena setelah mangkat, maka tindakan raja dan permaisurinya tersebut di atas menunjukkan betapa hormatnya mereka kepada Ugrasena. Lebih lanjut, hal itu dapat digunakan sebagai dasar pendapat yang menyatakan bahwa walaupun Sang Ratu Sri Ugrasena tidak secara eksplisit menggunakan bagian gelar warmadewa, baginda pun tergolong anggota dinasti Warmadewa.&lt;br /&gt;• Bali Tahun 955-1343&lt;br /&gt;Pada periode ini diketahui sejumlah raja yang pernah memerintah Bali, tetapi belum ditemukan nama ibu kota yang menjadi pusat pemerintahannya. Raja pertama pada periode ini adalah Sang Ratu Sri Haji Tabanendra Warmadewa yang memerintah bersama-sama dengan permaisurinya, yaitu Sri Subhadrika Dharmadewi, tahun 877-889 Saka (955-967) Mereka menggantikan raja Ugrasena.&lt;br /&gt;Ada empat prasasti yang memuat pasangan gelar suami-istri itu, yakni prasasti-prasasti Manik Liu AI (877 Saka), Manik Liu BI (877 Saka), Manik Liu C (877 Saka), dan Kintamani A (899 Saka) 11. Keempat prassati itu tidak lengkap. Tiga yang pertama, selain ditemukan di tempat yang sama juga berkenaan dengan masalah pokok yang sama, yaitu pemberian izin oleh raja kepada Samgat Juru Mangjahit Kajang, dan anak bandut yang berdiam di desa Pakuwwan dan Talun (Goris, 1954a : 74-75). Mereka dibebaskan dari tugas bergotong royong dan pelbagai pajak, kecuali pajak rot. Isi pokok prasasti Kintamani A, yang menurut Goris berkaitan dengan prasasti Kintamani B, telah disinggung di depan, yakni berkenaan dengan perintah Raja Tabanendra Warmadewa kepada sejumlah tokoh agar menangani pemnugaran pesanggarahan di Air Mih. Dalam Prasasti Kintamani B disebutkan pula bahwa pasanggrahan di Dharmarupa merupakan cabang pasanggrahan di Air Mih (Goris, 1954a : 77).&lt;br /&gt;Raja berikutnya adalah Jayasingha Warmadewa. Raja ini dapat diketahui dari sebuah prasasti, yaitu prasasti Manukaya (882 Saka) (Stutterheim, 1929 : 68-69 ; Goris 1954a : 75-76 ; Damais, 1955 : 224-225). Dalam prasasti itu dimuat perintah raja untuk memugar Tirtha di (Air) Mpul (sekarang Tirtha Empul di Tampaksiring) yang setiap tahun mengalami kerusakan akibat derasnya aliran air. Setelah pemugaran itu, diharapkan kedua telaga yang ada menjadi kuat dan bertahan lama.&lt;br /&gt;Hal yang menarik perhatian ialah ternyata prasasti Manukaya terbit pada masa pemerintahan Tabanendra Warmadewa bersama permaisurinya. Masalah ini belum dapat dijelaskan dengan bukti-bukti yang akurat. Berkenaan dengan hal itu, L.C. Damais menegaskan bahwa pembacaan angka tahun 882 Saka sudah benar (Goris, 1965 : 180). Untuk sementara, yang dapat dikemukakan di sini ialah terbitnya “prasasti sisipan” itu tampaknya berlangsung dalam suasana damai, dalam arti tidak dilatarbelakangi oleh sifat permusuhan, peristiwa kudeta, atau semacamnya. Dugaan itu dikemukakan karena belum terdapat petunjuk adanya perselisihan internal di antara anggota dinasti yang telah berkuasa.&lt;br /&gt;Pada tahun 897 Saka muncul raja yang bergelar Sang Ratu Sri Janasadhu Warmadewa. Gelar ini terbaca dalam prasasti Sembiran AII (897 Saka) (Brandes, 1889 : 46-48 ; Goris, 1954a : 77-79 ; Damais, 1955 : 226). Itulah satu-satunya prasasti atas nama baginda. Prasasti tersebut kembali mengenai desa Julah kuno. Menurut prasasti itu, penduduk Julah yang kembali dari pengungsiannya diizinkan memperbaharui isi prasastinya. Selanjutnya, ketentuan dalam prasasti itu harus dipatuhi dan jangan diubah-ubah lagi. Dalam prasasti itu antara lain ditetapkan bahwa jika ada kuil, pekuburan, pancuran, permandian, prasada, dan jalan raya di wilayah itu mengalami kerusakan, supaya diperbaiki serta dibiayai secara bergilir oleh penduduk desa Julah, Indrapura, Buwundalm, dan Hiliran. Jika pertapaan di Dharmakuta diserang oleh perampok, supaya seluruh penduduk Julah keluar rumah lengkap dengan senjata untuk menolong pertapaan itu (kapwa ta ya turun tangga saha sanjata, tulungen to patapan di dharmakuta) (Goris, 1954a : 78-79).&lt;br /&gt;Raja Janasadhu Warmadewa diganti oleh Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi Satu-satunya prasasti sebagai sumber sejarah ratu ini adalah prasasti Gobleg, Pura Desa II (905 Saka) (Goris, 1954a : 79-80 ; Damais, 1955 : 226-227). Ratu ini memberi izin kepada penduduk desa Air Tabar, yang merupakan pamong kuil Indrapura di Bukittunggal di wilayah desa Air Tabar, untuk memperbaharui prasastinya (mabharin pandaksayan na).&lt;br /&gt;Ratu ini tidak menggunakan identitas dinasti Warmadewa. Keadaan ini mengundang timbulnya sejumlah pendapat. Berdasarkan terpakainya kata Sri Wijaya dalam gelar sang ratu, P.V. van Stein Callenfels (1924 : 30) berpendapat bahwa kemungkinan ratu itu berasal dari kerajaan Sriwijaya di Sumatra. Dengan kata lain, hal itu menunjukkan adanya perluasan kekuasaan Sriwijaya ke Bali. Pada mulanya, Goris menyetujui pendapat itu.&lt;br /&gt;Pada tahun 1950, dalam artikelnya yang berjudul ”De Stamboom van Erlangga”, J.L. Moens menghubungkan ratu itu dengan kerajaan Jawa Timur (1950 : 138). Damais secara lebih tegas mengemukakan bahwa ratu itu adalah putri Pu Sindok yang bernama Sri Isana Tunggawijaya.12 Pendapatnya itu didasarkan pada adanya jabatan-jabatan wadihati, makudur, dan pangkaja yang disebutkan dalam prasasti ratu itu, di samping sejumlah jabatan tinggi yang telah lazim di Bali. Ketiga jabatan itu adalah khas Jawa (1952 : 85-86 ; 1955 : 227).&lt;br /&gt;Ratu Sri Wijaya Mahadewi diduga mangkat pada tahun 911 Saka (989). Tampuk pemerintahan di Bali kemudian dipegang oleh pasangan Sri Gunapriyadharmapatni dan Sri Dharmodayana Warmadewa.&lt;br /&gt;Dalam prasasti Pucangan dikatakan bahwa Gunapriyadharmapatni, yang semula bernama Mahendradatta, adalah putri Sri Makutawangsawardhana, cucu perempuan pasangan Sri Isana Tunggawijaya dan Sri Lokapala, atau cicit Pu Sindok. Mahendradatta kemudian nikah dengannya adalah Udayana, seorang pangeran yang lahir dari keluarga raja (dinasti) yang masyhur. Dari pasangan itu lahirlah Erlangga atau Airlangga (Kern, 1917 : 93). Berdasarkan keterangan itu, dapat diketahui bahwa Mahendradatta adalah seorang putri berasal dari Jawa Timur, keturunan dinasti Isana. Jika dikaitkan dengan keterangan dalam prasasti-prasasti Bali tahun 911-923 Saka yang menyatakan bahwa Sri Gunapriyadarmapatni memerintah bersama-sama dengan suaminya, yaitu Sri Dharmadoyana Warmadewa, maka dapat diketahui bahwa tokoh terakhir inilah yang dimaksud dengan Udayana dalam prasasti Pucangan. Lebih lanjut, yang dimaksud dengan dinasti termasyhur dalam prasasti itu adalah dinasti Warmadewa. Kendati demikian, masih ada sejumlah pendapat mengenai asal-usul Udayana.&lt;br /&gt;Menurut F.D.K. Bosch,, Udayana adalah anak seorang putri Campa atau Kamboja. Kekacauan yang terjadi di negeri itu, sekitar tahun 970, menyebabkan sang putri yang dalam keadaan hamil itu melarikan diri ke Jawa dan melahirkan putranya di sana. Putranya itu adalah Udayana yang kemudian menikah dengan Mahendradatta (1984 : 554-556 ; 1961 : 96-97). Moens tidak setuju dengan hipotesis Bosch itu. Dalam artikelnya ”De Stamboom van Erlangga”yang terbit pada tahun 1950, Moens antara lain mengemukakan bahwa ada dua tokoh historis Udayana. Pertama, Udayana yang lahir sebagai akibat hubungan inses antara Isana (Sindok) dengan putri kandungnya (selanjutnya disebut Udayana I). Kedua, Udayana yanng merupakan putra Udayana I sebagai hasil pernikahannya dengan Ratnawati (selanjutnya disebut Udayana II). Udayana I tetap hidup di Jawa Timur dan setelah mangkat, pada tahu 899 Saka dicandikan di Jalatunda. Udayana II dinikahkan dengan Mahendradatta. Pasangan ini kemudian dinobatkan sebagai pemegang tampuk pemerintahan di Bali. Moens juga mengemukakan bahwa Mahendradatta sesungguhnya menikah dua kali, pertama kali dengan Dharmawangsa Teguh di Jawa Timur, melahirkan Airlangga, dan kedua kalinya dengan Udayana II (1950 : 124). Pada dasarnya, Goris menyetujui pendapat Moens tentang adanya dua tokoh Udayana, tetapi beliau menambahkan bahwa Airlangga dilahirkan di Bali pada tahun 913 Saka (991) sebagai hasil, pernikahan Mahendradatta dengan Udayana yang memerintah di Bali (1948 : 7 ; 1957 : 19).&lt;br /&gt;Pendapat Bosch dan Moens di atas perlu ditinjau kembali. Tadi telah disinggung bahwa dalam prasasti Pucangan, Mahendradatta dikatakan menikah dengan Udayana, seorang pangeran dari dinasti termasyhur. Tidak perlu disangsikan lagi bahwa yang dimaksud dengan Udayana itu adalah Sri Dharmodayana Warmadewa. Lagi pula, seperti telah diketahui, dinasti Warmadewa memang telah berkuasa di Bali sejak jauh sebelum Sri Dharmodayana Warmadewa, yaitu sejak tahun 835 Saka (914) dengan Sri Kesari Warmadewa sebagai cikal bakalnya. Berdasarkan kenyataan itu, mudah dipahami bahwa penulis prasasti tidak perlu menegaskan kedinastian serta daerah asal Udayana yang memang sudah sangat dikenal pada waktu itu. Sebaliknya, sangat sukar dipahami bahwa seorang asing yang merupakan putra seorang pelarian, dapat diterima dengan mudah dalam jajaran anggota suatu dinasti, dalam hal ini dinasti Warmadewa. Lagi pula, penerimaan tanpa reaksi aktif dari anggota dinasti tersebut, khususnya dari putra mahkota yang mempunyai hak sah atas takhta dan mahkota kerajaan Bali adalah hal yang mustahil.&lt;br /&gt;Pertimbangan-pertimbangan di atas, begitu pula keterangan-keterangan dalam prasasti Pucangan dan sejumlah prasasti Bali yang dikemukakan sebelumnya, dapat berfungsi sebagai landasan kuat bagi pendapat yang menyatakan bahwa Udayana, suami Gunapriyadharmapatni, adalah seorang putra Bali dari dinasti Warmadewa. Pendapat ini sesuai dengan pendapat Krom (1956 : 119) yang dikemukakan jauh sebelum muncul pendapat Bosch dan Moens.&lt;br /&gt;Telah dikatakan bahwa praasti-prasasti pasangan ”suami-istri” itu terbit tahun 911-923 Saka (989-1001). Prasasti-prasasti itu adalah prasasti Bebetin AI (911 Saka), Serai AII (915 Saka), Buwahan A (916 Saka), Sading A (923 Saka) dan prasasti Tamblingan Pura Endek II (Goris, 1954a : 80-88).&lt;br /&gt;Prasasti Bebetin A berkenaan dengan desa (banwa) Bharu. Dikatakan bahwa desa itu, yang telah disebutkan dalam prasasti Bebetin A (818 Saka), kembali mengalami perampokan sehingga kondisi sosial ekonominya menjadi sangat lemah. Pasangan suami-istri itu pun memberikan keringanan dalam sejumlah kewajiban kepada desa tersebut. Keringanan semacam itu diberikan juga kepada penduduk di daerah perburuan (anak mabwatthaji di buru). Hal itu dapat diketahui dari prasasti Serai AII.&lt;br /&gt;Isi prasasti Buwahan A sangat menarik perhatian. Pada intinya, prasasti itu memuat izin pasangan Gunapryadharmapatni dan Udayana kepada desa Bwahan yang terletak di pesisir Danau Batur untuk lepas dari desa induknya, yakni Kdisan. Desa Bwahan, yang tampaknya semakin berkembang, diizinkan berpemerintahan sendiri (sutantra i kawakannya). Segala kewajiban supaya dilaksanakan sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;Dalam prasasti Sading A dibicarakan tentang desa Bantiran. Dalam prasasti itu dikatakan bahwa banyak penduduk desa itu terpaksa meninggalkan rumah. Hal itu disebabkan oleh tamu-tamu yang datang ke desa itu berlaku tidak sopan dan menimbulkan kekacauan. Setelah keadaan aman, penduduk desa Bantiran disuruh kembali ke desanya. Hak dan kewajibannya diatur dan mereka diizinkan membuka lahan untuk memperluas sawah ladangnya.&lt;br /&gt;Pada tahun 933 Saka terbit sebuah prasasti atas nama Udayana sendiri, tanpa permaisurinya, yakni prasasti Batur, Pura Abang A (Goris, 1954a : 88-94 ; Damais, 1955 : 185). Rupanya Gunapriyadharmapatni mangkat tidak lama sebelum tahun 933 Saka. Prasasti ini diberikan kepada desa Air Hawang (sekarang desa Abang) yang terletak di pesisir Danau Batur. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa pada tahun 933 Saka wakil-wakil desa Air Hawang menghadap raja Udayana dengan perantaraan pejabat Rakryan Asba, yaitu Dyah Manjak. Mereka menyampaikan bahwa karena kelemahan kondisi desanya, penduduk tidak mampu memenuhi pembayaran pajak-pajak serta cukai-cukai tertentu dan tidak dapat ikut bergotong royong atau kerja bakti untuk raja. Lebih lanjut, mereka memohon pengurangan atau keringanan dalam menunaikan kewajiban-kewajiban tersebut.&lt;br /&gt;Untuk memeriksa keadaan sebenarnya di lapangan (baca : di desa Air Hawang), raja mengutus Dang Acarya Bajantika, Dang Acarya Nisita, Dang Acarya Bhacandra dan Senapati Kuturan, yaitu Dyak Kayop ke desa itu. Hasil temuannya kemudian didiskusikan, dibahas, atau dianalisis dalam sidang paripurna para pejabat tinggi kerajaan, bahkan tidak sekali dua kali, tetapi lebih dari itu. Setelah segala sesuatunya dipertimbangkan, akhirnya raja menyetujui permohonan wakil-wakil penduduk desa itu. Bagian teks prasasti mengenai proses persidangan itu berbunyi :&lt;br /&gt;“...tuwulwi ta sira kabaih mapupul, malapkna kinabehan, tan pingsan pingrwa, winantah winalik blah, hana pwantuk ning malapkna, an kasinggihan sapanghyang nikang anak thani, ...” (Goris, 1954a : 89).&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;“... kemudian beliau sekalian berkumpul, bersidanng bersama-sama, tidak sekali dua kali, diperdebatkan dan dibahas, maka tercapailah hasil persidangan, yakni dipenuhinya hal-hal yang menjadi permohonan penduduk desa itu, ...”&lt;br /&gt;Selain prasasti-prasasti yang telah disebutkan, masih ada lima buah prasasti singkat (short inscription) yang terbit atau diduga terbit sebelum Udayana turun taktha, yaitu prasasti-prasasti Besakih, Pura Batumadeg (nomor lama 908), Ujung Pura Dalem (nomor lama 357) berangka tahun 932 Saka, Gunung Penulisan A (933 Saka), Gunung Penulisan B, dan Sangsit B (nomor lama 437) berangka tahun 933 Saka (Goris, 1954a : 46, 94, 105-107 ; Damais, 1955 : 229).&lt;br /&gt;Prasasti Besakih, Pura Batu Madeg sesunguhnya berangka tahun 1393 Saka tetapi di dalamnya disebutkan sebuah prasasti lebih tua yang memakai candra sangkala nawasanga-apit-lawang (929 Saka). Prasasti bertahun 929 Saka itulah yang terbit pada masa pemerintahan Gunapriyadharmapatni dan Udayana. Penduduk setempat menyebut prasasti itu Mpu Bradah, yakni sebutan untuk tokoh Mpu Baradah yang terkenal dalam cerita Calon Arang (Goris, 1965 : 23 ; cf. Poerbatjaraka, 1926 : 115-145).&lt;br /&gt;Sekarang timbul pertanyaan, mengapa prasasti itu disebut Mpu Bradah? Mengenai hal ini, Goris berpendapat bahwa pada tahun 929 Saka Mpu Baradah mengunjungi Bali untuk pertama kali.13 Kunjungan itu mungkin dalam kaitan dengan (1) kelahiran Marakata, (2) kelahiran Anak Wungsu, atau kemangkatan Gunapriyadharmapatni. Goris cenderung berpendapat bahwa Gunapriyadharmapatni mangkat ketika melahirkan putra bungsunya yaitu Anak Wungsu sehingga kedatangan Mpu Baradah ke Bali pada tahun 929 Saka betul-betul mengenai urusan yang sangat penting (Goris, 1957 : 20). Setelah mangkat, Gunapriyadharmapatni dicandikan di Burwan, dan Udayana yang diduga mangkat tidak lama setelah tahun 933 Saka dicandikan di Banu Wka.&lt;br /&gt;Mereka diganti oleh Ratu Sri Ajnadewi yang mengeluarkan prasasti Sembiran AIII pada tahun 938 Saka (Brandes, 1889 : 48-49 ; Damais, 1955 : 229-230). Sampai kini belum terdapat petunjuk jelas mengenai hubungan ratu ini dengan pendahulunya, begitu pula hubungannya dengan tokoh lain. Dalam mengupayakan penjelasannya, akan dilihat kembali bagian berbahasa Jawa Kuno pada prasasti Pucangan. Dari bagian itu diketahui bahwa pada tahun 938 Saka (1016) kerajaan yang diperintah Dharmawangsa Teguh di Jawa Timur diserang oleh raja Wurawari sehingga mengalami malapetaka mahahebat (pralaya). Serangan itu bertepatan dengan saat diselenggarakan upacara pernikahan Airlangga dengan putri Dharmawangsa Teguh. Dikatakan lebih lanjut bahwa Jawa pada waktu itu bagaikan lautan api dan banyak orang terkemuka gugur dalam peristiwa tersebut. Airlangga, yang berumur 16 tahun, dapat menyelamatkan diri dengan lari ke hutan diiringi pengikutnya yang sangat setia, yaitu Narottama (Sumadio dkk., 1990 : 173).&lt;br /&gt;Tahun pralaya itu ternyata bertepatan dengan munculnya Ratu Sri Sang Ajnadewi sebagai pemegang tampuk pemerintahan di Bali. Berdasarkan kenyataan ini, dapat dikembangkan uraian hipotetik sebagai berikut. Mudah dipahami bahwa ketika dilangsungkan upacara pernikahan Airlangga dengan putri Dharmawangsa Teguh, Udayana sebagai seorang ayah, yakni ayah Airlangga, hadir di keraton Jawa Timur. Bahkan mustahil baginda ikut gugur dalam peristiwa pralaya yang telah disebutkan, dan hal itu sekaligus mengakibatkan taktha kerajaan Bali lowong secara tiba-tiba. Putra mahkota Bali pada waktu itu, yaitu Marakata, kemungkinan masih terlalu muda untuk dinobatkan sebagai raja. Pendapat itu didasarkan atas pertimbangan bahwa jika Airlangga pada tahun 1016 baru berumur 16 tahun, maka Marakata sebagai adiknya, setua-tuanya baru berumur 15 tahun, bahkan kenyataannya boleh jadi lebih muda dari itu.&lt;br /&gt;Untuk memecahkan masalah lowongnya takhta kerajaan Bali, keluarga istana rupanya sepakat mengangkat seorang wali, yaitu Ratu Sri Sang Ajnadewi. Perwalian itu berlangsung sampai tidak lama sebelum Marakata mengeluarkan prasasti yang pertama pada tahun 944 Saka (1022). Apakah wali itu berasal dari Jawa Timur ataukah keluarga istana Bali? Memang dapat dipahami, jika wali itu berasal dari dan diangkat oleh keluarga istana Jawa Timur, namun kemungkinan itu sangat kecil. Kemungkinan itu dikatakan demikian karena mudah pula dipahami bahwa kondisi kerajaan di Jawa Timur pada waktu itu masih sangat lemah, situasinya masih sangat kacau, bahkan mungkin masih dalam suasana berkabung. Jika dugaan itu benar, maka kemungkinan lain yang dapat dikemukakan ialah Sri Sang Ajnadewi adalah anggota dinasti yang sedang berkuasa di Bali. Mungkin bibi Marakata atau tokoh lain yang memang pantas menduduki posisi sebagai wali.&lt;br /&gt;Prasasti Sembiran A III yang dikeluarkan oleh ratu itu kembali mengenai desa Julah. Dikatakan bahwa desa ini diserang lagi oleh penjahat. Banyak penduduk mati, ditawan musuh, atau mengungsi ke desa lain. Penduduk semula sebanyak 300 kepala keluarga, tersisa hanya 50 kepala keluarga. Oleh karena itu, sang ratu pun memberikan keringanan kepada mereka dalam hal kerja gotong royong dan pembayaran beberapa jenis drwyahaji. Kewajiban mereka dalam kaitan dengan bangunan sakral di Dharmakuta pun dikurangi pula (Goris, 1954a : 95). Dapat ditambahkan bahwa secara harfiah drwyahaji berarti “milik raja”(Zoetmulder, 1982a : 416). Akan tetapi, menurut konteksnya istilah itu bermakna pendapatan kerajaan yang berasal dari pajak, cukai, denda, iuran, dan sebagainya, yang kemudian digunakan untuk membiayai berbagai pengeluaran kerajaan.&lt;br /&gt;Telah dikatakan bahwa Marakata, gelar lengkapnya Paduka Haji Sri Dharmawangsawardhana Marakatapangkajasthanottunggadewa, mengeluarkan prasastinya yang pertama yakni prasasti Batuan, pada tahun 944 Saka. Prasasti-prasasti lain yang memuat gelar raja itu ialah prasasti Sawan A I = Bila I (nomor lama 353) yang berangka tahun 945 Saka, Tengkulak A (945 Saka), dan Bwahan B (947 Saka)14.&lt;br /&gt;Prasasti pertama diberikan kepada penduduk desa Baturan (sekarang Batuan di Kabupaten Gianyar). Wakil-wakil desa itu menghadap raja serta menyampaikan bahwa semenjak masa pemerintahan raja almarhum yang dicandikan di Er Wka (yang dimaksud adalah Udayana), penduduk desa Baturan ditugasi memelihara kebun raja di Er Paku dan kuil di desa Baturan. Raja Marakata memaklumi betapa beratnya tugas-tugas itu, maka sebagai imbalannya, penduduk pun dibebaskan dari pajak-pajak tertentu dan diizinkan lepas dari desa Sukhawati (sekarang Sukawati).&lt;br /&gt;Isi pokok prasasti Sawan A I pada dasarnya sama dengan isi pokok prasasti Batuan, yang permohonan penduduk mengenai pengurangan beban drwyahaji dan tugas bergotong royong. Permohonan itu diajukan wakil-wakil desa Bila karena merasa cukup berat memenuhi kewajiban-kewajiban semula sebagai akibat warganya berkurang secara drastis, yakni dari semula 50 kepala keluarga menjadi hanya 10 kepala keluarga. Permohonan itu disetujui oleh raja Marakata. Prasasti Sawan A I juga memuat ketetapan tentang pembagian harta warisan, perbuatan-perbuatan yang tidak boleh dilakukan oleh pegawai kerajaan yang berkunjung ke desa Bila, dan kewajiban penduduk bagi pegawai itu.&lt;br /&gt;Prasasti Tengkulak A menyatakan bahwa pada tahun 945 Saka, wakil-wakil desa Songan Tambahan menyampaikan kepada raja Marakata bahwa sejak masa pemerintahan Gunapriyadharmapatni dan Udayana Warmadewa, mereka ditugasi menyelenggarakan atau memelihara katyagan (asrama pendeta) Amarawati di tepi sungai Pakrisan. Sejak titah turun, penduduk desa itu belum pernah diberikan prasasti yang memuat rincian kewajiban serta hak mereka. Supaya segala sesuatunya menjadi jelas, sehingga mereka dapat meneruskan pengabdian kepada raja dan ratu almarhum, begitu pula kepada raja yang tengah memerintah, maka mereka memohon kepada Raja Marakata agar berkenaan menganugerahkan prasasti kepada mereka. Raja pun memenuhi permohonan itu. Dalam prasasti itu ditegaskan bahwa penduduk supaya tetap melaksanakan tugas-tugasnya sebagaimana sediakala (magehakna sapurbwastitinya nguni) (Ginarsa, 1961 : 5).&lt;br /&gt;Berdasarkan prasasti Buwahan B (947 Saka) dapat diketahui bahwa penduduk desa Bwahan kekurangan lahan tempat menggembalakan ternak dan mencari kayu api. Wakil-wakil desa itu memohon agar diizinkan membeli sebidang hutan dekat desanya, yang semula digunakan sebagai tempat berburu oleh raja. Dikatakan bahwa raja mengabulkan permohonan tersebut. Lebih lanjut ditegaskan, agar Nayakan Buru (pejabat yang mengurusi masalah perburuan) tidak mengganggu gugat kegiatan penduduk di wilayah yang telah dibeli itu.&lt;br /&gt;Masih ada sejumlah prasasti singkat yang terbit pada masa pemerintahan raja Marakata, yaitu prasasti-prasasti Kesian, Pura Sibi I (945 Saka), Kesian, Pura Sibi II (948 Saka), Kesian Pura Sibi III (948 Saka), Kesian, Pura Sibi IV dan Bangli, Pura Kehen B (nomor semula 356) tanpa angka tahun.15 Oleh karena data historis dalam masing-masing prasasti itu relatif kurang berarti bagi penggambaran aktivitas atau kebijakan raja Marakata maka pembicaraan prasasti-prasasti itu tidak diperpanjang di sini.&lt;br /&gt;Dalam gelar Marakata yang telah disebutkan di depan, tidak terdapat unsur warmadewa tetapi ada unsur dharmawangsa yang mengingatkan kepada tokoh Dharmawangsa Teguh di Jawa Timur. Berdasarkan kenyataan itu, apakah berarti Marakata tidak termasuk anggota dinasti Warmadewa? Keraguan itu menjadi hilang dengan adanya keterangan dalam prasasti Tengkulak A. Dalam prasasti itu dikatakan bahwa Marakata adalah putra raja Almarhum yang dicandikan di Air Wka (yakni Sri Dharmodayana Warmadewa). Keterangan itu juga berarti bahwa Marakata tergolong anggota dinasti Warmadewa. Bagian teks prasasti mengenai hal itu berbunyi :&lt;br /&gt;“... mangkai pwan menget ikanag karaman i songan tambahan sapanambahan, an wka haji dewata sang lumah ring air wka sajalu stri, prasiddha kumalilirig kulit kaki, siniwi ring desa banten molih tekang karaman maprarthana ri bhatara, yata hetunya papulung rahi manambah i paduka haji, umajaraken sakramanya nguni mwang pagehnyanugraha haji dewata, ... (Ib.5-IÏa.2)” (Ginarsa, 1961 : 4).&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;”... kini ingatlah para tetua desa Songan Tambahan yang terikat dalam satu kesatuan pemujaan, bahwa putra raja almarhum yang icandikan di Air Wka beserta permaisurinya, telah berhasil mewarisi (takhta kerajaan) dari garis keturunan, laki-laki, dimuliakan di wilayah Banten (Bali). Supaya mereka dapat melanjutkan pengabdian kepada betara (di Air Wka) maka mereka bersama-sama menghadap paduka raja, mempermaklumkan segala sesuatu yang mereka laksanakan pada masa-masa lalu, dalam upaya mengukuhkan anugrah (baca : titah) raja yang telah almarhum,...”&lt;br /&gt;Kutipan di atas menunjukkan bahwa menurut garis keturunan dari pihak ayah, Marakata termasuk dinasti Warmadewa. Akan tetapi, kenyataannya unsur warmadewa tidak digunakan dalam gelar raja itu. Sebaliknya dalam gelar itu terdapat unsur dharmawangsa, yang sebagaimana telah dikatakan, mengingatkan kepada tokoh Dharmawangsa Teguh di Jawa Timur. Keadaan demikian dapat dipahami, jika diingat bahwa ibu suri Marakata, yakni Gunariyadharmapatni adalah putri Jawa Timur. Bukan mustahil Gunariyadharmapatni bersaudara kandung dengan Dharmawangsa Teguh, atau paling tidak berkerabat dekat. Unsur dharma yang terdapat dalam nama masing-masing tokoh itu dapat digunakan sebagai faktor penunjang pendapat di atas.&lt;br /&gt;Dalam menanggapi gelar Marakata yang tanpa unsur warmadewa, lebih jauh dapat dikemukakan bahwa hal itu tidak mesti dipandang sebagai bukti bahwa Marakata mengingkari dirinya termasuk dinasti Warmadewa. Sebagai putra Udayana, tentu baginda menyadari kedudukannya dalam dinasti itu. Penggunaan unsur dharmawangsa dalam gelarnya, agaknya hanya masalah pilihan belaka.&lt;br /&gt;Raja Marakata diganti oleh adiknya, yaitu Anak Wungsu yang memerintah tahun 971-999 Saka (1049-1077). Gelarnya sebagai raja, begitu pula nama kecil tokoh ini sesungguhnya tidak diketahui secara pasti, kecuali hendak diyakini bahwa Anak Wungsu juga merupakan nama kecil tokoh itu. Secara harfiah anak wungsu berarti ”anak bungsu”, jadi hanya menyatakan urutan kelahiran belaka. Dalam hal ini, tokoh itu adalah anak bungsu suami-istri Udayana dan Gunapriyadharmapatni. Pernyataan mengenai hal tersebut terbaca dalam sejumlah prasasti yang dikeluarkan oleh Anak Wungsu. Dalam prasasti Pandak Bandung (933 Saka) misalnya, terbaca bagian yang berbunyi ”... ”paduka haji, anak wungsunirakalih bhatari lumah i burwan, bhatara lumah i banu wka, ...”(Stein Callenfels, 1926 : 14), yang artinya ”... paduka raja anak bungsu baginda berdua (suami-istri), yaitu ratu yang dicandikan di Burwan dan raja yang dicandikan di Banu Wka, ...”&lt;br /&gt;Dikaitkan dengan keterangan dalam prasasti Pucangan yang menyatakan bahwa Airlangga adalah putra suami-istri tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa suami-istri itu berputra tiga orang, yakni Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Hal ini juga berarti bahwa Airlangga dan Anak Wungsu, seperti halnya Marakata, termasuk dinasti Warmadewa pula.&lt;br /&gt;Raja Anak Wungsu memerintah Bali cukup lama, bahkan terlama di antara raja-raja pada zaman Bali Kuno, yakni selama tidak kurang dari 28 tahun. Ada 31 buah prasasti dikeluarkannya, atau yang dapat diidentifikasikan sebagai prasasti-prasasti yang terbit pada masa pemerintahannya. Sembilan belas di antara prasasti-prasasti itu memuat ”gelar” seperti disebutkan, yang lainnya tanpa muatan ”gelar” , baik karena prasasti yang bersangkutan tidak lengkap atau karena tergolong prasasti singkat. Masa pemerintahannya yang lama serta prasasti yang dikeluarkan cukup banyak dapat digunakan sebagai petunjuk bahwa raja itu memerintah dengan bijaksana dan kerajaan dalam keadaan stabil. Dugaan itu ditunjang pula oleh sejumlah ungkapan yang terbaca dalam prasasti, yang pada intinya menyatakan kepekaan serta kearifan Anak Wungsu dalam melaksanakan pemerintahan.&lt;br /&gt;Dalam beberapa prasasti dikatakan bahwa Anak Wungsu adalah raja yang penuh belas kasihan (gong karunya pwa pinaka swabhawa paduka haji) dan selalu memikirkan kesempurnaan serta kemakmuran kerajaan yang diperintah atau dilindunginya (nityasa kumingking sakaripurnnakna nikanang rat rinaksanira atau nityasa kumingking ... subhiksa nikang rat rinaksanira). Oleh karena Anak Wugsu sangat menjunjung tinggi serta mengagungkan ajaran agama atai kebajikan (sangka ri kadharmestan paduka haji) maka baginda diibaratkan sebagai penjelmaan dharma (kebajikan) (saksat dharmam urti/saksat dharmatmajam urti/tuhutuhu dharmam urti) yang senantiasa memikirkan kesempurnaan atau terpeliharanya bangunan-bangunan suci keagamaan (nityasa kumingking sakaripurnnakna sang hyang sarbwa dharma) (cf.Sumadio dkk., 1990 : 301-302). Dapat dimengerti bahwa ungkapan-ungkapan itu mungkin bersifat hiperbolis, namun unsur kebenaran yang terkandung di dalamnya, yakni bagian yang bersifat realistis, patut mendapat perhatian yang wajar.&lt;br /&gt;Telah dikatakan bahwa ada 31 buah prasasti berasal dari masa pemerintahan Raja Anak Wungsu. Jika isi pokok prasasti-prasasti itu diulas satu per satu, walaupun secara ringkas, maka akan menghasilkan uraian panjang yang dalam beberapa hal dapat bersifat pengulangan. Untuk menghindari hal itu, di bawah ini disajikan klasifikasi prasasti-prasasti itu berdasarkan sambandha-nya atau alasan yang melatarbelakangi dikeluarkannya prasasti yang bersangkutan. Ada enam alasan yang telah diketahui, yakni sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Adanya permohonan penduduk, dengan perantara wakil-wakilnya, agar prasasti semula yang berupa ripta 16 diubah menjadi prasasti tembaga (tampraprasasti). Permohonan demikian berasal dari wakil-wakil penduduk desa (karaman) Turunan, Cintamani, Batwan, Pa (r) canigayan, Julah, para wajib pajak (anak mabwathaji), di Silihan dan Landungan, warga desa yang bertugas menjahit pakaian (mangjahit kajang) di Buyan, Anggas, serta Taryungan, dan wakil-wakil penduduk desa Bila.17&lt;br /&gt;2. Adanya permohonan membuka lahan baru untuk dijadikan perdikan (sima). Permohonan semacam itu diajukan oleh wakil-wakil desa Lutungan, tokoh-tokoh pendiri (purusakara) subak Rawas, dan wakil-wakil desa Bwah.18&lt;br /&gt;3. Adanya pejabat memungut rwyahaji melebihi ketentuan yang tercantum dalam prasasti. Hal ini diketahui dari laporan wakil-wakil pajak di daerah perburuan. Dikatakan bahwa para pemimpin dalam bidang-bidang tertentu (nayaka) dan para pengawas (caksu paracaksu) melakukan pungutan melebihi ketentuan dalam prasasti yang dianugrahkan raja almarhum. Wakil-wakil penduduk memohon agar masalah itu diluruskan oleh Raja Anak Wungsu. 19&lt;br /&gt;4. Adanya permohonan agar ketetapan yang tercantum dalam prasasti semula ditambahi atau dilengkapi. Wakil-wkail penduduk desa Bharu (banwa Bharu) mengajukan permohonan ini dengan tujuan supaya kewajiban dan hak mereka menjadi lebih jelas.26&lt;br /&gt;5. Adanya permohonan agar penduduk dianugrahi prasasti sebagai pegangan pelaksanaan hak dan kewajiban. Penduduk desa (karaman) Sukhapura telah sejak lama dituasi menyelenggarakan sebuah kompleks percandian (sanghyang dharma), tetapi belum dianugrahi prasasti. Supaya tugas-tugas mereka jelas, maka mereka memohon agar Raja Anak Wungsu berkenaan mencantumkan dalam sebuah prasasti.27&lt;br /&gt;6. Adanya permohonan agar penduduk lazim menghaturkan bahan-bahan mentah untuk keperluan upacara dan menjamu pejabat atau petugas tertentu. Permohonan ini diajukan oleh wakil-wakil desa Gurguran karena mereka kekurangan tenaga untuk memasak bagi keperluan-keperluan tersebut di atas.22&lt;br /&gt;Dengan singkat dapat dikatakan bahwa semua permohonan tersebut di atas dikabulkan oleh Raja Anak Wungsu, setelah melalui tahapan pertimbangan serta pembahasan yang seksama. Dalam prasasti yang bersangkutan dicantumkan pula ketetapan mengenai berbagai aspek kehidupan, misalnya aspek sosial ekonomi, sosial budaya, dan keagamaan.&lt;br /&gt;Raja Anak Wungsu diganti oleh Sri Walaprabhu yang memerintah tahun 1001-1010 Saka ( 1078-1088). Gelar lengkap raja ini berbunyi Sri Maharaja Sri Walaprabhu, terbaca dalam prasasti Babahan II (nomor lama 501). Goris menduga Prasasti Ababi A (nomor lama 447) dan Klandis (nomor lama 448) adalah juga dikeluarkan oleh raja Walaprabhu (1954a : 26 ; 1965 : 33). Perlu diperhatikan bahwa raja-raja Bali Kuno, raja inilah yang pertama menggunakan gelar maharaja setelah ratu Sri Wijaya Mahadewi yang sudah dibicarakan di depan.&lt;br /&gt;Aktivitas pemerintahan raja ini dapat dikemukakan antara lain sebagai berikut.&lt;br /&gt;Dalam prasasti Klandis dinyatakan bahwa raja Walaprabhu mengizinkan desa Pakwan lepas dari desa Bangkala tetapi harus tetap menunaikan pembayaran drwyahaji sebagaimana sediakala. Betapa keagungan wibawa raja itu dapat diketahui dari ucapan-ucapan yang menggambarkan bahwa baginda bagaikan perwujudan dharma (kebajikan) yang melindungi dunia (saksat niran dharmmatmajam urti jagatpaloka), sebagai tempat rakyat berlindung (saranasraya ring praja), dan laksana satu-satunya payung yang meneduhi seluruh wilayah Pulau Bali (pinakekachatra ning balidwipamandala) (Tuuk dan Brandes, 1885 : 619-624).&lt;br /&gt;Prasasti Ababi A dianugerahkan kepada karaman i Hara Babi sedangkan prasasti Babahan II, seperti halnyan prasasti Babahan I, berkenaan dengan dharma i ptung. Kedua prasasti itu tidak lengkap sehingga data sejarah yang dapat diketahui sangat sedikit.&lt;br /&gt;Setelah Sri Walaprabhu, yang naik takhta kerajaan Bali adalah Paduka Sri Maharaja Sri Sakalendukirana Isana Gunadharma Laksmidhara Wijayotunggadewi. Gelar ini terbaca dalam prasasti-prasasti : Pengotan B I (1010 Saka), dan Pengotan B II (1023 Saka). 23&lt;br /&gt;Goris, dalam membahas gelar yang cukup panjang itu, mengemukakan hal-hal berikut.&lt;br /&gt;1. Indukirana = cahaya bulan purnama&lt;br /&gt;2. Guna-dharmma = turunan dari Gunapriyadharmapatni, yakni ibu Airlangga&lt;br /&gt;3. Hendak mengaku Wijaya = turunan raja Palembang (Sri Wijaya), dan&lt;br /&gt;4. Hendak mengaku Uttungga, yakni turunan raja Sindok di Jawa Timur (1948 : 10).&lt;br /&gt;Tampaknya, Goris hendak menyatakan bahwa sejumlah unsur gelar itu secara implisit mengandung muatan politis, khususnya yang dikemukakan dalam tiga butir terakhir. Konsep dasar jalan pikiran Goris kiranya dapat diterima, tetapi secara operasional menghubungkan unsur wijaya dengan kerajaan Sriwijaya di Palembang, sebagaimana dinyatakan dalam butir ketiga, sepantasnya mendapat pertimbangan lebih cermat. Ada dua hal akan diajukan sebagai bahan pertimbangan, yang serta merta menunjukkan kekurangkuatan hipotesis Goris itu.&lt;br /&gt;Pertama, sampai kini belum terdapat bukti jelas mengenai hubungan politik kerajaan Bali Kuno dengan Sriwijaya di Sumatra. Kedua, seperti telah diketahui, unsur Sriwijaya digunakan pula dalam gelar Ratu Sri Wijaya Mahadewi. Stein Callenfels, yang menghubungkan ratu ini dengan kerajaan Sriwijaya, telah dibantah oleh Damais. Dengan alasan yang tepat, Damais mengidentifikasikan bahwa ratu ini adalah putri dari Jawa Timur (1952 : 85-86). Sejalan dengan pendapat Damais itu, dengan mengesampingkan pendapatnya yang menjurus kepada penyamaan dengan putri Sindok serta ditunjang isi butir kedua dan keempat kutipan di depan, maka Sakalendukirana pun tidak perlu dihubungkan dengan kerajaan Sriwijaya tetapi dengan keluarga besar dinasti Isana di Jawa Timur.&lt;br /&gt;Salah satu kebijakan Ratu Sakalendukirana ialah memberikan prasasti kepada pejabat Nayakanjalan. Prasasti itu diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman pelaksanaan tugas dan kewajiban oleh penduduk di bawah kewenangan pejabat tersebut. Sejumlah rincian ketetapan tercantum di dalam prasasti itu, misalnya mengenai drwyahaji untuk samgat surih, upacara yang dilaksanakan pada waktu bulan mati (pjah lek), dan iuran untuk keperluan upacara besar (mahabanten).&lt;br /&gt;Ratu Sakalendukirana diganti oleh Paduka Sri Maharaja Sri Suradhipa. Baginda berkuasa tahun 1037 : 1041 Saka (1115-1119) dengan mengeluarkan prasasti-prasasti Gobleg, Pura Desa III (1037 Saka), Angsari B (1041 Saka), Ababi, Tengkulak D dan Prasasti Tamblingan, Pura Endek III.24 Sebagian di antara prasasti-prasasti itu sudah aus dan tidak terbaca lagi.&lt;br /&gt;Berdasarkan permohonan wakil-wakil pamong dharma (sejenis bangunan suci) di Air Tabar dapat diketahui bahwa raja memberikan izin kepada mereka memperbaharui (umanari) prasastinya. Izin itu diberikan karena prasasti semula yang tertulis pada daun rontal (ripta) telah rusak dan tidak terbaca lagi (awuk munggwing ripta tan wnang winaca). Selanjutnya, raja menekankan supaya isi prasasti itu dipatuhi oleh segenap penduduk sebagaimana mestinya. Semua hal itu disebutkan dalam prasasti Gobleg, Pura Desa III.&lt;br /&gt;Pada tahun 1041 Saka, sesuai dengan isi pokok prasasti Angsari B, raja Suradhipa memberikan prasasti kepada dharma di Sukhamerta yang termasuk wilayah desa Latengan. Segala ketetapan yang tercantum di dalamnya supaya ditaati oleh penyelenggara pertapaan di kompleks dharma di Sukhamerta. Pertapaan ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Tabanendra Warmadewa.&lt;br /&gt;Setelah berakhir masa pemerintahan raja Suradhipa, secara beruntun memerintah di Bali empat orang raja yang menggunakan unsur jaya dalam gelarnya, yaitu (1) Paduka Sri Maharaja Sri Jayasakti tahun 1055-1072 Saka (1133-1150), (2) Paduka Sri Maharaja Sri Ragajaya tahun 1077 Saka (1155), (3) Paduka Sri Maharaja Haji Jayapangus tahun 1099-1103 Saka (1178-1181), dan (4) Paduka Sri Maharaja Haji Ekajayalancana beserta ibunya yaitu Paduka Sri Maharaja Sri Arjaryya Dengjayaketana yang mengeluarkan prasastinya pada tahun 1122 Saka (1200). Birokrasi pemerintahan keempat raja inilah yang akan dibahas dalam karya tulis ini. Berdasarkan hal itu maka uraian mengenai aktivitas atau kebijakan yang dilaksanakan oleh raja-raja tersebut tidak diperpanjang pada bagian ini.&lt;br /&gt;Hubungan kekeluargaan di antara mereka tidak diketahui secara pasti. Walaupun demikian, berdasarkan kelaziman dalam sistem pergantian kepala negara suatu kerajaan tradisional serta digunakannya unsur jaya dalam gelar masing-masing raja itu maka kemungkinan besar hubungan antara raja yang satu dan penggantinya merupakan hubungan ayah dengan anaknya. Kalau tidak demikian, paling tidak mereka dipertalikan oleh hubungan kekeluargaan yang sangat dekat.&lt;br /&gt;Perlu diperhatikan bahwa masa pemerintahan keempat raja itu hampir sezaman dengan masa pemerintahan raja-raja Jayabhaya (1057 -1079 Saka), Sarweswara (1081 Saka), Aryeswara (1091-1093 Saka), Kroncaryadhipa atau Gandra (1103 Saka), Kameswara (1104-1107 Saka), dan Kertajaya atau Srengga (1116-1127 Saka) di kerajaan Kadiri di Jawa Timur (cf. Damais, 1952 : 66-71 ; Sumadio dkk., 1990 : 267-272, 306). Hal yang menarik perhatian pula, sebagaimana telah dikatakan, ialah adanya unsur jaya digunakan pada keempat gelar raja Bali Kuno dan paling sedikit pada dua nama raja Kadiri tersebut di atas. Adanya unsur yang sama itu rupanya bukan semata-mata bersifat kebetulan tetapi juga menunjukkan adanya hubungan kekerabatan di antara mereka. Kemungkinan adanya hubungan kekerabatan di antara mereka diperkuat oleh keterangan dalam kitab Bharatayuddha. Dalam kitab itu dikatakan bahwa raja Jayabhaya sempat meluaskan kekuasaannya ke Indonesia bagian timur dan tidak ada pulau yang sanggup mempertahankan diri dari kekuasaan Jayabhaya (Krom, 1956 :154-155 ; Warna dkk., 1990 : 2-3).&lt;br /&gt;Sejak berakhirnya kekuasaan Ekajayalancana sampai dengan akhir masa Bali Kuno, masih terjadi lima kali pergantian raja. Secara berturut-turut dinobatkan Sri Wirama (1126 Saka), Adidewalancana (1182 Saka), Sri Mahaguru (1246-1247 Saka), Walajayakrrttaningrat (1250 Saka), dan Sri Astasura Ratnabhumibanten (1259-1265 Saka).&lt;br /&gt;Sri Wirama, lengkapnya Bhatara Parameswara Sri Wirama tercantum dalam prasasti Bangli, Pura Kehen C (1126 Saka) (Stein Callenfels, 1926 : 56-59). Dalam prasasti itu disebutkan tiga tokoh historis sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Bhatara Guru Sri Adikuntitekata, yakni permaisuri raja yang telah almarhum. Goris juga menyebut tokoh ini dengan Bhatara Guru I (1965 : 43).&lt;br /&gt;2. Bhatara Parameswara Sri Wirama, yang juga disebut Sri Bhanadhirajalancana, putra (wija) Sri Adikuntiketana.&lt;br /&gt;3. Bhatara Sri Dhanadewiketu, yaitu permaisuri (rajawanita) Sri Dhanadhirajalancana.&lt;br /&gt;Berdasarkan keterangan dalam butir ketiga, khususnya kata rajawanita, yang digunakan untuk menyebut istri Sri Wirama, maka berarti raja yang sesungguhnya adalah Bhatara Parameswara Sri Wirama. Kendati demikian, yang bertitah langsung kepada penduduk adalah Sri Adikuntiketana (Stein Callenfels, 1926 : 56). Titah tu disampaikan kepada wakil-wakil desa Bangli (karaman i bangli) sewilayah desanya, agar mereka tidak mengungsi lagi ke desa lain. Sebaliknya, mereka diperintahkan supaya kembali ke desanya serta menyelenggarakan asrama (mandala) Lokasarana yang sempat sepi dan tidak terurus. Dalam prasasti itu dicantumkan pula aturan tentang hak dan kewajiban yang harus dipatuhi oleh penduduk Bangli.&lt;br /&gt;Antara Raja Sri Wirama (1126 Saka) dan raja berikutnya, yaitu Bhatara Parameswara Hyang ning Hyang Adidewalancana (1182 Saka) terdapat masa kosong (power vacuum) selama tidak kurang dari 56 tahun. Belum terdapat petunjuk yang jelas mengapa hal itu terjadi.&lt;br /&gt;Tidak banyak dapat dikemukakan mengenai raja Adidewalancana. Baginda mengeluarkan sebuah prasasti, yaitu prasastiBulihan B (1182 Saka), yang dianugrahkan kepada wakil-wakil desa Bulihan (karaman i bulihan) (Goris, 1954a : 41-42). Selain itu beliau juga mengeluarkan prasasti Pangsan yang dianugrahkan kepada pariman i nungnung.&lt;br /&gt;Setelah masa pemerintahan raja Adidewalancana, terdapat lagi masa tanpa raja selama lebih kurang 64 tahun, yakni tahun 1182-1246 Saka (1260-1324). Pada periode itu terbit hanya dua buah prasasti, yaitu prasasti Pengotan E (1218 Saka) dan Sukawana D (1222 Saka), atas nama Kbo Parud (putra Ken Demung Sasabungalan). Tokoh itu berkedudukan sebagai rajapatih, bukan sebagai raja (Goris, 1948 : 11 ; 1954a : 42). Keadaan ini kemungkinan besar ada kaitannya dengan keterangan yang dapat disimak 32 dari isi pupuh 42 bait 1 kitab Nagarakrtagama. Di sana dikatakan bahwa pada tahun 1206 Saka (1284) Raja Krtanagara (dari Singhasari) berhasil menaklukkan Bali serta menawan raja-raja Bali (Pigeaud, 1960a : 32 ; 1960b : 48 ; Slametmulyana, 1979, 294). Dalam sumber itu tidak disebutkan nama atau gelar raja Bali yang ditawan. Dengan alasan yang kurang jelas, Ginarsa menduga bahwa raja itu adalah Adidewalancana (1968 : 27). Dugaan itu akan menjadi benar apabila raja itu memerintah paling sedikit selama 24 tahun setelah menerbitkan prasastinya yang berangka tahun 1182 Saka (1260).&lt;br /&gt;Kedudukan Kbo Parud sebagai rajapatih boleh jadi berlangsug sampai setelah Krtanagara dikalahkan oleh Raja Jayakatwang dari Kadiri, bahkan mungkin sampai pada masa-masa awal kerajaan Majapahit. Kedudukannya itu tampaknya baru berakhir setelah Bhatara Guru II (Bhatara Sri Mahaguru) dinobatkan sebagai raja di Bali pada tahun 1256 Saka (1324), atau beberapa tahun sebelum penobatan itu. Hal ini sekaligus menyatakan bahwa Bali selama itu berada di bawah pengawasan kerajaan yang tengah berkuasa di Jawa Timur.&lt;br /&gt;Identifikasi Raja Bhatara Guru II atau Bhatara Sri Mahaguru sesungguhnya masih mengandung permasalahan. Ada tiga buah prasasti dikeluarkan oleh raja itu, tetapi memuat gelarnya secara tidak konsisten. Dalam prasasti Srokadan (1246 Saka)25 baginda disebut Paduka Bhatara Guru yang memerintah bersama-sama dengan cucunya (putunira), yakni Paduka Aji (baca : Haji) Sri Tarunajaya. Dalam prasasti Cempaga C (1246 Saka) disebut dengan gelar Paduka Bhatara Sri Mahaguru (Stein Callenfels, 1926 : 50). Dan dalam prasasti Tumbu (1247 Saka) disebut Paduka Sri Maharaja, Sri Bhatara Mahaguru, Dharmmotungga Warmadewa (baca : Paduka Sri Maharaja Sri Bhatara Mahaguru Dharmottungga Warmadewa) (Goris, 1965 : 45).&lt;br /&gt;Bhatara Guru II rupanya mangkat sebelum tahun 1250 Saka (1328). Dugaan itu dikemukakan karena pada tahun 1250 Saka, sebagaimana tertera dalam prasasti Selumbug (Stein Callenfels, 1926 : 68-70), yang memerintah di Bali adalah Paduka Bhatara Sri Walajayakrtaningrat. Raja ini memerintah bersama-sama dengan atau dibantu oleh ibunya yang bergelar Paduka Tara Sri Mahaguru. Mengingat kata tara (baca : tara) dapat berarti ”janda atau duda”, di samping juga berarti ”suami atau istri” (Damais, 1959 : 690), maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Paduka Tara Sri Mahaguru kemungkinan besar adalah janda almarhum Bhatara Guru II.&lt;br /&gt;Selain itu, kiranya dapat disepakati bahwa kata tarunajaya pada hakikatnya bermakna sama dengan walajaya. Kendatipun demikian, masih diperlukan kehati-hatian sebelum menyamakan tokoh Tarunajaya dalam prasasti Srokadan dengan Walajayakrtaningrat dalam prasasti Selumbung. Kehati-hatian itu diperlukan karena Tarunaja dikatakan sebagai cucuk sang suami (yaitu Bhatara Guru II) dan Walajayakrtaningrat dikatakan sebagai putra sang permaisuri (yaitu paduka Tara Sri Mahaguru). Pernyataan terakhir ini menjadi lebih kuat, jika Bhatara Guru II dan Paduka Tara Sri Mahaguru pada mulanya memang merupakan pasangan suami-istri.&lt;br /&gt;Atas dasar gambaran yang telah disajikan, dengan singkat dapat dikatakan bahwa bagaimanapun juga hubungan kekeluargaan mereka berdua belum dapat dijelaskan secara meyakinkan. Sumber-sumber sejarah yang muncul pada masa-masa mendatang diharapkan dapat menerangkan hal itu.&lt;br /&gt;Dari prasasti Selumbung yang telah disebutkan, dapat diketahui bahwa Raja Walajayakrtaningrat beserta ibunya memberikan anugrah prasasti kepada tetua desa Salumbung (karaman ing salumbung). Dalam prasasti itu ditetapkan pelbagai kewajiban yang harus ditunaikan oleh penduduk bagi bangunan suci Sang Hyang Candri ring Linggabhawana. Penganugerahan prasasti itu disaksikan pula oleh para pejabat tinggi kerajaan.&lt;br /&gt;Raja Walajayakrttaningrat dan ibunya digantikan oleh Paduka Bhatara Sri Astasura Ratnabumibanten (baca : Paduka Bhatara Sri Astasura Ratnabhumibanten). Gelar ini terbaca dalam prasasti Langgahan yang berangka tahun 1259 Saka (Goris, 1954a : 44 ; Damais, 1955 : 99). Prasasti ini mencatat bahwa pada tahun 1259 Saka raja menetapkan pelbagai drwyahaji yang mesti dibayar oleh penduduk di wilayah pertapaan Langgaran. Batas-batas wilayah pertapaan dan pejabat-pejabat tinggi kerajaan yang menyaksikan penganugerahan prasasti itu disebutkan pula di dalamnya. Pada bagian akhir prasasti terdapat sumpah kutukan (sapatha) yang pada intinya mengharapkan agar orang-orang yang melanggar ketetapan dalam prasasti itu mendapat mala petaka setimpal.&lt;br /&gt;Dapat ditambahkan bahwa di Pura Tegeh Koripan (di puncak Gunung Penulisan) tersimpan sebuah arca yang bagian belakang arca itu terdapat prasasti yang terdiri atas sembilan baris tulisan dan keadaannya telah sangat aus. Pada baris ke delapan terdapat bagian yang berbunyi ”...t (asu) raratnabumi...” (Stutterheim, 1929 : 79). Belakangan, Damais membaca bagian itu sebagai berbunyi ”(--)—stasura ratnabumi banta,...”(1955 : 129) dan Goris membaca astasura-ratna bumi-banten (1954a : 44). Di atas prasasti terdapat candra sangkala berupa empat gambar, yakni paling depan tidak jelas karena sudah pecah, berikutnya gambar mata (dengan nilai 2), puluhannya parasu (kapak) yang bernilai 5, dan terakhir tidak terang, mungkin gunung (bernilai 7) atau laut (bernilai 4). Berdasarkan data itu, maka angka tahun prasasti tersebut mungkin 1254 atau 1257 Saka (Stutterheim, 1929 : 79). Di pihak lain, menurut perhitungan yang diterapkannya, Damais berpendapat bahwa prasasti itu berangka tahun 1352 Saka (1439) (1955 : 129-130). Jika arca tempat prasasti itu berangka tahun 1352 Saka (1430) (1955 : 129-130). Jika arca tempat prasasti itu ditulis adalah arca perwujudan Astasura Ratnabhumibanten, yang dibuat sekitar upacara sraddha-nya, maka pendapat Damais lebih beralasan.&lt;br /&gt;Enam tahun setelah Astasura Ratnabhumibanten mengeluarkan prasasti Langgahan (1259 Saka), yakni pada tahun 1265 Saka (1343) ekspedisi tentara Majapahit yang dipimpin oleh Gajah Mada menyerang Bali. Penyerangan itu berhasil menaklukkan Bali. Goris menyatakan bahwa dengan takluknya Bali kepada Majapahit maka berakhirlah kerajaan Bali Kuno yang merdeka (1965 : 47).&lt;br /&gt;Kontak perang antara Bali dan Majapahit agaknya didahului dengan suasana tidak harmonis. Betapa tidak senangnya pihak Majapahit terhadap raja Bali dapat diketahui dari hasil goresan pena Mpu Prapanca dalam kitab Nagarakrtagama. Pupuh 49 bait 4 kitab itu menggambarkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;”muwah rin sakabdesu masaksi nabhbhi,&lt;br /&gt;Ikan bali nathanya dussila niccha&lt;br /&gt;Dinon in bala bhrasta sakweh nasa&lt;br /&gt;Ars salwir i dusta mandoh wisathta,”&lt;br /&gt;(Pigeaud, 1960a : 36).&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;”Selanjutnya pada tahun Saka panah-musim-mata-pusat (1265 Saka), kepada raja Bali yang rendah budi dan hina dina dikirimlah tentara untuk membasmi, hancurlah semuanya, ketakutan semua penjahat (lalu) lari menjauh (cf. Slametmulyana, 1979 : 297 ; Pigeaud, 1960c : 54).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5793188356812913061-2241945412099736759?l=serombotan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serombotan.blogspot.com/feeds/2241945412099736759/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5793188356812913061&amp;postID=2241945412099736759' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/2241945412099736759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/2241945412099736759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serombotan.blogspot.com/2010/04/sejarah-bali-kuno.html' title='SEJARAH BALI KUNO'/><author><name>gusade777</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04034465685906450642</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5793188356812913061.post-3991559355247889758</id><published>2009-06-22T00:48:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T00:59:17.799-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='OBAT TRADISIONAL'/><title type='text'>BAWANG PUTIH DAPAT MENCEGAH KANGKER</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1ceAZbbktbQ/Sj85Xud7ZSI/AAAAAAAAADM/bGnKsZEyYUU/s1600-h/untitled.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1ceAZbbktbQ/Sj85Xud7ZSI/AAAAAAAAADM/bGnKsZEyYUU/s320/untitled.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350057962112771362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Bawang Putih Dapat Mencegah Kanker&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;percaya atau tidak ini merupakan salah satu obat alternatif tradisional boleh dicoba&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shutter Stock&lt;br /&gt;Bawang putih mampu mencegah stroke dengan cara menghalangi timbulnya plak pada pembuluh kardiovaskular.&lt;br /&gt;/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mengkonsumsi banyak bawang putih dapat menurunkan resiko kanker indung telur, usus besar, dan berbagai jenis kanker lainnya, demikian yang dilaporkan oleh American Journal of Clinical Nutrition tahun 2006.  Banyak studi sudah menunjukkan bahan-bahan organik dalam bawang putih sangat efektif dalam mencegah perkembangan sel kanker.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Manfaat lain bawang putih bagi kesehatan ialah menjaga kesehatan kardiovaskular. Bawang putih mengandung pitokemikal dan allicin yang dapat menurunkan tekanan darah hingga 30 poin, serta mampu mencegah stroke dengan cara menghalangi timbulnya plak pada pembuluh kardiovaskular hingga 12%.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dr.Guautnter Siegel, M.D., dari University of Medicine di Berlin, Jerman, mengungkapkan  kemiripan bawang putih dengan kolesterol HDL atau kolesterol baik. Bawang putih bisa mencegah tebentuknya nanoplaques dengan  cara menutupi masuknya kolesterol LDL atau kolesterol jahat ke peredaran darah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Agar bermanfaat bagi kesehatan, kita harus mengkonsumsi bawang putih dalam porsi yang tepat. Konsumsi berlebih dapat menyebabkan iritasi lambung dan menghilangkan sel darah putih, serta membuat darah kita sulit membeku. Batasi asupan bawang kita, hanya 5 siung per hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari artikel dimedia&lt;br /&gt;KOMPAS&lt;br /&gt;(Astrid Anastasia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5793188356812913061-3991559355247889758?l=serombotan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serombotan.blogspot.com/feeds/3991559355247889758/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5793188356812913061&amp;postID=3991559355247889758' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/3991559355247889758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/3991559355247889758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serombotan.blogspot.com/2009/06/bawang-putih-dapat-mencegah-kangker.html' title='BAWANG PUTIH DAPAT MENCEGAH KANGKER'/><author><name>gusade777</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04034465685906450642</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1ceAZbbktbQ/Sj85Xud7ZSI/AAAAAAAAADM/bGnKsZEyYUU/s72-c/untitled.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5793188356812913061.post-328566492514096291</id><published>2009-02-17T02:43:00.000-08:00</published><updated>2009-02-18T00:18:09.547-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TEHNOLOGI'/><title type='text'>INTERNETAN DI HP</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;walaupun sudah tidak asing lagi saya akan coba membantu untuk mengaktifkan gprs bagi yang memiliki hp nokia dan se dan untuk seluruh merek hp disini terdapat hampir seluruh aplikasi yang kamu inginkan&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa HP telah dilengkapi dengan fitur untuk menyambungkan koneksi ke internet namun untuk melakukan koneksi ke internet diperlukan beberapa pengaturan misalnya pengaturan GPRS, MMS, ATAU WAP INTERNET nah walaupun sudah tidak asing lagi mudah mudahan ini dapat membantu kamu.&lt;br /&gt;bagi kamu yang memiliki hp merek nokia jika ingin mengaktifkan GPRS klik &lt;a href="https://nokiags.wdsglobal.com/wap?phoneId=2059&amp;amp;bearerId=5&amp;amp;contractId=191&amp;amp;captchaEnabled=true&amp;amp;locale=en_US&amp;amp;siteLanguageId=118&amp;amp;step=country.vm&amp;amp;countryId=74"&gt;disini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;dan kamu yang mempunyai HP merek SONY ERICCSON &lt;a href="http://www.sonyericsson.com/cws/support/phones/detailed/trythephone/k800i?lc=id&amp;cc=id"&gt;klik disini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;setelah itu jika kamu ingin menambah aplikasi untuk hp kamu bisa &lt;a href="http://www.getjar.com/software"&gt;klik disini&lt;/a&gt; termasuk untuk game dan antivirus&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5793188356812913061-328566492514096291?l=serombotan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serombotan.blogspot.com/feeds/328566492514096291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5793188356812913061&amp;postID=328566492514096291' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/328566492514096291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/328566492514096291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serombotan.blogspot.com/2009/02/internetan-di-hp.html' title='INTERNETAN DI HP'/><author><name>gusade777</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04034465685906450642</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5793188356812913061.post-314111270076819657</id><published>2009-01-21T08:18:00.000-08:00</published><updated>2009-01-21T08:23:58.957-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='OBAT TRADISIONAL'/><title type='text'>resep obat tradisional pada anak</title><content type='html'>Penurun panas, batuk, dan pilek&lt;br /&gt;Parut bawang merah, tambahkan minyak telon, lalu balurkan pada punggung sampai bagian pantat sambil sedikit diurut. Juga pusar dan ubun-ubun. Untuk ramuan minum: air kelapa satu cangkir ditambah 1 sendok teh madu, aduk, lalu kukus. Setelah dingin, berikan pada anak sebanyak 3 sendok teh setiap 2 jam sekali. Ramuan ini diberikan untuk bayi 8 bulan ke atas. Bila usia anak di bawah 8 bulan, cukup dengan pemberian ASI atau ibunya yang minum ramuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada anak yang agak besar, gunakan ramuan minum berupa air kunyit dan madu. Setengah sampai satu ruas jari kunyit yang sudah bersih dibakar, dikerik kulitnya, diparut, lalu diberi air matang 1/2 cangkir, peras, kemudian diendapkan. Campur bagian air kunyit yang tanpa endapan dengan kocokan 1 butir kuning telur dan 1 sendok makan madu, kemudian disuapkan pada anak. Ramuan ini bisa untuk penurun panas seperti pada sakit cacar air, flu, atau apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Perut kembung&lt;br /&gt;Parut bawang merah dan tambahkan minyak telon. Kemudian tapelkan bawang yang sudah diparut tersebut di bagian pusar. Bisa juga, gunakan daun jarak pagar yang dihangatkan. Olesi dengan minyak kelapa, pilin-pilin, lalu tempelkan pada pusar si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Diare&lt;br /&gt;Sediakan 1/2 jari kunyit yang sudah bersih dibakar, dipotong-potong, 7 pucuk daun jambu biji, air 2 gelas, dan garam 1/4 sendok teh, rebus dengan api kecil. Minum airnya, 1 sendok teh satu jam sekali. Untuk mengusir gas, maka pusarnya ditapeli dengan parutan bawang merah yang sudah diberi minyak telon. Untuk anak yang sudah agak besar, boleh juga dengan mengunyah halus pucuk daun jambu klutuk yang sudah bersih ditambah garam lalu ditelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Muntah-muntah&lt;br /&gt;Muntah bisa disebabkan perut mual atau kembung. Sediakan 1/2 sendok teh ketumbar, 3 butir kapulaga, 5 butir adas hitam, dan air setengah gelas. Kemudian direbus. Setelah dingin, berikan ke anak sedikit-sedikit, sesering mungkin atau 2 jam sekali.&lt;br /&gt;Boleh juga dibuatkan air beras kencur. Caranya, cuci 1 sendok makan beras dan direndam sebentar. Sangrai beras tersebut sampai berwarna kecokelatan, lalu ditumbuk halus bersama dengan 1 ruas jari kencur, 1 ruas jari kunyit, dan 1/4 sendok teh adas manis. Setelah itu diseduh dengan air panas, tambahkan gula merah, sedikit garam, dan asam jawa. Saring, lalu diminumkan pada anak agar tubuhnya hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Batuk&lt;br /&gt;Sediakan air jeruk nipis 1 sendok makan ditambah madu 2 sendok makan dan air matang 2 sendok makan. Masukkan dalam cangkir dan kukus. Setelah agak dingin, minumkan pada anak sebanyak 1-2 sendok teh. Berikan sehari 5 kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Batuk seratus hari&lt;br /&gt;Sediakan umbi bidara upas sebesar 1/2 jempol yang sudah bersih, parut dan seduh dengan air panas, lalu aduk-aduk dan dinginkan. Saring dan tambahkan sedikit madu. Minum sampai habis. Buatlah ramuan ini 3 kali sehari. Bisa juga gunakan ramuan lidah buaya. Lidah buaya dikupas kulitnya dan ambil bagian dagingnya sebanyak dua jari, kemudian dicacah. Tambahkan air hangat dan madu, lalu diminumkan pada anak 1-2 kali sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Batuk karena angin atau dahak susah keluar&lt;br /&gt;Sediakan 1 butir bawang merah diparut, 1 ruas jari jahe diparut dan diperas airnya, 7 butir adas manis, 1 ruas jari kunyit diparut dan diperas airnya, 1 sendok makan air jeruk nipis, dan 1/2 gelas air. Masukkan semua bahan di cangkir, kemudian kukus dan setelah itu saring. Minum 3 kali sehari masing-masing 2 sendok teh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Batuk berlendir&lt;br /&gt;Campurkan air jahe 1 sendok makan, air kunyit 1 sendok makan, bawang putih 1 siung diparut, air jeruk nipis 1 sendok makan, madu 1 sendok makan, dan 3 sendok makan air matang, kemudian dikukus. Diminumkan 3-4 kali sehari 2 sendok teh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pilek&lt;br /&gt;Siapkan bawang merah yang diparut, lalu tapelkan pada tulang leher ketujuh (bagian tengkuk) dan ubun-ubun anak setelah sebelumnya diolesi minyak kayu putih. Beri juga minuman yang hangat-hangat, seperti minuman beras kencur. Selain itu, jemur anak di bawah sinar matahari pagi sekitar jam 7 atau di bawah jam 9 pagi. Panaskan bagian dada seperempat jam dan kemudian punggung seperempat jam. Ini bisa dilakukan sambil jalan-jalan pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Mata bintitan&lt;br /&gt;Ambil getah dari batang tanaman patikan kebo atau getah dari batang pohon meniran. Tempelkan sedikit pada kapas, lalu oleskan pada bagian bintitnya, sedikit saja, jangan sampai terkena mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Mata merah&lt;br /&gt;Taruh 3 lembar daun sirih yang sudah dicuci bersih pada wadah mangkok. Seduh dengan air panas. Setelah airnya dingin, minta anak untuk mengedip-ngedipkan matanya dalam air tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Sariawan&lt;br /&gt;Ambil sebuah tomat matang, seduh dengan air panas dan kupas kulitnya. Haluskan tomat tersebut dengan menggunakan sendok, saring dan tambahkan sedikit gula. Beri anak minumam sari tomat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Tak nafsu makan&lt;br /&gt;Menurut Endah, hilangnya nafu makan dapat disebabkan cacingan atau hal lain seperti masuk angin. Cara mengatasinya, bersihkan 1 lembar daun jarak pagar, setelah itu hangatkan sebentar di atas tutup panci. Beri olesan minyak kelapa pada daun tersebut dan dipilin, kemudian tempelkan daun tersebut di atas pusar anak, yang sebelumnya sudah diolesi dengan minyak telon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila usia anak sudah lebih dari setahun, coba berikan ramuan 1 telapak tangan daun pepaya, 1 ruas jari temu hitam/temu ireng, seruas jari tempe bosok (tempe kemarin), dan sedikit garam. Semua bahan ditumbuk halus, lalu peras pakai kain dan masukkan ke mulut anak. "Khasiat temu hitam untuk mengeluarkan cacing, sedangkan daun pepaya untuk menambah nafsu makannya, dan tempe bosok untuk stamina atau kekuatan tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menambah nafsu makan anak bisa juga dengan ramuan: 1 ruas jari temulawak, gula merah, air secukupnya, dan sedikit garam, kemudian rebus dan saring. Minumkan pada anak 1-2 sendok makan sehari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Mimisan&lt;br /&gt;Selembar daun sirih yang sudah dicuci bersih dipilin dan disumpalkan ke hidung anak. Untuk pengobatan dari dalam tubuh lakukan dengan ramuan: 1/2 jempol umbi bidara upas yang sudah bersih diparut dan diseduh dengan 1 cangkir air panas, kemudian disaring, dan setelah dingin diminumkan ke anak ditambah sedikit madu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Benjol karena benturan&lt;br /&gt;Rendam 1 sendok makan beras. Tumbuk bersama kencur dan beri sedikit garam. Setelah halus, tempelkan ke bagian yang benjol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa juga diberi ramuan: bawang putih diparut dan diberi ramuan: bawang putih diparut dan diberi madu, setelah itu dioleskan ke bagian yang benjol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Keringat buntet&lt;br /&gt;Sesering mungkin dibedaki tepung kanji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Congekan&lt;br /&gt;Cuci bersih 3 lembar daun miana atau 7 lembar daun samiloto segar atau lengkuas merah muda, lalu tumbuk halus. Peras pakai kain bersih dan teteskan air perasannya ke telinga. Lakukan dua kali sehari, masing-masing 3 tetes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Panu&lt;br /&gt;Dua jari langkuas merah diparut dan diberi sedikit cuka, oles-oleskan pagi dan sore atau malam hari pada bagian tubuh yang berpanu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Koreng atau borok kepala&lt;br /&gt;Batang brotowali dipotong-potong sebanyak 5 jari. Rebus dengan sedikit air, oleskan pada bagian kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa juga diberi ramuan: daun brotowali, parutan kunyit dan sedikit garam ditumbuk halus. Oleskan ke kepala. Boleh juga hanya dengan kunyit saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Sakit gigi&lt;br /&gt;Bawang putih diparut, ditambah sedikit garam, kemudian sumpal ke gigi yang sakit karena berlubang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digigit nyamuk&lt;br /&gt;Hilangkan bekas gigitannya dengan tanaman sambiloto yang diremas-remas dan dioleskan ke bagian bekas gigitan tersebut. Kalau tak ada sambiloto bisa digunakan minyak sereh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Asma&lt;br /&gt;Sepuluh siung bawang putih diparut, ditambah madu 1 gelas, kemudian dikukus. Berikan pada anak sebanyak 1 sendok teh, dua kali sehari. Bisa juga, 10 siung bawang putih diparut, 1 ons gula batu, direbus bersama 1 gelas air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Luka-luka berdarah&lt;br /&gt;Cuci bersih daun jambu biji atau daun bandotan, kemudian remas-remas. Tapelkan pada luka tersebut. Darah akan berhenti segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Keracunan&lt;br /&gt;Minum air kelapa hijau muda 3 kali sehari 1/4 gelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Biduran atau kaligata&lt;br /&gt;Balurkan tubuh dengan minyak telon, minyak kayu putih atau minyak tawon. Untuk ramuan minum: 1 jari temulawak dipotong-potong, beri sedikit gula merah, dan garam direbus dengan 1 gelas air. Saring dan bila sudah dingin diminumkan 3 kali sehari 1/4 gelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber Dedeh Kurniasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5793188356812913061-314111270076819657?l=serombotan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serombotan.blogspot.com/feeds/314111270076819657/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5793188356812913061&amp;postID=314111270076819657' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/314111270076819657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/314111270076819657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serombotan.blogspot.com/2009/01/resep-obat-tradisional-pada-anak.html' title='resep obat tradisional pada anak'/><author><name>gusade777</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04034465685906450642</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5793188356812913061.post-283420204471895910</id><published>2009-01-08T09:45:00.000-08:00</published><updated>2009-01-20T07:12:54.971-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HINDU RELIGION'/><title type='text'>PERJALANAN ATMA / ROH MENUJU SORGA ( BERSATU DENGAN PARAMA ATMA )</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam ajaran Agama Hindu dipercaya manusia memiliki dua badan / tubuh yaitu badan kasar ( Tubuh ) dan badan halus yang sering disebut ROH atau JIWA /ATMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan Kasar atau tubuh manusia akan terus berkembang sampai akhirnya seluruh sel yang ada di dalam tubuh rusak sehingga tidak dapat beraktifitas lagi, setelah seluruh sel tersebut rusak dan mati maka tubuh manusia akan mati ( meninggal ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan badan halus / roh / jiwa akan meninggalkan tubuh manusia ( badan kasar ) yang nantinya akan melanjutkan perjalanan menuju tempat untuk menunggu reingkarnasi kembali ( sorga atau neraka )  tergantung dari perbuatan semasa hidupnya yang dalam istilah hindu dikenal dengan KARMA PHALA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam geguritan ATMA PRASANGSA diceritakan perjalanan ATMA / ROH MENUJU SORGA bersatu dengan Parama Atma ( IDA SANGHYANG WIDI WASA / TUHAN YANG MAHA ESA ).  Bagi yang percaya dengan adanya reingkarnasi dan kehidupan setelah ajal menjemput maka Saya akan coba menceritakan perjalanan tersebut sedangkan yang tidak percaya tidak ada salahnya untuk membaca cerita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika telah ditakdirkan atau telah saatnya manusia meninggal maka badan halus ( Roh / Jiwa / Atma ) akan meninggalkan badan kasar ( tubuh) sehingga tubuh manusia yang telah ditinggalkan oleh Atma akan tidak bisa melakukan aktivitas apapun dan disebut mati, nah sekarang diceritakan seseorang yang telah mendalami ajaran agama dimana dalam cerita ini orang tersebut telah tiba waktunya untuk terpisah dari badan kasarnya (Meninggal Dunia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerita ini diceritakan orang yang suci tersebut dapat segera menyadari bahwa badan halusnya telah terpisah dari badan kasarnya, dalam ceritera ini atma dari orang suci tersebut melihat badan kasarnya sangat mengerikan jika diandaikan seperti melihat sosok Barong ( biasa ditarikan dalam tarian barong dibali ), atma tersebut duduk didepan jasatnya yang tengah diupacarai oleh keluarganya dimana ketika duduk di samping jasatnya di ceritakan atma tersebut berterima kasih kepada jasatnya yang telah diajaknya hidup semasa hidupnya di Dunia ( mercepada ), sambil menangis sang atma berpesan kepada jasatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan yang disampaikan antara lain agar sang jasat yang sangat disayangi, dimana telah diajak semasa hidupnya mengarungi kehidupan, tempat untuk belajar agama dan kehidupan kembali keasalnya sesuai dengan perintah ( titah ) SANG PENCIPTA, yang berasal dari api kembali ke api ( Brahma Loka ), yang berasal dari angin kembali ke angin, yang berasal dari air kembali ke air, yang berasal dari tanah kembali ke tanah, semua unsur kembali dari asalnya masing –masing, jika tiba saatnya nanti  (reingkarnasi)  yang kembali ke tanah akan masuk ke tubuh ibu melalui tanaman dan menjadi unsure tubuh, yang kembali ke angin maka akan masuk pada saat manusia / si ibu bernapas begitu juga unsur lainnya di dalam kandungan sang ibu maka seluruh unsure akan berkumpul dan akan membentuk kembali tubuh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan setelah menyampaikan pesan terakhir tersebut sang atma yang telah mengerti / mempelajari aji kemoksan menuju pura di rumah ( pemerajan ) untuk menghadap kepada IDA BETARA HYANG GURU untuk memohon petunjuk menuju perjalanannya selanjutnya, petunjuk yang diperoleh dari IDA BETARA HYANG GURU supaya sang atma melanjutkan perjalanan menuju PURA DALEM menghadap kepada IDA HYANG BETARI DURGA yang merupakan ratu dari dunia kegelapan dimana IDA HYANG BETARI DURGA akan menunjukan jalan yang harus ditempuh oleh sang atma. Diceritakan Sang atma melanjutkan perjalanan untuk menuju tempat yang di tunjukkan oleh IDA BETARA HYANG GURU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang atma sudah berada di sekitar areal PURA DALEM untuk menghadap IDA HYANG BETARI DURGA, setelah tiba di pura dalem atma tersebut mendengar suara yang sangat keras seperti suara singa yang sangat galak sehingga sang atma merasa terkejut dan ragu, namun karena sang atma sudah sangat mengerti dengan ajaran kemoksan ( perjalanan menuju kehidupan selanjutnya ) maka sang atma melanjutkan perjalanan untuk menghadap IDA HYANG BETARI DURGA tanpa rasa takut, pada saat itu sang surya sudah mulai bersembunyi pertanda malam telah tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tiba di tempat IDA HYANG BETARI DURGA kebetulan IDA HYANG BETARI DURGA sedang melakukan pertemuan kecil dengan para bawahannya (rencangnya) dimana bawaha IDA HYANG BETARI DURGA sangat banyak dan dengan rupa yang menyeramkan serta mengerikan rupanya disamping itu para bawahan IDA HYANG BETARI DURGA terlihat sangat beringas siap untuk menerkam dan memangsa sang atma, para bawahan IDA HYANG BETARI DURGA seperti macan kelaparan dan tidak terkendali melihat sang atma yang hadir dalam pertemuan tersebut namun mereka tidak berani untuk mendekati sang atma sebelum ada perintah dari IDA HYANG BETARI DURGA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IDA HYANG BETARI DURGA yang melihat kehadiran sang atma suci tersebut langsung menghampiri sang atma, dan duduk didepan sang atma yang sedang duduk menghaturkan sembah bakti, IDA HYANG BETARI DURGA berkata kepada sang atma sambil menangis adapun perkataan IDA HYANG BETARI DURGA antara lain “ wahai anakku sang atma suci jangan takut melihat semua bawahan dan muridku yang ada disini apalagi engkau seorang atma yang suci dimana semasa hidup telah dapat menerapkan ajaran agama dengan baik dan benar dapat menjaga hubungan baik dengan sang pencipta, sesama manusia dan dengan alam sekitarnya “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang atma menghaturkan sembah bakti kepada IDA HYANG BETARI DURGA sambil berkata “sembah bakti hamba haturkan kepada IDA HYANG BETARI DURGA semoga hamba tidak kena chakra wibawa, tidak kena kutukan dan tidak kena kutukan sebagai atma yang durhaka, IDA HYANG BETARI DURGA  di sebut SANG HYANG BHAGAWATI ketika di puja di Pura Bale Agung dimana pada saat dipuja disana SANG HYANG BETARI  memberikan ilmu dan kepintaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berada di Pura Dalem SANG HYANG BETARI disembah sebagai IDA HYANG BETARI DURGA yang berhak untuk mengatur dan memberikan jalan kepada seluruh roh / atma, Ketika berada di Pemuhun ( tempat pembakaran mayat ) SANG HYANG BETARI bernama SANG HYANG BERAWI, ketika berstana di Gunung Agung SANG HYANG GIRI PUTRI nama SANG HYANG BETARI, ketika dipuja di Gunung Batur SANG HYANG DANU nama SANG HYANG BETARI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau SANG HYANG BETARI berada di telaga dan di pancoran DEWI GAYATRI nama SANG HYANG BETARI, jikalau SANG HYANG BETARI berada di sungai yang besar dan dalam ( tukad ) DEWI GANGGA nama SANG HYANG BETARI. Jika berstana di pura sawah ( ulun carik ) BETARI SRI nama SANG HYANG BETARI  semua anugrah SANG HYANG BETARI sangat besar bagi kehidupan umat manusia, saat ini terimalah sembah bakti hamba dan sesajen yang telah disiapkan oleh sanak sodara hamba semoga SANG HYANG BETARI dapat menerima dan memaklumi segala kekurangannya “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SANG HYANG BETARI DURGA berkata “ wahai engkau atma suci yang telah mendalami ajaran kemoksan sekarang silakan lanjutkan perjalananmu menuju swarga loka semoga mendapatkan swarga bhuana yang sangat baik, semoga kamu tegar dalam perjalanan karena dalam perjalanan nanti kamu akan melewati banyak rintangan dimana akan melewati goa, gunung dan hutan yang angker, “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai menerima pesan dari SANG HYANG BETARI DURGA dan menghaturkan sembah untuk berpamitan akhirnya sang atma melanjutkan perjalanan keluar dari candi bentar yang ada di pura dalem menuju arah timur laut ( kaja kangin  / airsenia ) sepanjang jalan yang dilalui oleh sang atma terlihat pemandangan yang indah mempesona, banyak sekali bunga yang sedang berbunga disana sini serta berwarna warni dengan bau yang harum semerbak hal tersebut dikarenakan pada saat itu adalah musim semi dimana semua tanaman dan bunga sedang berbunga dan berbuah, burung – burung bersuara merdu bagaikan musik dari kayangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan sang atma sudah sampai di sebuah sungai yang sangat besar ( tukad ageng ) dimana airnya sangat jernih, dipinggir sungai tersebut ada sebuah batu kali yang bentuknya pipih serta dipayungi oleh pahon cempaka yang sangat rindang, sang atma duduk di batu tersebut sambil melihat kearah seberang sungai yang sangat jauh, melihat air yang sangat jernih dan sejuk timbul keinginan sang atma untuk mandi di sungai tersebut, namun ketika sang atma akan melanjutkan niatnya tersebut tiba – tiba muncul seekor buaya yang sangat besar mendekati sang atma dan siap untuk menggigit serta memangsa sang atma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghindari sang buaya sang atma naik kembali ke atas batu sambil melihat mata sang buaya yang ada di depannya, sang atma berkata “ uduh dewa ( wahai engkau ) sang jugul ageng ( sang buaya besar ), jangan engkau mengelak karena aku sudah mengetahui siapa engkau sebenarnya, engkau adalah adikku yang lahir dari satu rahim ibu, waktu itu engkau dan aku lahir bersamaan tidak lain engkau adalah ari – ari. ( untuk lebih jelasnya masalah persaudaraan tersebut silakan baca di kanda pat rare )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai sang jugul ageng ( buaya besar ) engkau dan aku bersaudara untuk itu sebaikan antar aku menyebrangi sungai ini supaya lebih cepat aku bisa menyelesaikan perjalanan ini, siapa lagi selain idewa ( engkau ) yang pantas menolong aku “ mendengan penjelasan sang atma, sang buaya sadar dan menangis seraya berkata” uduh kakak sang atma mohon ampun atas kesalahan hamba, silakan naik ke punggungku akan ku antar kakak sampai di tepi sungai besar ini “  setelah sampai ketepian sang atma menyampaikan terima kasih kepada sang buaya dan melanjutkan perjalanannya menuju arah semula timur laut ( kaja kangin  / airsenia ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang atma sekarang telah tiba di tepi hutan rimba yang sangat mengerikan, ketika sang atma hendak masuk ke hutan tersebut sang atma merasa terkejut melihat semua hewan lari tunggang langgang, burung – burung yang ada di dahan pohon semuanya terbang ke angkasa semua hewan mencari tempat persembunyian, terdengar dari hutan tersebut suara yang menyerupai auman macan menuju ke arah sang atma, setelah menunggu beberapa saat muncul raksasa perempuan yang sangat besar menutup jalan sang atma raksasa tersebut besar bentuknya bulat tidak memiliki tubuh, matanya besar dan melotot, taringnya yang terlihat sangat besar dan tajam, ketika sang raksasi itu berteriak maka seperti suara gemuruh yang menggoncangkan ibu pertiwi. Raksasa tersebut tidak memili badan dan hanya kepala saja yang sangat besar ( raksasi ulu ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa rasa takut sang atma mendekati raksasi ulu tersebut sampil berkata dengan sangat halus, “ ibu terimalah sembah bakti hamba, hamba tidak ada lain adalah anakmu engkau lahirkan dahulu, hamba mengerti penjelmaan MU ini adalah salah satu kesaktian dari rahim yang ada dalam tubuhmu, ijinkan hamba lewat untuk menuju tempat yang harus hamba tuju “ sang raksasi ulu menjawab “ wahai engkau anakku sang atma suci, engkau sangat paham dengan aji kemoksan ( ajaran moksa ) dan sangat tekun dan taat kepada ajaran agama untuk itu ibu sangat mendoakan perjalananmu semoga kamu tidak menemui rintangan sang sulit dan semoga kamu mendapat tempat yang utama nantinya, aku akan membuatkanmu jalan melewati daerah kekuasaanku “ setelah selesai menerima sembah bakti dari sang atma raksasi tersebut berbalik dan bergelinding membuatkan jalan untuk sang atma karena kesaktian sang raksasi apapun yang tersentuh olehnya hancur berantakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang atma melanjutkan perjalanan setelah menghaturkan terima kasih kepada sang raksasi ulu, didepan terlihat pegunungan yang cukup sulit untuk dilewati di sebuah lembah sang atma kembali bertemu dengan macan yang sangat galak dan mengerikan, sambil mengeluarkan suara yang menyayat sang macan bersiap untuk menerkam sang atma, sang atma berhenti sambil berkata dengan lembah lembut “ uduh idewa ( wahai engkau ) sang macan mungkin engkau belum mengetahui  siapa aku sebenarnya, aku tiada lain adalah soudaramu di kehidupan yang lalu, sewaktu didalam kandungan wujudmu adalah darah, setelah waktunya untuk lahir engkau dan aku secara bersamaan lahir dari rahim sang ibu, kelahiran kita secara bersamaan pada saat kehidupan di dunia “&lt;br /&gt;Setelah mendengan perkataan sang atma ssang macan mengerti dan menunduk sambil meninggalkan sang atma yang sedang berdiri, sang atma melanjutkan perjalanannya setelah melewati lebmah tersebut sang atma kembali melihat hutan dimana di hutan tersebut penuh dengan pohon bunga yang sedang berbunga, bau semerbak wangi dari bunga – bunga yang sedang mekar tersebut membuat sang atma terkagum – kagum, disisi lain burung dan hewan lainnya bernyani riang seperti musik yang menyambut kehadiaran sang atma, sambil berlompat kesana kemari binatang – binatang yang ada di hutan tersebut seperti menari – nari melihat kehadiran sang atma tidak bisa diceritakan keindahan yang ada di tempat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang atma melihat seekor anjing besar berwarna hitam pekat menghampiri sang atma seraya duduk didepan sang atma, sang atma yang betul – betul sudah mempelajari ajaran agama dengan baik dan menerapkannya samasa hidupnya berkata dengan lembut “ uduh asu selem idewa ( wahai sanga ajing hitam engkau ), aku tiada lain adalah kakakmu dikehidupan yang lalu dimana pada saat di dalam kandungan sang ibu engkau berwujud air ketuban ( yeh nyom ) engkau adalah adikku dalam kehidupan yang lalu dimana kita bersama – sama lahir kedunia “ . mendengan perkataan sang atma tersebut sang anjing hitam tersebut menunduk sambil menjilat sang atma, terasa kesedihan dalam diri sang anjing, sambil berdoa dalam hati sang anjing melepas kerinduannya kepada sang atma, selanjutnya sang anjing meninggalkan sang atma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu sang atma kembali melanjutkan perjalanannya tidak diceritakan jalan yang ditempuh, sampai sang atma sangat lelah dan dahaga, timbul niat sang atma untuk berhenti melepas lelah di sebuah pancuran yang ada didepannya,  setelah tiba di pancuran tersebut sang atma duduk disebuah batu yang ada disana. Tanpa disadari oleh sang atma ada sekelompok bebutan ( sejenis raksasa ) melesat menghampiri sang atma sambil mengepungnya, sambil bersorak gembira bebutan tersebut mengepung sang atma bersiap untuk memangsanya, dengan mengeluarkan senjata masing – masing para bebutan tersebut bersiap untuk mengoyak dan menikam sang atma .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang atma berkata dengan sangat halus kepada kelompok bebutan tersebut “ uduh idewa sang bebuthan sami, kalau memang boleh jangan marah dengan keberadaan hamba disini, engkau sang bhawal, sang badpamiad  dan seterusnya ……… , engkau dan hamba adalah sama, aku sudah menjadi atma sudah berada di alam niskala ( dialam lain ), lebih baik engkau ke mercepada ( dunia )  disana keluaga hamba telah mempersiapkan sesajen yang berhak untuk kalian nikmati, idewa sang bhuta badmoti segehan bubuh dagianmu, idewa sang bhuta mrajasela sekar ura punyamu, merupa bubur pirata sang bhuta bhawal punyamu dan seterusnya ………….” Setelah mendengan perkataan sang atma suci kelompok bebhutan tersebut segera menghilang dari tempat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan sang atma sudah sampai di simpang tiga ( marga tiga ), sang atma bermaksud untuk berhenti sejenak untuk beristirahat namun belum sempat sang atma untuk duduk tiba – tiba terdegar suara gemuruh yang sangat keras angin bertiup sangat kencang semua hewan berlarian seperti ketakutan, namun sang atma tetap tegar menunggu apa yang akan datang, secara tiba – tiba muncul empat kala ( sejenis raksasa ) didepan sang atma rambutnya merah dan kusut, sambil setengah menari ke-empat kala tersebut secara bersamaan tertawa, suaranya sangat keras menyerupai gemuruh guntur dan kilat,  keempat kala tersebut berkata “ ini ada atma disini tampaknya sangat enak untuk dimangsa “  mendengar perkataan keempat kala tersebut sang atma menghaturkan sembah sambil berkata dengan lembut “ uduh beli ( wahai kakakku ) sang jogormanik, sang suratma, sang naha kala adikku, begitu juaga sang doro kala, hamba mohon engkau tidak menghlangi perjalanan hamba karena engkau berempat dan aku tidak ada lain dan tiada bukan adalah bersaudara , ketika engkau kecil sang angga pati yang pertama sang prajepati yang kedua sang banas pati yang ketiga dan yang keempat sang banaspati raja , didalam tubuh engkau juga memiliki tempat  seperti sang prajapati engkau di hati tempatmu dan seterusnya …………….. begitulah keberadaan kalian semuanya, lebih baik  kalian berempat kerumah hamba di mercapada ( bumi ) disana telah disiapkan saji darpana agung silakan dinikmati di sana. Selanjutnya ijinkan saya melanjutkan perjalanan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat kala tersebut berkata “ inggih sang atma suci silakan melanjutkan perjalanan semoga engkau memperoleh sorga yang utama” selanjutnya dicerikan sang atma dan sang kala berpissah, sang atma melanjutkan perjalanannya menuju timur laut ( kaja kangin  / airsenia ), setelah melewati beberapa rintanggan akhirnya sang atma tiba disebuah taman yang sangat indah dan semerbak wangi dari kembang yang tumbuh di sekitar taman tersebut airnya sangat suci dan dingin taman tersebut bernama PANCAKA  TIRTA, sang atma mandi ditaman tersebut untuk mensucikan dirinya karena taman tersebut adalah anugrah IDA SANG HYANG WISNU untuk mensucikan atma yang bendak menuju sorga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sang atma sedang mandi berita tentang kedatangan sang atma sudah tida di swarga selanjutnya para dewa – dewi, bidadari mempersiapkan penyambutan, dengan diiringi suara musik yang sendu rombongan penyembut tersebut menuju tempat PANCAKA TIRTA tempat sang atma mensucikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan kembali sang atma yang telah selesai mandi berteduh disebuah pohon untuk melepas lelah sambil menikmati pemandangan, terdengan suara sayup – sayup musik yang sangat indah dari kejauhan dengan diiringi bau harum yang semerbak, sang atma duduk bersila sambil menunggu kedatangan suara tersebut, setelah rombongan penjemput tersebut tiba sang atma menghaturkan sembah bakti kepada para dewa yang mendekatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu dari para dewa tersebut berkata “ uduh dewa ( wahai engkau ) sang atma engkau sangat taat, suci dan uttama kami semua datang untuk menjemput kedatangan mu menuju sorga, kamu pantas untuk mendapatkan sorga yang utama, yang akan kamu peroleh adalah rumah yang terbuat dari emas yang terbaik”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang atma menghaturkan sembah seraya berkata “ sembah sujud hamba kehadapat para dewata semua hamba mohon jangan melebih – lebihkan hamba sebenarnya hamba tidak mengetahui apa – apa, hamba mohon ampun jika perkataan hamba ada yang salah “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa tersebut berkata “ itu memang benar dalam kehidupanmu di dunia kamu telah sangat tulus dalam berbuat baik kepada dewa ( TUHAN ), manusia, dan alam, menjalankan apa yang menjadi tugasmu tanpa pambrih, tidak tergoda dan selalu menghaturkan sesajen walaupun sekedar canang dan dupa, walaupun hanya dengan doa, yang penting adalah ketulusan. Ingat dengan leluhur, beryadnya semampunya, nah sekarang naiklah ke joli emas itu kita lanjutkan perjalanan menuju sorga “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengan perkataan dewa tersebut sang atma tidak berani membantah dan naik keatas joli emas yang sangat indah dihiasi dengan manik dan batu permat, diceritakan rombongan tesebut telah tiba di pintu gerbang menuju sorga didepan pintu gerbang tersebut terdapat sebuah balai ( bangunan ) yang sangat indah dihiasi emas dan permata, di tempat tersebut telah menunggu RESI ( pemimpin umat ) sorga untuk menyucikan sang atma. Upacara penyucian untuk sang atma digelar dengan sangat khusuk, setelah upacara tersebut selesai sang atma diantar menuju sorga dan tempat yang terlah ditentukan, di tempat tersebut sang atma bertemu dengan orang tua dan sanak saudaranya yang telah terlebih dahulu menempuh perjalanan tersebut, sambil menangis keluarga tersebut melepas kerinduannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diceritakan berapa lama sang atma berada di tempat tersebut sampai akhirnya semua atma dijemput menuju SIWA LOKA ( tempat bersatunya Atma dengan Prama Atma atau atma dengan SANG PENCIPTANYA ) hal tersebut merupakan tujuan terakhir dari perjalanan atma dalam ajaran Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai disini dulu ya &gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&lt;br /&gt;ternyata susah juga ya mencari sorga &gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&lt;br /&gt;nah kapan lagi mau berbuat baik &gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&lt;br /&gt;ada yang bilang NASA udah mencapai planet lain tapi kita tetap mempelajari ini dari jaman dahulu &gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&lt;br /&gt;so terserah kalian deh &gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini dikutip dari GEGURITAN ATMA PRASANGSA jika dalam penulisannya ada salah ataupun ceitanya kurang tepat saya minta maaf  namun secara garis besar cerita tersebut menggambarkan perjalanan atma yang suci menuju sorga &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5793188356812913061-283420204471895910?l=serombotan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serombotan.blogspot.com/feeds/283420204471895910/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5793188356812913061&amp;postID=283420204471895910' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/283420204471895910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/283420204471895910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serombotan.blogspot.com/2009/01/perjalanan-atma-roh-menuju-sorga.html' title='PERJALANAN ATMA / ROH MENUJU SORGA ( BERSATU DENGAN PARAMA ATMA )'/><author><name>gusade777</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04034465685906450642</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5793188356812913061.post-5269324231321082305</id><published>2009-01-07T21:12:00.000-08:00</published><updated>2009-01-20T07:09:01.404-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='OBAT TRADISIONAL'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://http://books.google.com/books?id=iheRgW_T0_MC&amp;amp;pg=PA222&amp;amp;lpg=PA222&amp;amp;dq=taru+pramana&amp;amp;source=web&amp;amp;ots=9m9uVN1VN5&amp;amp;sig=ohee4Tp8scPtXJraxHecpRyiq4I&amp;amp;hl=en&amp;amp;sa=X&amp;amp;oi=book_result&amp;amp;resnum=8&amp;amp;ct=result#PPA219,M2"&gt;Obat Tradisional&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5793188356812913061-5269324231321082305?l=serombotan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serombotan.blogspot.com/feeds/5269324231321082305/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5793188356812913061&amp;postID=5269324231321082305' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/5269324231321082305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/5269324231321082305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serombotan.blogspot.com/2009/01/obat-tradisional.html' title=''/><author><name>gusade777</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04034465685906450642</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5793188356812913061.post-6104724443147751463</id><published>2008-12-19T09:50:00.000-08:00</published><updated>2009-01-20T06:58:10.452-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TARI BALI'/><title type='text'>TARI OLEG TAMULILINGAN</title><content type='html'>Oleg dapat berarti gerakan yang lemah gemulai, sedangkan tambulilingan berarti kumbang pengisap madu bunga. Tari Oleg Tambulilingan melukiskan gerak-gerik seekor kumbang, yang sedang bermain-main dan bermesra-mesraan dengan sekuntum bunga di sebuah taman. Tarian ini sangat indah.&lt;br /&gt;Tari Oleg Tambulilingan, yang semula dinamakan Tambulilingan Mangisep Sari, merupakan ciptaan I Ketut Mario dari Tabanan pada tahun 1952 atas permintaan John Coast (dari Amerika).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Terpujilah I Mario. Tari Oleg Tambulilingan yang diraciknya pada tahun 1951 hingga kini senantiasa abadi. Remaja putra dan putri selalu bermimpi untuk bisa menarikannya dengan sempurna. Selain sebagai simbol romantisme laki-perempuan, gerak tari Oleg juga mengandung karakter keindahan yang khas Bali. Foto-foto Oleg selalu menghiasi majalah, iklan penerbangan, iklan bank, billboard pinggir jalan dan media lain yang ingin melukiskan khasnya keindahan Bali. Namun tidak banyak yang tahu awal mula koreografer I Mario menciptakan tari ini, apalagi mengetahui stil gerakannya yang asli. Untuk mengenal Mario, Disbudpar Tabanan menggelar Lomba Tari Oleg Tambulilingan dan Kebyar Terompong se-Bali, 25-27 Maret lalu, di Gedung Mario Tabanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I Mario lahir dengan nama I Ketut Maria. Hanya peneliti-peneliti dari Eropa dan AS -- dengan lidah Barat, tentunya -- menyebutnya dengan nama I Mario. Nama itu kemudian lebih populer dari nama sesungguhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama I Mario abadi, karena nilai pemberontakannya yang kental terhadap gerak-gerak tari Bali. Ia dianggap pencipta karakter gerak yang khas, keras sekaligus romantis. Maka tidaklah salah, jika Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Tabanan punya niat baik menyelenggarakan Lomba Tari Oleg Tambulilingan dan Kebyar Terompong beberapa waktu lalu, untuk melestarikan sekaligus meneladani karakter kesenimanan koreografer tradisional asal Tabanan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat baik Dsbudpar Tabanan ini dapat sambutan besar dari remaja putra dan putri di seluruh Bali. Dalam catatan panitia, ratusan remaja peserta mendaftarkan diri, namun panitia hanya menyediakan tempat bagi 40 pasang penari Oleg dan 16 penari Kebyar Terompong. Jumlah ini jauh lebih besar ketimbang lomba yang digelar tahun lalu yang hanya diikuti belasan peserta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa generasi muda begitu antusias mengikuti lomba ini? Tentu banyak alasannya. Selain jumlah hadiahnya cukup spektakuler (total Rp 37 juta), mereka punya mental kompetitif tinggi untuk membuktikan dialah penari Oleg terbaik di Bali. "Tari Oleg itu lembut namun punya tingkat kesulitan tinggi, sehingga saya sangat ingin jadi yang terbaik dari seluruh penari Oleg di Bali," begitu pengakuan Wiwik, seorang peserta yang datang jauh-jauh dari Karangasem. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat lebih luhur dari Disbudpar yang patut dihargai adalah keinginannya mempertahankan stil koreografi I Mario yang memang khas. Masalahnya, dalam perkembangan tari Oleg dan Kebyar Terompong belakangan ini terdapat semacam rasa waswas bahwa "Oleg yang asli Mario" bakal punah digerus gelombang kreativitas yang tak tentu arah. Kecemasan itu datang dari salah seorang murid I Mario, I Gusti Agung Ngurah Supartha, yang saat lomba juga bertindak sebagai juri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Kepala Taman Budaya Denpasar ini menuturkan, dalam perkembangan tari Oleg dan Kebyar Terompong memang terdapat perubahan-perubahan gerak yang baik. Namun jika diamati dengan cermat, perubahan itu lebih banyak buruknya. Misalnya banyak terjadi penyederhanaan. Satu contoh dalam gerak tulak angsul. Menurutnya, dalam gerak ngrangrang menjadi ngelung kiri dan pacak gulu terdapat unsur gerak tulak angsul. Jika dihitung, kata Supartha, dalam rangkaian ini sesungguhnya terdapat enam gerakan, namun biasa disederhanakan menjadi dua gerak, yakni gerakan tangan tulak dan angsul saja. "Padahal di sana terdapat juga unsur ngeleog, ngelier dan sebagainya," ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari properti, katanya, kini penari laki-laki Oleg dan Kebyar Terompong banyak menggunakan kancut yang pendek. Padahal Mario sengaja menciptakan kancut sepanjang 5 meter untuk menciptakan kesempurnaan keindahan tari. Dulu, kenangnya, seorang penari belajar hingga berbulan-bulan hanya untuk ngampigan kancut. Begitu pula dengan kipas. Kipas, dalam stil Mario, biasa diputar dengan kesempurnaan gerak jari yang rumit. "Namun kini kipas biasa hanya gejer-gejer saja," ungkapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengenalan stil Mario, menurut konsultan seni budaya di KBRI Washinton DC ini, bukan untuk memasung kreativitas. Tetapi justru sebagai pemicu kreativitas dengan memperkenalkan kepada generasi muda bentuk-bentuk pemberontakan koreografi yang dilakukan Mario pada masanya. Dalam Oleg Tambulilingan, katanya, bisa dilihat simbol-simbol pemberontakan gerak yang dilakukan Mario dalam seni tari Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pengamat seni muda Tabanan, Putu Arista Dewi, mengakui stil asli Mario memang seharusnya dikenal secara cermat. Banyak puncak pencapaian gerak dari Mario yang sulit ditandingi seniman masa kini. Misalnya dari segi properti; kipas, panggul terompong, kancut dan sebagainya, dalam gerak tari ciptaan Mario bukan hanya berfungsi sebagai alat semata. Namun properti itu menyatu, saling mendukung dengan gerak tubuh si penari. Makanya, pemilik Sanggar Tari Taman Budaya ini menilai lomba yang digelar Disbudpar bisa dijadikan salah satu pemicu pengenalan stil Mario kepada generasi muda. Meski begitu, Arista berharap pihak Disbudpar atau siapa pun yang bertanggung jawab terhadap seni-budaya di Bali agar menggelar pembinaan secara terus-menerus. Tak cukup hanya dengan lomba, juga memberikan workshop kepada pembina-pembina sanggar di Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan serupa diungkapkan Ayu Trisna Dewi Prihatini. Pemilik Sanggar Tari Ayu ini berharap stil Mario ini dilestarikan agar tak keburu punah dan tak terlacak asal-usulnya. Caranya, seperti kata Arista, Ayu menyarankan workshop terus-menerus dilakukan, tiap bulan, bahkan tiap minggu. Harapan ini mendapat dukungan dari dosen karawitan STSI asal Tunjuk, Tabanan, I Made Arnawa, SSKar. Menurutnya, lomba ini amat baik untuk membuktikan sejauh mana ciptaan Mario ini telah direvisi dan diaplikasikan lagi oleh koreografer penerusnya. Dari sini, katanya, bisa dikenalkan kembali stil-stil gerak Mario yang sesungguhnya. Dan, ini menjadi tantangan tersendiri bagi penanggung jawab kesenian di Bali. Caranya, bukan hanya menggelar lomba, juga menggelar workshop secara rutin. "Dengan cara itu, kisah unik terciptanya tari Oleg sekaligus semangat berkesenian Mario juga bisa dikenal secara luas," ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ''Sleeping Beauty'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah terciptanya tari Oleg Tambulilingan memang berbelit sekaligus unik. Dalam orasi ilmiah yang disampaikan saat pembukaan lomba, Senin (25/3) lalu, Rektor ISI Yogyakarta Prof. Dr. I Made Bandem menceritakan, pada tahun 1950 datanglah seorang impresario Inggris Jhon Coast. Mantan staf Kedutaan Inggris di Jakarta ini bersama istrinya menetap di Kaliungu, Denpasar, selama dua tahun. Untuk mewujudkan suatu diplomasi kebudayaan, ia berhasrat membawa sebuah misi kesenian besar ke Eropa dan AS. Ia pun menghadap Presiden Soekarno, dan niatnya itu disetujui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jhon Coast menyiapkan misi keseniannya dari Bali. Dari buku-buku laporan peneliti asing yang menetap di Bali pada tahun 1920-an dan 1930-an, Coast akhirnya mengetahui tentang penari terkenal I Mario dan muridnya I Sampih dari Peliatan, Ubud. Coast bersahabat baik dengan pemain kendang dan Ketua Sekaa Gong Peliatan Anak Agung Gde Mandera, sehingga melalui Mandera, I Mario akhirnya bisa ditemukannya. Mandera mengutus I Sampih mencari I Mario ke Banjar Lebah, Tabanan. Awalnya I Mario menolak bergabung kembali ke Sekaa Gong Peliatan karena merasa tua dan sakit-sakitan. Saat itu umur Mario diperkirakan lebih dari 50 tahun. Namun, atas desakan bertubi-tubi dari I Sampih, penggemar sabungan ayam itu akhirnya mau ke Peliatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada April 1951, ketika Jhon Coast memiliki kepastian untuk membawa misi kesenian ke Eropa dan AS, ia meminta I Mario bersama Anak Agung Gde Mandera menciptakan tari baru untuk melengkapi repertori gong Peliatan yang saat itu hanya memiliki tari Janger dan Legong Keraton. Coast menawarkan I Mario menciptakan tari baru dengan menggunakan penari Legong Keraton, Ni Gusti Ayu Raka Rasmin, dan penari Kebyar Duduk, I Sampih. Maestro yang lahir di Belaluan, Denpasar, pada 1899 ini menyanggupinya, namun dalam waktu cukup lama ia merenung dan tak memiliki gagasan untuk menciptakan tari yang dimaksud Coast. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Coast merangsang I Mario dengan memperlihatkan buku-buku tari klasik Ballet yang dilengkapi foto-foto tari duet Sleeping Beauty, kisah tentang percintaan Putri Aurora dengan kekasihnya Pangeran Charming. Imajinasi Mario pun bangkit. Dari foto-foto itu ia mendapat inspirasi untuk menciptakan tari Oleg Tambulilingan. Ia langsung mengajar I Sampih tabuh lagu-lagu sederhana agar bisa memulai latihan dengan Ni Gusti Ayu Raka Rasmin. Sesudah batang-tubuh tari terwujud secara kasar, giliran Sekaa Gong Peliatan diajarkan tabuh lagu. Lagu yang diajarkan sebuah lagu kebyar untuk tari laki-laki. Dari kisah itu akhirnya terciptalah tari duet yang hingga kini monumental. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya I Mario menyebut tari ciptaannya dengan nama Tumulilingan Mangisep Sari, namun dalam perkembangan berikutnya tari ini dikenal dengan sebutan Oleg Tambulilingan. Tari ini dipentaskan pertama kali akhir Juli 1951 di Peliatan, Ubud, ketika John Coast dan Sekaa Gong Peliatan menjamu sekitar 120 anggota Delegasi United Nations Organitation (PBB) usai mengadakan konferensi di Bali Hotel Denpasar. Di hadapan anggota delegasi itu I Mario juga memperlihatkan taksu-nya ketika mempertunjukkan tari Kebyar Terompong bersama I Sampih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uniknya kisah penciptaan Oleg ini, menurut Arista, bisa dilacak karakter kesenimanan Mario yang keras, kental dan kompromis. Ia mengambil inspirasi dari Barat (tari Ballet), juga mempertahankan gerak klasik Legong Keraton dan sedikit nuansa Janger. Dalam hal pemberontakan gerak, Mario bahkan telah dikenal sebelumnya ketika untuk pertama kali menciptakan tari kekebyaran yang gesit, agresif dan atraktif, sehingga banyak yang sepakat Mario itu seniman sejati. Ia memang seorang maestro. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I Gusti Ayu Raka, Penari Pertama Oleg Tamulilingan&lt;br /&gt;Tari Oleg Tambulilingan hidup dalam "keabadian".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remaja Pulau Dewata senantiasa berangan-angan bisa menguasai tari "romantis" itu secara sempurna. Namun untuk dapat menari Oleg Tambulilingan secara paripurna, memang tidak mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleg Tambulilingan adalah tari yang mengandalkan kelincahan olah tubuh diiringi instrumen gamelan hasil "racikan" (alm) I Ketut Maria, seniman asal Tabanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koreografer yang lebih dikenal dengan panggilan Mario menjadikan Tamulilingan sebagai ikon yang amat kesohor hingga ke mancanegara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah I Gusti Ayu Raka (68), wanita yang beruntung didaulat I Ketut Maria menjadi penari perdana tari "romantisme" itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat gemulai tubuh perempuan kelahiran Gianyar, 31 Desember 1939 itu, Oleg Tamulilingan menjadi termasyhur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu dari empat putra-putri yang masih enerjik pada usia senjanya itu memang mengabdikan hidupnya untuk menari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bila tak menari, tubuh terasa kelu. Saya senang mewariskan Legong dan Oleg Tamulilingan kepada generasi penerus sebagai pengorbanan suci (nyadnya)," tutur istri (almarhum) Anak Agung Gede Djelantik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat kharisma, kepiawaian dan kelincahan yang dimilikinya, Ayu Raka terbang ke berbagai negara untuk menari Oleg Tamulilingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok wanita yang masih "menyimpan" sisa-sisa wajah menawan itu, pertama kali melawat ke Paris, lantas ke Eropa dan Amerika Serikat pada 1953. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menginjak umur 12 tahun, Ayu Raka bergabung dengan Sekaha Gong Peliatan, perkampungan seniman Ubud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lawatan tim kesenian Indonesia tersebut meraih sukses yang luar biasa dan Ayu Raka cilik saat itu dielu-elukan sebagai penari bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang impresario asal Inggris, John Coast menobatkan Ayu Raka sebagai penari bintang, berkat penampilannya yang memukau saat menari Condong Legong, Garuda dan Oleg Tamulilingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Ayu Raka menjadi cover buku "Dancing Out of Bali" karya John Coast. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayu Raka juga pernah mengadakan lawatan ke China (1959), Pakistan (1964), Jepang (1968), Australia (1971), Eropa (1973), Amerika (1982) dan Singapura (1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayu Raka, putri sulung dari lima bersaudara pasangan I Gusti Putu Pageh-Ni Gusti Putu Kompyang itu sejak usia dini sangat menyenangi tari Bali. Ia diasuh seniman andal Gusti Made Sengog, selain mendapat motivasi kuat dari kedua orang tuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu kerap memperkuat tim kesenian Bali melanglang buana. Sampai kini Ayu Raka masih tetap aktif menularkan tari Legong dan Oleg Tambuliling kepada generasi penerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Usia boleh senja, tapi semangat tidak boleh sirna," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terhitung entah berapa ribu seniman terlahir dari hasil binaannya, termasuk seniman andal yang terhimpun dalam sanggar Cudo Mani Ubud, yang secara periodik mempunyai jadual manggung di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman Berat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayu Raka tidak serta merta menjadi bintang. Untuk menjadi maestro Oleg Tamulilingan ia harus menempuh "laku" berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada jamannya, untuk mendapatkan "agem" yang kuat tubuh harus tengkurap di lantai, kemudian diinjak-indak dan di bawah kedua ketiak diikat stagen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk melatihan gerakan `ngelayak`, ia harus bersandar di atas meja atau tembok," katanya. Tubuh betul-betul terasa sakit setelah seharian latihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama belajar tari Oleg dari I Ketut Maria, Ayu Raka digembleng dengan berbagai gerakan sulit. Mario, menurut Ayu Raka sering berlaku galak, jika murid-murid binaannya melakukan "agem dan tanjek" yang tidak benar serta kurang senyum.&lt;br /&gt;Kisah terciptanya Tari Oleg Tambulilingan memang unik dan berbelit-belit. Menurut gurubesar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Prof Dr I Made Bandem, pada tahun 1950 datanglah seorang impresario Inggris, Jhon Coast. Mantan Staf Kedutaan Inggris di Jakarta bersama istrinya menetap di Kaliungu, Denpasar, selama dua tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan suatu diplomasi kebudayaan, ia berhasrat membawa sebuah misi kesenian besar ke Eropa dan AS. Ia pun menghadap Presiden Soekarno waktu itu, untuk menyampaikan niatnya yang akhirnya mendapat restu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Coast menyiapkan misi keseniannya di Pulau Dewata. Buku-buku laporan peneliti asing yang menetap di Bali pada tahun 1920-1930-an dipelajarinya dan akhirnya mengetahui tentang penari terkenal I Mario dan muridnya I Sampih dari Peliatan Ubud. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coast bersahabat baik dengan pemain kendang dan Ketua Sekeha Gong Peliatan Anak Agung Gde Mandera, sehingga melalui Mandera, I Mario akhirnya bisa ditemukannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandera mengutus I Sampih mencari I Mario ke Banjar Lebah Tabanan. Awalnya I Mario menolak bergabung kembali ke Sekeha Gong Peliatan karena merasa tua dan sakit-sakitan. Saat itu umur Mario diperkirakan lebih dari 50 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, atas desakan dan pendekatan I Sampih, penggemar sabung ayam itu akhirnya mau ke Peliatan. Pada April 1951, ketika John Coast akan membawa misi kesenian ke Eropa dan AS, ia meminta I Mario bersama Anak Agung Gde Mandera menciptakan tari baru untuk melengkapi repertori Gong Peliatan yang saat itu hanya memiliki Tari Janger dan Legong Keraton. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coast menawarkan I Mario menciptakan tari baru dengan menggunakan penari Legong Keraton, Ni Gusti Ayu Raka Rasmi dan penari Kebyar Duduk, I Sampih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maestro yang lahir di Belaluan Denpasar pada 1899 ini menyanggupinya, namun setelah lama ia merenung dan ia tak memiliki gagasan untuk menciptakan tari yang dimaksud Coast.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Coast merangsang I Mario dengan memperlihatkan buku-buku Tari Klasik Ballet yang dilengkapi foto-foto tari "Sleeping Beauty", kisah tentang percintaan Putri Aurora dengan kekasihnya Pangeran Charming. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi Mario pun bangkit. Dari foto-foto itu ia mendapat inspirasi untuk menciptakan tari Oleg Tamulilingan. Ia langsung mengajar I Sampih tabuh lagu-lagu sederhana agar bisa memulai latihan dengan Ni Gusti Ayu Raka Rasmi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah batang-tubuh tari terwujud secara kasar, giliran sekeha Gong Peliatan diajarkan tabuh lagu kebyar untuk mengiringi tari peran laki-laki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kisah itu akhirnya terciptakan tari duet yang monumental, meskipun awalnya I Mario menyebut dengan nama Tumulilingan Mangisep Sari, namun akhirnya lebih populer dengan tari Oleg Tambulilingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5793188356812913061-6104724443147751463?l=serombotan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serombotan.blogspot.com/feeds/6104724443147751463/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5793188356812913061&amp;postID=6104724443147751463' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/6104724443147751463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/6104724443147751463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serombotan.blogspot.com/2008/12/tari-oleh-tamulilingan.html' title='TARI OLEG TAMULILINGAN'/><author><name>gusade777</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04034465685906450642</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5793188356812913061.post-504377966567803835</id><published>2008-12-14T07:41:00.000-08:00</published><updated>2009-01-20T07:05:05.782-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KESEHATAN'/><title type='text'>KESULITAN MAKAN PADA ANAK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1ceAZbbktbQ/SUUqkuwSY4I/AAAAAAAAABE/JKVY4pIjgf4/s1600-h/young_Krisn.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 216px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1ceAZbbktbQ/SUUqkuwSY4I/AAAAAAAAABE/JKVY4pIjgf4/s320/young_Krisn.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279672948675994498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESULITAN MAKAN PADA ANAK&lt;br /&gt;GANGGUAN PENCERNAAN, PENYEBAB UTAMA KESULITAN MAKAN PADA ANAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian makan pada anak memang sering menjadi masalah buat orangtua atau pengasuh anak. Keluhan tersebut sering dikeluhkan orang tua kepada dokter yang merawat anaknya. Faktor kesulitan makan pada anak inilah yang sering dialami oleh sekitar 25% pada usia anak, jumlah akan meningkat sekitar 40-70% pada anak yang lahir prematur atau dengan penyakit kronik. Hal ini pulalah yang sering membuat masalah tersendiri bagi orang tua, bahkan dokter yang merawatnya. Penelitian yang dilakukan di Jakarta menyebutkan pada anak prasekolah usia 4-6 tahun, didapatkan prevalensi kesulitan makan sebesar 33,6%. Sebagian besar 79,2% telah berlangsung lebih dari 3 bulan&lt;br /&gt;Kesulitan makan karena sering dan berlangsung lama sering dianggap biasa. Sehingga akhirnya timbul komplikasi dan gangguan tumbuh kembang lainnya pada anak. Salah satu keterlambatan penanganan masalah tersebut adalah pemberian vitamin tanpa mencari penyebabnya sehingga kesulitan makan tersebut terjadi berkepanjangan. Akhirnya orang tua berpindah-pindah dokter dan berganti-ganti vitamin tapi tampak anak kesulitan makannya tidak membaik. Sering juga terjadi bahwa kesulitan makan tersebut dianggap dan diobati sebagai infeksi tuberkulosis yang belum tentu benar diderita anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penanganan kesulitan makan pada anak yang optimal diharapkan dapat mencegah komplikasi yang ditimbulkan, sehingga dapat meningkatkan kualitas anak Indonesia dalam menghadapi persaingan di era globalisasi mendatang khususnya. Tumbuh kembang dalam usia anak sangat menentukan kualitas seseorang bila sudah dewasa nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GEJALA SUATU PENYAKIT&lt;br /&gt;Kesulitan makan bukanlah diagnosis atau penyakit, tetapi merupakan gejala atau tanda adanya penyimpangan, kelainan dan penyakit yang sedang terjadi pada tubuh anak. Pengertian kesulitan makan adalah jika anak tidak mau atau menolak untuk makan, atau mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan atau minuman dengan jenis dan jumlah sesuai usia secara fisiologis (alamiah dan wajar), yaitu mulai dari membuka mulutnya tanpa paksaan, mengunyah, menelan hingga sampai terserap dipencernaan secara baik tanpa paksaan dan tanpa pemberian vitamin dan obat tertentu. Gejala kesulitan makan pada anak (1). Kesulitan mengunyah, menghisap, menelan makanan atau hanya bisa makanan lunak atau cair, (2) Memuntahkan atau menyembur-nyemburkan makanan yang sudah masuk di mulut anak, (3).Makan berlama-lama dan memainkan makanan, (4) Sama sekali tidak mau memasukkan makanan ke dalam mulut atau menutup mulut rapat, (5) Memuntahkan atau menumpahkan makanan, menepis suapan dari orangtua, (6). Tidak menyukai banyak variasi makanan dan (7), Kebiasaan makan yang aneh dan ganjil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENYEBAB UTAMA KESULITAN MAKAN&lt;br /&gt;Penyebab kesulitan makanan itu sangatlah banyak. Semua gangguan fungsi organ tubuh dan penyakit bisa berupa adanya kelainan fisik, maupun psikis dapat dianggap sebagai penyebab kesulitan makan pada anak. Kelainan fisik dapat berupa kelainan organ bawaan atau infeksi bawaan sejak lahir dan infeksi didapat dalam usia anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum penyebab umum kesulitan makan pada anak dibedakan dalam 3 faktor, diantaranya adalah hilang nafsu makan, gangguan proses makan di mulut dan pengaruh psikologis. Beberapa faktor tersebut dapat berdiri sendiri tetapi sering kali terjadi lebih dari 1 faktor. Penyebab paling sering adalah hilangnya nafsu makan, diikuti gangguan proses makan. Sedangkan faktor psikologis yang dulu dianggap sebagai penyebab utama, mungkin saat mulai ditinggalkan atau sangat jarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh hilang atau berkurangnya nafsu makan tampaknya merupakan penyebab utama masalah kesulitan makan pada anak. Pengaruh nafsu makan ini bisa mulai dari yang ringan (berkurang nafsu makan) hingga berat (tidak ada nafsu makan). Tampilan gangguan yang ringan berupa minum susu botol sering sisa, waktu minum ASI berkurang (sebelumnya 20 menit menjadi 10 menit), makan sering sisa atau hanya sedikit atau mengeluarkan dan menyembur-nyemburkan makanan di mulut. Sedangkan gangguan yang lebih berat tampak anak menutup rapat mulutnya atau tidak mau makan dan minum sama sekali. Berkurang atau hilangnya nafsu makan ini sering diakibatkan karena gangguan fungsi saluran cerna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan fungsi pencernaan tersebut kadang tampak ringan seperti tidak ada gangguan. Tanda dan gejala yang menunjukkan adanya gangguan tersebut adalah perut kembung, sering “cegukan”, sering buang angin, sering muntah atau seperti hendak muntah bila disuapin makan. Gampang timbul muntah terutama bila menangis, berteriak, tertawa, berlari atau bila marah. Sering nyeri perut sesasaat, bersifat hilang timbul. Sulit buang air besar (bila buang air besar ”ngeden”, tidak setiap hari buang air besar, atau sebaliknya buang air besar sering (&gt;2 kali/perhari). Kotoran tinja berwarna hitam atau hijau, berbentuk keras, bulat (seperti kotoran kambing) atau cair disertai bentuk seperti biji lombok, pernah ada riwayat berak darah. Gangguan tidur malam : malam rewel, kolik, tiba-tiba mengigau atau menjerit, tidur bolak balik dari ujung ke ujung lain tempat tidur. Lidah tampak kotor, berwarna putih serta air liur bertambah banyak atau mulut berbau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan saluran cerna biasanya disertai kulit yang sensitif. Sering timbul bintik-bintik kemerahan seperti digigit nyamuk atau serangga, biang keringat, kulit berwarna putih (seperti panu) di wajah atau di bagian badan lainnya. Saat bayi sering timbul gangguan kulit di pipi, sekitar mulut, sekitar daerah popok dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda dan gejala tersebut di atas sering dianggap biasa karena sering terjadi pada banyak anak. Padahal bila di amati secara cermat tanda dan gejala tersebut merupakan manifestasi adanya gangguan pencernaan, yang sangat mungkin berkaitan dengan kesulitan makan pada anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GANGGUAN PROSES MAKAN DI MULUT&lt;br /&gt;Proses makan terjadi mulai dari memasukkan makan dimulut, mengunyah dan menelan. Ketrampilan dan kemampuan koordinasi pergerakan motorik kasar di sekitar mulut sangat berperanan dalam proses makan tersebut. Pergerakan morik tersebut berupa koordinasi gerakan menggigit, mengunyah dan menelan dilakukan oleh otot di rahang atas dan bawah, bibir, lidah dan banyak otot lainnya di sekitar mulut. Gangguan proses makan di mulut tersebut seringkali berupa gangguan mengunyah makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampilan klinis gangguan mengunyah adalah keterlambatan makanan kasar tidak bisa makan nasi tim saat usia 9 bulan, belum bisa makan nasi saat usia 1 tahun, tidak bisa makan daging sapi (empal) atau sayur berserat seperti kangkung. Bila anak sedang muntah dan akan terlihat tumpahannya terdapat bentukan nasi yang masih utuh. Hal ini menunjukkan bahwa proses mengunyah nasi tersebut tidak sempurna. Tetapi kemampuan untuk makan bahan makanan yang keras seperti krupuk atau biskuit tidak terganggu, karena hanya memerlukan beberapa kunyahan. Gangguan koordinasi motorik mulut ini juga mengakibatkani kejadian tergigit sendiri bagian bibir atau lidah secara tidak sengaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelainan lain yang berkaitan dengan koordinasi motorik mulut adalah keterlambatan bicara dan gangguan bicara (cedal, gagap, bicara terlalu cepat sehingga sulit dimengerti). Gangguan motorik proses makan ini biasanya disertai oleh gangguan keseimbangan dan motorik kasar lainnya seperti tidak mengalami proses perkembangan normal duduk, merangkak dan berdiri. Sehingga terlambat bolak-balik (normal usia 4 bulan), terlambat duduk merangkak (normal 6-8 bulan) atau tidak merangkak tetapi langsung berjalan, keterlambatan kemampuan mengayuh sepeda (normal usia 2,5 tahun), jalan jinjit, duduk bersimpuh leter “W”. Bila berjalan selalu cepat, terburu-buru seperti berlari, sering jatuh atau menabrak, sehingga sering terlambat berjalan. Ciri lainnya biasanya disertai gejala anak tidak bisa diam, mulai dari overaktif hingga hiperaktif. Mudah marah serta sulit berkonsentrasi, gampang bosan dan selalu terburu-buru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan saluran pencernaan tampaknya merupakan faktor penyebab terpenting dalam gangguan proses makan di mulut. Hal ini dapat dijelaskan bahwa dengan teori ”Gut Brain Axis”. Teori ini menunjukkan bahwa bila terdapat gangguan saluran cerna maka mempengaruhi fungsi susunan saraf pusat atau otak. Gangguan fungsi susunan saraf pusat tersebut berupa gangguan neuroanatomis dan neurofungsional. Salah satu manifestasi klinis yang terjadi adalah gangguan koordinasi motorik kasar mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelainan bawaan adalah gangguan fungsi organ tubuh atau kelainan anatomis organ tubuh yang terjadi sejak pembentukan organ dalam kehamilan.Diantaranya adalah kelainan mulut, tenggorok, dan esofagus: sumbing, lidah besar, tenggorok terbelah, fistula trakeoesofagus, atresia esofagus, Laringomalasia, trakeomalasia, kista laring, tumor, tidak ada lubang hidung, serebral palsi, kelainan paru, jantung, ginjal dan organ lainnya sejak lahir atau sejak dalam kandungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila fungsi otak tersebut terganggu maka kemampuan motorik untuk makan akan terpengaruh. Gangguan fungsi otak tersebut dapat berupa infeksi, kelainan bawaan atau gangguan lainnya seperti serebral palsi, miastenia gravis, poliomielitis.. Bila kelainan susunan saraf pusat ini terjadi karena kelainan bawaan sejak lahir biasanya disertai dengan gangguan motorik atau gangguan perilaku dan perkembangan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GANGGUAN PSIKOLOGIS&lt;br /&gt;Gangguan psikologis dahulu dianggap sebagai penyebab utama kesulitan makan pada anak. Tampaknya hal ini terjadi karena dahulu kalau kita kesulitan dalam menemukan penyebab kesulitan makan pada anak maka gangguan psikologis dianggap sebagai diagnosis keranjang sampah untuk mencari penyebab kesulitan makan pada anak. Untuk memastikan gangguan psikologis sebagai penyebab utama kesulitan makan pada anak harus dipastikan tidak adanya kelainan organik pada anak. Kemungkinan lain yang sering terjadi, gangguan psikologis memperberat masalah kesulitan makan yang memang sudah terjadi sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan pskologis bisa dianggap sebagai penyebab bila kesulitan makan itu waktunya bersamaan dengan masalah psikologis yang dihadapi. Bila faktor psikologis tersebut membaik maka gangguan kesulitan makanpun akan membaik. Untuk memastikannya kadang sulit, karena dibutuhkan pengamatan yang cermat dari dekat dan dalam jangka waktu yang cukup lama. Karenanya hal tersebut hanya mungkin dilakukan oleh orang tua bekerjasama dengan psikater atau psikolog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakar psikologis menyebutkan sebab meliputi gangguan sikap negatifisme, menarik perhatian, ketidak bahagian atau perasaan lain pada anak, kebiasaan rewel pada anak digunakan sebagai upaya untuk mendapatkan yang sangat diinginkannya, sedang tertarik permainan atau benda lainya, meniru pola makan orang tua atau saudaranya reaksi anak yang manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa aspek psikologis dalam hubungan keluarga, baik antara anak dengan orang tua, antara ayah dan ibu atau hubungan antara anggota keluarga lainnya dapat mempengaruhi kondisi psikologis anak. Misalnya bila hubungan antara orang tua yang tidak harmonis, hubungan antara anggota keluarga lainnya tidak baik atau suasana keluarga yang penuh pertentangan, permusuhan atau emosi yang tinggi akan mengakibatkan anak mengalami ketakutan, kecemasan, tidak bahagia, sedih atau depresi. Hal itu mengakibatkan anak tidak aman dan nyaman sehingga bisa membuat anak menarik diri dari kegiatan atau lingkungan keluarga termasuk aktifitas makannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap orang tua dalam hubungannya dengan anak sangat menentukan untuk terjadinya gangguan psikologis yang dapat mengakibatkan gangguan makan. Beberapa hal tersebut diantaranya adalah : perlindungan dan perhatian berlebihan pada anak, orang tua yang pemarah, stress dan tegang terus menerus, kurangnya kasih sayang baik secara kualitas dan kuantitas, urangnya pengertian dan pemahaman orang tua terhadap kondisi psikologis anak, hubungan antara orang tua yang tidak harmonis, sering ada pertengkaran dan permusuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SERING OVERDIAGNOSIS PENYAKIT TUBERKULOSIS&lt;br /&gt;Penyakit TBC sering dianggap biang keladi penyebab utama kesulitan makan pada anak. Diagnosis pasti TBC anak sulit oleh karena penemuan kuman Micobacterium TBC (M.TBC) pada anak tidak mudah. Cara-cara lain untuk pemeriksaan laboratorium darah secara bakteriologis atau serologis masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk dapat dipakai secara praktis - klinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kesulitan diagnosis tersebut sering terjadi overdiagnosis atau underdiagnosis. Overdiagnosis artinya diagnosis TBC yang diberikan pada anak oleh dokter terlalu berlebihan atau terlalu cepat mendiagnosis dengan data yang minimal walaupun anak belum tentu menderita TBC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila terjadi overdiagnosis TBC pada anak terdapat konsekuensi yang tidak ringan dihadapi oleh si anak, karena anak harus mengkonsumsi 2 atau 3 obat sekaligus minimal 6 bulan. Bahkan kadangkala diberikan lebih lama apabila dokter menemukan tidak ada perbaikan klinis. Padahal obat TBC dalam jangka waktu lama beresiko mengganggu fungsi hati,persyarafan telinga dan organ tubuh lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering terjadi anak dengan keluhan alergi pernapasan atau gangguan pencernaan kronis (seperti coeliac dsbnya) yang disertai berat badan yang kurang dan sulit makan diobati sebagai penyakit Tuberkulosis (TBC) paru yang harus minum obat selama 6 bulan hingga 1 tahun. Padahal belum tentu anak tersebut mengidap penyakit tuberculosis. Bahkan orang tua heran saat anaknya divonis dokter mengidap penyakit TBC padahal tidak ada seorangpun di rumah yang mengalami penyakit TBC. Overdiagnosis dan overtreatment pada anak dengan gejala alergi tersebut sering terjadi karena keluhan alergi dan TBC hampir sama, sementara mendiagnosis penyakit TBC tidaklah mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosis Tuberkulosis anak menurut Pertemuan Dokter Anak pulmunologi tahun 2000 harus dengan pengamatan seksama tentang adanya : Gejala klinis, kontak erat serumah penderita TBC (dipastikan dengan dengan pemeriksaan dahak positif), pemeriksaan yang harus dilakukan adalah Foto polos dada (roentgen), tes mantouxt (positif : &gt; 15mm bila sudah BCG, Positif &gt; 10 mm bila belum BCG). Sering terjadi hanya dengan melakukan pemeriksaan satu jenis pemeriksaan saja, anak sudah divonis dengan penyakit TBC. Seharusnya pemeriksaan harus dilakukan secara lengkap dan teliti seperti di atas. Karena sulitnya mendiagnosis TBC pada anak dan kosekuensi lamanya pengobatan maka bila meragukan lebih baik dikonsultasikan atau dikonfirmasikan ke Dokter Spesialis Paru Anak (Pulmonologi Anak). Ciri lain yang menunjukkan kemungkinan anak sudah mengalami gangguan saluran cerna secara genetik atau sejak lahir dan bhuka penyakit TBC adalah anak sejak lahir beratnya tidak pernah optimal dan biasanya salah satu orangtuanya mempunyai berat badan yang kurus saat usia anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOMPLIKASI KESULITAN MAKAN&lt;br /&gt;Peristiwa kesulitan makan yang terjadi pada penderita Autis biasanya berlangsung lama. Komplikasi yang bisa ditimbulkan adalah gangguan asupan gizi seperti kekurangan kalori, protein, vitamin, mineral dan anemia (kurang darah). Defisiensi zat gizi ini ternyata juga akan memperberat masalah gangguan metabolisme dan gangguan fungsi tubuh lainnya yang terjadi pada penderita Autis. Keadaan ini tentunya akan menghambat beberapa upaya penanganan dan terapi yang sudah dilakukan selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan kalori dan protein yang terjadi tentunya akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada penderita Autis. Tampilan klinis yang dapat dilihat adalah kegagalan dalam peningkatan berat badan atau tinggi badan. Dalam keadaan normal anak usia di atas 2 tahun seharusnya terjadi peningkatan berat badan 2 kilogram dalam setahun. Pada penderita kesulitan makan sering terjadi kenaikkan berat badan terjadi agak susah bahkan terjadi kecenderunagn tetap dalam keadaan yang cukup lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENANGANAN KESULITAN MAKAN PADA ANAK&lt;br /&gt;Beberapa langkah yang dilakukan pada penatalaksanaan kesulitan makan pada anak yang harus dilakukan adalah : (1). Pastikan apakah betul anak mengalami kesulitan makan Cari penyebab kesulitan makanan pada anak, (2). Identifikasi adakah komplikasi yang terjadi, (3) Pemberian pengobatan terhadap penyebab, (4). Bila penyebabnya gangguan saluran cerna (seperti alergi, intoleransi atau coeliac), hindari makanan tertentu yang menjadi penyebab gangguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan fungsi pencernaan kronis pada anak tampaknya sebagai penyebab paling penting dalam kesulitan makan. Gangguan fungsi saluran cerna kronis yang terjadi seperti alergi makanan, intoleransi makanan, penyakit coeliac dan sebagainya. Reaksi simpang makanan tersebut tampaknya sebagai penyebab utama gangguan-gangguan tersebut. Hal ini bisa dilihat dengan timbulnya permasalahan kesulitan makan ini terbanyak saat usia di atas 6 bulan ketika mulai diperkenalkannya variasi makanan tambahan baru. Penelitian yang dilakukan di Picky Eater Clinic Jakarta menunjukkan, setelah dilakukan penghindaran makanan tertentu pada 218 anak dengan kesulitan makan dengan gangguan intoleransi makanan, alergi makanan, penyakit coeliac, Setelah dilakukan penghindaran makanan selama 3 minggu, tampak perbaikan kesulitan makan sejumlah 78% pada minggu pertama, 92% pada minggu ke dua dan 96% pada minggu ketiga. Gangguan saluran cerna juga tampak membaik sekitar 84% dan 94% penderita antara minggu pertama dan ketiga. Tetapi perbaikan gangguan mengunyah dan menelan hanya bisa diperbaiki sekitar 30%. Mungkin gangguan ini akan membaik maksimal seiring dengan pertambahan usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanganan dalam segi neuromotorik dapat melalui pencapaian tingkat kesadaran yang optimal dengan stimulasi sistem multisensoris, stimulasi kontrol gerak oral dan refleks menelan, teknik khusus untuk posisi yang baik. Penggunaan sikat gigi listrik dan minum dengan sedotan kadang membantu memperbaiki masalah ini. Aktifitas meniup balon atau harmonika dan senam mulut dengan gerakan tertentu juga sering dianjurkan untuk gangguan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian suplemen vitamin atau obat tertentu sering diberikan pada kasus kesulitan makan pada anak. Tindakan ini bukanlah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah, bila tidak disertai dengan mencari penyebabnya. Kadangkala pemberian vitamin atau obat-obatan justru menutupi penyebab gangguan tersebut, kalau penyebabnya tidak tertangani tuntas maka keluhan tersebut terus berulang. Bila penyebabnya tidak segera terdeteksi maka anak akan tergantung dengan pemberian vitamin tersebut Bila kita tidak waspada terdapat beberapa akibat dari pemberian obat-obatan dan vitamin dalam jangka waktu yang lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengatasi penyebab kesulitan makan sesuai dengan penyebab, harus ditunjang dengan cara pemberian makan yang sesuai untuk anak dengan kesulitan makan pada anak. Karena anak dengan gangguan makan kebiasaan dan perilaku makannya berbeda dengan anak yang sehat lainnya. Kesulitan makan disertai gangguan fungsi saluran cerna biasanya terjadi jangka panjang, dan sebagian akan berkurang pada usia tertentu. Gangguan alergi makanan akan membaik setelah usia setelah usia 5-7 tahun. Tetapi pada kasus penyakit coeliac atau intoleransi makanan terjadi dalam waktu yang lebih lama bahkan tidak sedikit yang terjadi hingga dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Widodo Judarwanto SpA&lt;br /&gt;ALLERGY BEHAVIOUR CLINIC – PICKY EATERS CLINIC (Klinik Khusus Kesulitan makan pada Anak)&lt;br /&gt;JL Rawasari Selatan 50, Cempaka Putih Jakarta Pusat&lt;br /&gt;Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat&lt;br /&gt;Rumah Sakit Bunda Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;1.Motala, C: New perspectives in the diagnosis of food allergy. Current Allergy and Clinical Immunology, September/October 2002, Vol 15, No. 3: 96-100&lt;br /&gt;2.Opper FH, Burakoff R. Food allergy and intolerance. Gastroenterologist. 1993;1(3):211-220.&lt;br /&gt;3.Carruth BR, Ziegler PJ, Gordon A, Barr SI.. Prevalence of picky eaters among infants and toddlers and their caregivers’ decisions about offering a new food. J Am Diet Assoc. 2004 Jan;104(1 Suppl 1):s57-64.&lt;br /&gt;4.Solihin Pujiadi. Ilmu Gizi Klinis pada Anak. Balai penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1993&lt;br /&gt;5.Agus Firmansyah.Aspek. Gastroenterology problem makan pada bayi dan anak. Pediatric Nutrition Update, 2003.&lt;br /&gt;6.Reau NR, Senturia YD, Lebailly SA, Christoffel KK.. Infant and toddler feeding patterns and problems: normative data and a new direction. Pediatric Practice Research Group.J Dev Behav Pediatr. 1996 Jun;17(3):149-53.&lt;br /&gt;7. Berg, Frances., ed. Afraid to Eat: Children and Teens in Weight Crisis. Hettinger, ND: Healthy Weight Institute, 402 S. 14th St., Hettinger, ND 58639, 1996.&lt;br /&gt;8. Chatoor I, Ganiban J, Hirsch R, Borman-Spurrell E, Mrazek DA.. Maternal characteristics and toddler temperament in infantile anorexia. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry. 2000 Jun;39(6):743-51.&lt;br /&gt;9.Carruth BR, Skinner J, Houck K, Moran J 3rd, Coletta F, Ott D.. The phenomenon of "picky eater": a behavioral marker in eating patterns of toddlers.J Am Coll Nutr. 1998 Apr;17(2):180-6.&lt;br /&gt;10. Hall, Lindsey, and Cohn, Leigh Bulimia: A Guide to Recovery Carlsbad, CA: Gürze Books, 1986.A two-week recovery program and a guide for support groups.&lt;br /&gt;11.Jacobi C, Agras WS, Bryson S, Hammer LD.Behavioral validation, precursors, and concomitants of picky eating in childhood. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry. 2003 Jan;42(1):76-84.&lt;br /&gt;12.Hirschmann, Jane R., CSW, and Zaphiropoulos, Lela, CSW. Preventing Childhood Eating Problems: A Practical, Positive Approach to Raising Children Free of Food &amp;amp; Weight Conflicts Carlsbad, CA: Gürze Books, 1993&lt;br /&gt;13.Kubersky, Rachel. Everything You Need to Know about Eating Disorders New York: Rosen Publishing Group, 1992.&lt;br /&gt;14.Levine, Michael, PhD, and Hill, Laura, PhD. A 5-Day Lesson Plan on Eating Disorders: Grades 7-12 Tulsa, OK: NEDO, 1996.&lt;br /&gt;Maine, Margo, PhD. Father Hunger: Fathers, Daughters, &amp;amp; Food Carlsbad, CA: Gürze Books, 1991.&lt;br /&gt;15. Judarwanto W. Mengatasi kesulitan makan Anak, Puspaswara, publisher, 2004.&lt;br /&gt;16.Judarwanti W. Pendekatan diet sebagai terapi kesulitan makan pada anak (belum dipublikasikan)&lt;br /&gt;17.Judarwanto W. Pengalaman Penatalaksanaan Kesulitan Makan pada Anak di Picky Eaters Clinic Jakrta.&lt;br /&gt;18.Satter, Ellyn, RD, ACSW. How to Get Your Kid to Eat…But Not Too Much: From Birth to Adolescence Palo Alto: Bull Publishing, 1987.&lt;br /&gt;19.Soepardi Soedibyo, Sri Nasar. Feeding problem from nutrition perspective.Pediatric nutrition update,2003.&lt;br /&gt;20.Agras S., Hammer L., McNicholas F. (1999). A prospective study of the influence of eating-disordered mothers on their children. International Journal of Eating Disorders, 25(3), 253-62.&lt;br /&gt;21.Bryant-Waugh R., Lask B. Eating Disorders in Children. Journal of Child Psychology and Psychiatry and Allied Disciplines 36 (3), 191-202, 1995.&lt;br /&gt;22.Kreipe RE. Eating disorders among children and adolescents. Pediatrics in Review, 16(10), 370-9, 1995.&lt;br /&gt;23.Marchi M., Cohen P. (1990). Early childhood eating behaviors and adolescent eating disorders. Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry,29(1), 112-7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5793188356812913061-504377966567803835?l=serombotan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serombotan.blogspot.com/feeds/504377966567803835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5793188356812913061&amp;postID=504377966567803835' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/504377966567803835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/504377966567803835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serombotan.blogspot.com/2008/12/kesulitan-makan-pada-anak-gangguan.html' title='KESULITAN MAKAN PADA ANAK'/><author><name>gusade777</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04034465685906450642</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1ceAZbbktbQ/SUUqkuwSY4I/AAAAAAAAABE/JKVY4pIjgf4/s72-c/young_Krisn.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5793188356812913061.post-7678673689166594994</id><published>2008-12-14T06:36:00.000-08:00</published><updated>2009-01-20T07:19:47.869-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='babad'/><title type='text'>babad buleleng</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1ceAZbbktbQ/SUUa1X1BNmI/AAAAAAAAAA8/xoztvWY_U1k/s1600-h/Puputan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 209px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1ceAZbbktbQ/SUUa1X1BNmI/AAAAAAAAAA8/xoztvWY_U1k/s320/Puputan.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279655642393556578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tidak ada halangan&lt;br /&gt;Pranamyam sira dewam, bhuktimukti itarttaya, prawaksyatwa wijneyah, brahmanam ksatriyadih, patayeswarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kalahnya Baginda Raja Bedahulu di Bali, oleh beliau Sri Aji Kala Gemet, sebagai pelindung daerah, yang berkedudukan di Majalange, akhirnya keadaan Bali pada saat itu menjadi tenang, sehingga tidak senanglah Patih Nirada Mada, melihat peraturan tata tertib rusak, adalah beliau yang bernama Dang Hyang Kapakisan, seorang pandita yang sudah sempurna, beliau dipakai sebagai bagawanta oleh Nirada Mada, beliau berputra yang lahir dari batu, hasil dari pemujaan beliau kepada Hyang Surya (Asurya sewana) sehingga mendapatkan seorang bidadari di taman, dia itulah akhirnya dipakai istri oleh beliau, akhirnya berputralah beliau laki-laki tiga orang, salah satu adalah wanita, mereka itulah yang dicalonkan oleh Gajah Mada untuk memerintah, dimohon kepada sang pendeta, yang tertua dinobatkan di Brambangan, adiknya memerintah di Pasuruhan, dan yang bungsu menjadi penguasa di daerah Bangsul (Bali), bernama Sri Dalem Kresna Kepakisan, I Dewa Wawu Rawuh nama lain beliau, beliau beristana di desa Samprangan, ada lagi pengikut baginda yang bertahta sebagai raja Bali Aga yang bergelar Maharaja Kapakisan, di antaranya, beliau Sirarya Kanuruhan, Arya Wangbang, Arya Kenceng, Arya Dalancang, Arya Tan Wikan, Arya Pangalasan, Arya Manguri, sira Wang Bang, terakhir Arya Kuta Waringin, dan ada lagi tiga orang wesya, bernama Tan Kober, Tan Kawur, Tan Mundur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama kelamaan wafatlah beliau Sri Dalem Kapakisan, beliau meninggalkan tiga orang putra laki-laki, satu orang perempuan, yang pertama bernama Dalem Samprangan, beliau suka bersolek, yang kedua bernama Dalem Tarukan, beliau kurang waras, mengawinkan saudara perempuannya dengan kuda, selanjutnya yang bungsu beliau bernama Dalem Ketut, beliau yang menggantikan kedudukan ayahnya, selanjutnya beralih istana ke Swecalinggarsapura.&lt;br /&gt;Setelah beliau kembali ke alam baka, beliau digantikan oleh putranya, yang bernama Dalem Watu Renggong. Setelah beliau wafat, beliau juga diganti oleh putranya, yang bergelar Dalem Sagening, yang selanjutnya banyak menurunkan anak cucu, itulah sebabnya ada jenjang martabat kebangsawanan keluarga kesatria ( nista, madya, dan utama). Semuanya adalah para putra awalnya, oleh beliau Sri Aji Dalem Sagening&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan beliau Arya Kapakisan, sebagai mahapatih daerah Bali, putra beliau yang tertua bernama Nyuh Aya, adik beliau Arya Asak, beliaulah sebagai leluhur keluarga raja Mengwi.&lt;br /&gt;Adapun Beliau Arya Nyuh Aya, beliau berputra tujuh orang, yang tertua beliau Ki Arya Patandakan, adik beliau Ki Arya Kasatrya, Ki Arya Pelangan, Arya Akah, beliau Arya Kaloping, Arya Cacaran, serta beliau Arya Anggan.&lt;br /&gt;Kembali diceritakan putra beliau Ki Arya Cacaran, Ki Arya Pananggungan, berputra Ki Arya Pasimpangan, berputra Ki Gusti Ngurah Jarantik, beliau pemberani dalam pertempuran, beliau meninggal dalam pertempuran di Pasuruhan, beliau meninggal masih muda, adalah putra beliau, yang bernama Ki Gusti Ngurah Jarantik Bogol, sebab ayah beliau meninggal dalam keadaan tanpa senjata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali diceritakan, adalah seorang wanita bernama Si Luh Pasek Panji, ia memang berasal dari desa Panji daerah wilayah Den Bukit, ia menjadi abdinya Sri Aji Dalem Sagening, ia sudah gadis dewasa, pada saat hari yang baik, kebetulan saja Si Luh Pasek sedang buang air kecil (kencing), air kencing Si Luh Pasek terpijak oleh beliau Dalem, terasa panas tanah bekas air kencingnya, terhenyak beliau Dalem, selanjutnya beliau menanyai abdinya, siapa yang mempunyai bekas air kencing itu, yang ditanya menjelaskan dengan sesungguhnya, bahwa Si Luh Pasek yang mempunyai bekas air kencing itu, saat itulah beliau Sri Aji Dalem Sagening memikir-mikirkan keutamaan Si Luh Pasek Panji, bagaikan tersentak timbul birahinya, oleh karena dimabuk asmara, akhirnya Si Luh Pasek digauli, akhirnya ia berhasil diperistri oleh Sri Aji Dalem Sagening, disertai dengan kelengkapan upacara seorang istri, entah berapa lama, akhirnya Si Luh Pasek kelihatan hamil.&lt;br /&gt;Akhirnya ingatlah beliau Sri Aji Dalem Bali, oleh karena sudah tiba saatnya, beliau wafat ke alam baka, akan tetapi belum ada balas jasa beliau terhadap Arya Jarantik, sebagai orang kepercayaan beliau, oleh karena banyak pengabdian yang sudah dilakukan dengan taat dan hormat selama beliau mengabdi, dari leluhur beliau dahulu, dengan kesetiaan dan ketaatan yang kuat, menyebabkan tumbuh rasa kasih sayang beliau Sri Aji Dalem. Itulah sebabnya Si Luh Pasek Panji yang sudah hamil diberikan kepada Ki Gusti Ngurah Jarantik, akan tetapi ada pesan Dalem, kepada Ki Gusti Ngurah Jarantik, supaya tidak menggauli mencampuri sanggama, serta ada lagi janji Dalem, kemudian apabila lahir anak itu, supaya Ki Gusti Ngurah Jarantik bersedia mengangkat sebagai anak angkat, supaya bersaudara dengan anak beliau, yang bernama Ki Ngurah Jarantik, yang sudah dewasa, tidak menolak mereka yang diperintah.&lt;br /&gt;Entah sudah berapa lama, setelah waktunya akan melahirkan, lahirlah anak beliau Si Luh Pasek Panji laki-laki sangat tampan tanpa cacat cela, juga dari ubun-ubun anak itu keluar sinar, sebagai tanda seorang calon pemimpin, sakti dan berani kemudian unggul dalam peperangan, hati beliau Ki Gusti Ngurah Jarantik sangat girang, setelah Dalem diberitahu, selanjutnya anak itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diupacarai, sesuai dengan upacara Arya Ngurah Jarantik, selanjutnya anak itu diberi nama Ki Barak Panji. Adapun istri Ki Ngurah Jarantik, ternyata tidak setuju hatinya, sangat murung dan duka hatinya, melihat anak itu demikian, sehingga timbul iri hati beliau, oleh karena tidak lahir dari dirinya sendiri, diduga akan menyebabkan anak beliau tersisih nantinya, sebab anak beliau sendiri, tidak demikian perbawanya, kejengkelannya ditelan saja, terpendam di hati terus-menerus.&lt;br /&gt;Setelah Ki Barak Panji dewasa, beliau menghadap raja, mengabdi kepada Sri Aji Dalem Sagening, selanjutnya dikumpulkannya dengan putra para Arya lainnya, yang sama-sama mengabdi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba malam hari, ketika orang-orang tertidur lelap dalam istana, kebetulan Sri Aji Dalem keluar dan ruangannya, disertai oleh sang permaisuri, kelihatan oleh beliau berdua, ada sinar suci menandakan prabawa, pada kepala salah seorang abdinya, yang sedang tidur, terkejutlah beliau berdua, selanjutnya diperiksalah keadaan abdi yang sedang tidur itu, setiba beliau di sana, tiba-tiba sinar itu menghilang, selanjutnya anak yang bercahaya suci itu ditandailah dengan kapur oleh beliau Sri Aji Dalem Sagening.&lt;br /&gt;Keesokannya, ternyata Ki Barak Panji tersurat kapur, di sanalah Sri Aji Dalem Sagening percaya akan kata-katanya Ki Gusti Ngurah Jarantik, bahwa benar ubun-ubun anak itu keluar sinar, hati beliau menjadi murung, hati beliau Dalem sangat kasih sayang, akan tetapi ada yang ditakutkan dalam hati, mungkin Ki Barak Panji, nantinya akan mengalahkan putranya, yang diharapkan akan menggantikan menjadi raja.&lt;br /&gt;Lama-kelamaan, kira-kira sesudah dua belas tahun umumnya Ki Barak Panji, khawatir dan curiga hati Dalem, beserta permaisuri baginda, demikian juga pikiran Ki Gusti Ngurah Jarantik, termasuk isterinya, sehingga berunding beliau Dalem, diiringi oleh Ki Gusti Ngurah Jarantik, mencari akal upaya, berusaha agar lepas dari mala petaka, setelah pembicaraan selesai, Ki Barak Panji disuruh pulang ke daerah ibunya di desa Panji, Den Bukit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang keberangkatannya ke desa Panji, beliau Sri Aji Dalem Sagening, sudah siap dengan pengiring putra baginda, empat puluh orang banyaknya, telah teruji keberaniannya, sebagai pimpinannya, bernama Dumpyung, beserta Ki Dosot, dan lagi ada hadiah, memberikan pengiringnya senjata keris, Semuanya yang berjumlah empat puluh, sama-sama satu bilah, akan tetapi ketika Dalem memberikan keris pembagian kepada para pengiringnya satu demi satu, ternyata ada masih tertinggal sebilah, berupa Mundarang Cacaran Bangbang (sejenis bentuk keris)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kembali dikumpulkan keris itu bersama, setelah terkumpul cukup empat puluh itu, selanjutnya lagi keris itu dibagi-bagikan, sebanyak empat puluh itu, setelah mendapat bagian satu demi satu, lalu ada lagi sisanya satu bilah, berupa Mundarang Cacaran Bangbang, seperti tadi, bingung hati Beliau Dalem Sagening, beserta Ki Gusti Ngurah Jarantik, dan setelah selesai diulang-ulang lagi, terus-menerus keris itu dibagikan, ada juga sisanya keris sebilah, seperti semula.&lt;br /&gt;Setelah demikian baru teringat dalam hati beliau Sri Aji Bali, terpikirkan bahwa keris itu yang tertinggal, pusaka buat Ki Gusti Panji (Ki Barak Panji) sebenarnya, itulah sebabnya keris yang tersisa, selanjutnya diberikan Ki Gusti Panji, sudah merupakan pusaka Dalem diberikan kepadanya, lain dari pada itu , ada pemberian Dalem lagi berupa sebilah tombak, bernama Ki Tunjung Tutur, Ki Pangkajatatwa nama lainnya.&lt;br /&gt;Setelah beliau Dalem menganugerahi Ki Gusti Panji, pada saat hari yang baik , beliau Ki Gusti Panji mohon diri, selanjutnya beliau pergi ke Den Bukit, dengan membawa keris pemberian Dalem, disertai oleh ibunya, diiringi oleh Ki Dumpyung yang membawa Ki Pangkajatatwa, serta Ki Dosot, beserta pengiring abdi yang lain berjumlah tiga puluh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan perjalanan Ki Gusti Panji, setelah beliau pergi dari kota Gelgel, mampir di Jarantik, mengadakan pemujaan di bagian kota Jarantik, selanjutnya pergi menuju arah utara, selanjutnya ke barat, memasuki daerah Samprangan, selanjutnya terus ke barat, memasuki daerah Kawisunya, dicapai wilayah Bandana itu, selanjutnya beliau menuju ke arah barat laut, menuju daerah Danau Pabaratan, setelah empat hari perjalanan Beliau Ki Gusti Panji, menginap dalam perjalanan, ketika matahari sudah condong ke barat, , mendaki bukit Watu Saga, wilayah Den Bukit, berhentilah beliau di sana, seraya makan bekal beliau berupa ketupat, lalu beliau tersedak-sedak waktu makan (kilen-kilen), kemudian Ki Dumpyung disuruh pergi jauh untuk melihat air di bawah, dan senjata Ki Pangkajatatwa, diterima oleh Si Luh Pasek Panji, lalu pangkal tangkainya ditancapkan di tanah, maksudnya untuk menaruhnya, nyata-nyata terbukti Hyang Widi murah hati beliau, lalu memancar keluar air suci dari dalam tanah, yang ditancapi itu, kira-kira sebesar bejana mata air itu keluar, akan tetapi tidak ada yang mengalir ke luar dari lubang itu, hanya tetap berada seperti semula, sangat luar biasa kesucian air itu, tak terkira senang hati mereka semua, terutama beliau Ki Gusti Panji, lalu beliau minum air itu, demikian ceritanya air itu dahulu, selanjutnya diberi nama Banyu Anaman, Toya Katipat nama lainnya, hingga sampai sekarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Semuanya selesai makan, beserta pengiringnya semua, selanjutnya kembali beliau melanjutkan perjalanan, membelok ke barat, ketika hari sudah sore, matahari pun sudah condong ke barat, dan tenggelam ke laut. Beliau Ki Gusti Panji kebetulan berada di dalam perjalanan, di atas Danau Bubuyan, tiba-tiba datang berupa manusia kelihatannya, bernama Ki Panji Landung, langsung dicegat Ki Gusti Panji, diusung ke atas, tak terkira tingginya Ki Panji Landung, setelah terasa langit itu bagaikan disundul pikirnya, lalu Ki Gusti Panji disuruh melihat ke timur, kelihatan oleh beliau Ki Gusti Panji gunung Toya Anyar, disuruh melihat ke utara, tidak kelihatan apa-apa, hanya kelihatan samudera luas, kemudian beliau disuruh melihat ke barat, kelihatan membiru gunung Banger yang tinggi, selanjutnya lagi beliau disuruh menghadap ke selatan, selanjutnya Ki Gusti Panji menyuruh agar diturunkan, sebab beliau tak kuasa mendengar tangis ibunya memandang ke udara, sendirian di bawah berbaring di tanah, disertai pengikutnya semua, itu sebabnya Ki Gusti Panji diturunkan dari atas, lalu sambil berkata menyatakan anugerah Ki Panji Landung, hanya sedemikian kemampuanmu melihat, dapat anda kuasai kemudian, sebagai pemimpin di daerah Den Bukit, anda kuasai sampai ke pelosok-pelosok semua, demikian kata-kata Ki Panji Landung, memberi anugerah Ki Gusti Panji, setelah Ki Gusti Panji menginjak tanah, gaiblah Ki Panji Landung, segera timbul girang hati ibundanya, beserta pengikutnya semua, selanjutnya semua berjalan, tak menghiraukan siang malam, sebab hampir tiba tempat yang dituju, sama-sama mengharapkan supaya segera tiba di daerah Panji, kenyataannya berkat anugerah dewata, supaya tidak mendapat halangan dan lain-lainnya, dan beliau selamat dalam perjalanan, keesokannya pagi-pagi terang-terang tanah, tiba-tiba Beliau Ki Gusti Panji sudah sampai di daerah Panji, menuju rumah sanak keluarga ibunya, sangat senang hati sanak keluarganya semua, bergegas-gegas menjemput, menyiapkan suguhan selengkapnya, tak lama beliau Ki Gusti Panji ada di daerah Panji, pengiringnya sebanyak tiga puluh delapan kembali pulang ke Swecanagara, hanya yang masih ikut Ki Dumpyung beserta Ki Dosot, karena terikat oleh cintanya bertuan, tidak pernah berpisah mereka berdua, mengikuti perjalanan beliau Ki Gusti Panji, ke mana-mana pun bercengkrama, membawa keris pemberian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan mereka yang sudah berhasil menjadi pemimpin daerah Panji, yang bernama Ki Pungakan Gendis, beristana di Desa Gendis, semua orang yang masuk ke daerah Gendis menjadi terdiam, Semuanya terdiam dan tunduk menghormat kepada Ki Pungakan Gendis, pada saat hari yang baik, beliau pergi bersabung ayam ke desa lain, mengendarai kuda berbulu coklat tua (kuda gendis), sungguh banyak prajurit beliau mengiringi, diapit kanan kiri, beserta di belakangnya, dilengkapi dengan payung kebesaran, beserta kendi berbentuk angsa tempat air, puwan berperada dengan indahnya, seperti tingkah lakunya dahulu, perjalanan beliau lurus ke utara, mengikuti jalan besar, kebetulan I Gusti bermain-main, dengan diiringi oleh dua orang abdinya, mencari-cari umbi ketela pada tegalan di bagian barat jalan, dan keris pemberian Dalem tidak lepas dibawanya, dipakai mencungkil ketela, tiba-tiba ada terdengar sabda dari angkasa di dengar oleh Ki Gusti Panji, adapun sabda itu, "Ai Barak Panji, jangan kamu syak wasangka kepada Kakek, tidak pantas perbuatanmu mencari ubi rambat, jangan kamu ragu-ragu kepadaku, sebab ada yang utama dalam dirimu, suatu saat kamu menjadi pemimpin di sini, sebab berbakat dicintai oleh rakyat dalam dunia, dan lihatlah keutamaanmu sekarang, tunggulah sebentar, ada sebagai musuhmu, bernama Ki Pungakan Gendis, yang berkuasa di Desa Gendis, wajib kau bunuh, jangan kamu ragu-ragu dalam hati, tudingkan saja aku ke arahnya, berkat aku terjadi kematiannya, demikian terdengar sabda itu, didengar oleh Ki Gusti Panji, beserta abdinya berdua, dihentikanlah keris itu dijadikan main-mainan, kemudian selanjutnya disarungkan.&lt;br /&gt;Diceritakan Ki Pungakan Gendis, setelah laju perjalanan beliau, melewati jalan, dilihat oleh Beliau Ki Gusti Panji, timbullah marah beliau dalam hati, akibat dari pengaruh kekuatan keris itu, oleh karena belum tercapai tujuannya, sebab sudah lewat kepergiannya Ki Pungakan Gendis, lalu dinantikan saat kepulangannya dari sabungan ayam.&lt;br /&gt;Diceritakan setelah bubarnya orang-orang dari sabungan ayam, Ki Pungakan Gendis kemudian pulang, dilihat oleh Ki Gusti Panji, Ki Pungakan Gendis sudah hampir tiba di tempat penantiannya, lalu Ki Gusti Panji segera, berlindung naik ke pohon leca, yang tumbuh di pinggiran jalan, seraya menghunus keris pemberian Dalem, kemudian datang Ki Pungakan Gendis, sudah dekat dengan pohon leca itu, lalu diacungkan keris ke arahnya oleh Ki Gusti Panji , lalu Ki Pungakan Gendis meninggal, masih dalam keadaan menunggang kuda, akan tetapi tidak diketahui oleh pengikutnya, hanya berjalan dan berjaga di sana-sini.&lt;br /&gt;Setelah itu tiba Ki Pungakan Gendis, di hadapan rumahnya , setelah kudanya berhenti yang dikekang oleh pengikutnya, Ki Pungakan Gendis juga tidak turun, teguh bagaikan lukisan, badannya kaku bagaikan mayat, matanya mendelik sayu, saat itu baru diketahui, jika Ki Pungakan Gendis, sudah meninggal, akan tetapi tidak ada yang mengetahui sebab kematiannya.&lt;br /&gt;Ada anak Ki Pungakan Gendis, perempuan seorang diri, bernama I Dewa Ayu Juruh, mungkin barn akan menjelang dewasa, sangat cantik tanpa ada celanya, membuat orang jatuh cinta, sedangkan adiknya yang laki-laki masih kanak-kanak, yang diharapkan menggantikan kedudukan ayahnya, oleh karena ia belum tahu mencari akan akal upaya, lalu dimandatkan pada Ki Bendesa Gendis, memerintah desa Gendis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa lama, tiba-tiba ada perahu dari luar daerah, terdampar di pesisir Panimbangan, sangat susah hati Ki Mpu Awwang, kemudian meminta bantuan kepada Ki Bendesa Gendis, untuk menarik perahu itu, dan membuat perjanjian, jika tujuan berhasil, semua isi perahu hadiahnya, sebab perahu itu sarat dengan muatan segala ragam yang indah-indah, seperti pakaian, cangkir, piring, pinggan, serta bermacam-macam ramuan, menyebabkan tertarik hasrat Ki Bendesa Gendis, lalu beliau bersedia membantunya, lalu mereka menyuruh terus menerus menabuh kentongan, mendatangkan pengikutnya semua, membawa tali, bambu, beserta alat perlengkapan untuk menarik, setelah Semuanya sudah datang, segera serempak pergi ke laut, sesampainya semua saling bantu penuh usaha untuk menolong, saling mengeluarkan gagasan / ide, akan tetapi tidak berhasil, sedikit pun perahu itu tidak bergerak, mereka semua merasa malu dan marah, akhirnya semua pulang ke rumahnya masing-masing.&lt;br /&gt;Setelah itu lalu didengar oleh I Gusti Panji, jika demikian keadaannya, selanjutnya beliau pergi ke tempat perahu yang terdampar itu, tidak lupa beliau membawa keris pemberian Dalem itu, serta diiringi oleh Ki Dumpyung beserta Ki Dosot, setelah beliau tiba di pesisir pantai, dijumpainya Ki Dampu Awwang, sedang menangis meratap-ratap, sambil berkata berkaul , siapa gerangan yang mampu menolong perahunya, supaya berhasil melaju ke laut, semua isi perahu ini hadiahnya, oleh karena demikian didengar oleh Ki Gusti Panji, lalu beliau bersedia untuk menarik perahu itu, seraya keris itu dihunusnya, setelah keris itu diacungkan, terdengarlah sabda, jangan khawatir, demikian didengar sabda itu oleh Ki Gusti Panji, beserta dua orang abdinya, lalu percayalah beliau dalam hati, berhasillah perahu itu didorong, dihempaskan oleh keris itu, bagaikan diberi kekuatan beliau oleh Hyang Widhi, berhasil perahu itu bergerak, ke tengah laut, tak terkira larinya ke tengah samudera, selanjutnya kembali perahu itu ke pinggir, ditambatkan di air, Ki Mpu Awwang tidak lupa akan janjinya, seluruh isi perahu itu, Semuanya sudah diberikan Ki Gusti Panji, setelah selesai, perahu itu kembali pulang ke Jawa, tak terkira senang hatinya Ki Mpu Awwang. Mulai saat itulah Ki Gusti Panji dipenuhi oleh kekayaan, serta mulai saat itu pula keris pemberian Dalem yang tampak keutamaannya, selanjutnya diberi julukan Ki Semang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selama dua puluh tahun usia Ki Gusti Panji, semakin terkenal di Gendis serta keutamaannya menurut tata krama, perkataan beliau manis, membuat hati semua orang senang, membuat tertarik hati penduduk desa Gendis, selanjutnya semua hormat dan tunduk kehadapan Ki Gusti Panji, luar biasa baktinya menghamba, tetua (walaba) beserta rakyat sama-sama membela, tidak merasakan panas dan dingin, menghamba kepada Ki Gusti Panji, selanjutnya dinobatkan bergelar Ki Gusti Ngurah Panji, selanjutnya orang-orang desa Gendis, beserta parahyangan agung di bagian barat desa Gendis, dipindahkan ke desa Panji, oleh Ki Gusti Ngurah Panji, sesuai dengan kesepakatan orang-orang desa semua, selanjutnya banyak tempat tinggal, berbondong-bondong menggotong rumahnya, dan tempat suci Ki Gusti Ngurah Panji, sudah selesai dikerjakan oleh rakyat semua, setelah kedudukan Ki Gusti Ngurah Panji kokoh, berkat dukungan baik seluruh desa-desa, kawinlah beliau dengan Ki Dewa Ayu Juruh, seia sekata beliau dalam bersuami istri, oleh karena keduanya sama-sama mencintai.&lt;br /&gt;Konon setelah beliau kaya, akhirnya beliau membuat kepala keris dari emas, berbentuk Ratmaja diisi dengan permata Mirah Adi bertatahkan Zamrud (air Lembu). diberi seragam delapan sangat menarik bagaikan hidup kelihatannya, diberi nama Ki Awak, oleh karena jiwanya sendiri merasuk dalam keris kepala itu. Tidak ada yang menyamai, telah sesuai keindahannya dengan sarung gading yang diukir, putih tidak bercela, diberi sarung dari kain halus, bagaikan menambah keutamaannya keris Ki Semang.&lt;br /&gt;Entah berapa lamanya, berhasil terkenal di dunia, kewibawaannya Ki Gusti Ngurah Panji, sebagai penguasa desa Panji, lalu tak terkirakan berbondong-bondong datangnya orang-orang dari Lor Adri, selanjutnya tinggal di desa Panji, mengabdi ke hadapan Ki Gusti Ngurah Panji, segera penuh sesak, tertib, indah kelihatan desa itu, oleh karena ditambah oleh orang-orang keturunan utama dari Ler Adri, sama-sama taat menghamba kehadapan Ki Gusti Ngurah Panji.&lt;br /&gt;Entah berapa tahun lamanya, tidak menyimpang anugerah Ki Panji Landung, lalu tunduk orang-orang dari timur sungai We Nirmala, sampai di ujung desa Toya Anyar, dari pesisir laut sampai ke pegunungan, seperti Kyai Alit Menala, dari Kubwan Dalem, sama-sama tunduk mengabdi, tidak ada yang berniat jahat dalam hatinya, setelah Semuanya setuju, lalu Ki Gusti Ngurah Panji, membangun daerah, selanjutnya memindahkan pusat kerajaannya, dari Sangket Sukasada, disebut Sukasada karena merupakan tempat kedudukan, sebab selalu menimbulkan kesenangan sang raja beserta semua abdi dan rakyatnya.&lt;br /&gt;Beberapa lama kemudian, keadaan desa di barat We Kulwan menjadi kalah tenteram, kagum dan tunduk, semua penguasa, beserta rakyatnya, semua kelurahan tunduk mempertuan Ki Gusti Ngurah Panji, ada yang bernama Kyayi Sasangkadri beristana di Tebu Salah, buyut dari Kyayi Cili Ularan, tidak mau tunduk, itulah sebabnya Ki Gusti Ngurah Panji, pergi untuk menyerang, diiringi oleh banyak prajurit ramai keadaan perang itu, sama-sama hebat berani dalam peperangan, selanjutnya kalah beliau Kyayi Sasangkadri, tunduk menyerahkan dirinya, selanjutnya beliau menghamba, berjanji beserta anak cucunya semua, sebesar-besarnya keturunan beliau supaya tidak ada yang berani menentang selama-lamanya terus-menerus, senanglah hati Ki Gusti Ngurah Panji, lalu Kyayi Sasangkadri, ditempatkan sebagai tetua Tebu Salah, sebab demikian keutamaan Ki Gusti Ngurah Panji, sangat berani dalam medan perang, disenangi oleh rakyat, sebagai pemimpin daerah Den Bukit, sebagai pemimpin berkat keris Ki Semang, beserta tombaknya Ki Pangkajatatwa, itulah sebabnya tenteram penduduk di daerah Ler Gunung, mulai saat itu diberi julukan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti oleh rakyat, karena kesaktiannya luar biasa, sesudah memimpin di Ler Gunung, sebagai pemimpin menetap di istana Sukasada, sebab dahulu orang-orang di sana selalu bersenang-senang, menikmati kegembiraan hatinya, mengikuti pemimpinnya, penuh sesak sampai ke balai rung, sesuai dengan tingkah lakunya yang baik, tidak ada yang berani menentang perintah beliau raja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan beliau raja membuat seperangkat gamelan kerajaan, penuh dengan perlengkapannya, terompong di depan dan di belakang, diberi nama Juruh Satukad, oleh karena suaranya sangat manis, bagaikan banjir aliran madu, memenuhi sungai umpamanya.&lt;br /&gt;Gongnya dua buah, diberi nama Bentar Kadaton, sebab bagaikan belah Keraton itu saat ditabuh (ginuwal) suaranya mendengung. Dan lagi disebut Ki Gagak Ora waktu berbunyi, bagaikan suara gagak beribu-ribu. Serta petuk kajarnya, terkenal bernama Ki Tundung Musuh mengagumkan diberi nama Glagah Katunuwan, suaranya seperti pohon gelagah yang kering terbakar, suaranya luar biasa bagaikan membelah telinga manusia, dan lagi gong kecilnya, suaranya sangat gemuruh, bagaikan guruh bertebaran umpamanya, itulah sebabnya diberi nama Gelap Kasangka, sebab bagaikan pergantian suara tatit pada saat bulan Kasanga (Maret/April) perumpamaannya, demikianlah keterangan gamelan kerajaan Sri Anglurah Panji Sakti, itulah sebabnya musuh dan pengacau menjadi takut, , tidak berani melihat kesaktian beliau, tidak diceritakan selanjutnya.&lt;br /&gt;Diceritakan ada seorang brahmana, sangat hebat kesaktiannya, beliau sudah mencapai tingkat astaiswarya , Mpu Nirartha nama beliau, anak Dang Hyang Asmaranatha, Beliau Mpu Nirartha pergi ke Bali, setelah beliau tiba di Bali, beliau tinggal di Kemenuh wilayah Bala Batuh, ada anak beliau beribu brahmani dari Yawadwipa, yang tertua perempuan beliau lenyap ke alam gaib, tinggal di Melanting Mpu Laki sebagai Dewa di sana sampai sekarang, yang laki bernama Pedanda Kemenuh, banyak saudaranya lain ibu, brahmani dari Pasuruhan, ada yang beribu dari kesatria Blambangan, ada saudaranya beribu dari Bendesa Mas. Ada juga beribu Sudra, abdi dari Ki Bendesa Mas.&lt;br /&gt;Beliau Pedanda Kemenuh sebagai putra laki-laki tertua, beliau pindah ke Ler Gunung, desa Kayu Putih, beliau memiliki pengetahuan yang tinggi sangat pandai dalam hal ilmu weda, sangat mahir membuat keris, keluhuran ilmu Pasupatinya, beliau sangat terkenal di masyarakat, oleh karenanya ada sebutan keris buatan Kayu Putih, demikianlah keutamaan beliau, lalu dimintalah beliau, oleh Ki Gusti Panji Sakti, beliau diberi kedudukan sebagai bagawanta, dinobatkan menjadi pendeta kerajaan, dan beliau disuruh mengalih ke banjar Ambengan, beliau diberi pengikut/abdi sebatas barat sungai Bok-Bok, lebih kurang, 3000 banyaknya, selanjutnya Pedanda Sakti Ngurah sebutan beliau di masyarakat, oleh karena sangat kasih sayang serta taat hati beliau ( Ki Gusti Panji Sakti ) kepada pendeta gurunya, dibuatkan rumah di Sukasada, sehingga saling berdekatan tempat tinggalnya, disebut Griya Romarsana, setelah saatnya tiba, akhirnya beliau dipanggil menuju alam baka, berada di pertapaan Kayu Putih, sebab beliau tidak menyadari akan tibanya ajal, ada putra beliau yang menggantikan, seperti kedudukan bapaknya, sebagai bagawanta baginda raja, lalu mengumpulkan rakyat, Pedanda Sakti Ngurah juga namanya oleh baginda raja, beliau tak mengenal lelah meniru keahlian ayahnya untuk menyenangkan baginda raja, selanjutnya mempunyai kegemaran membuat keris, sangat luar biasa keris buatannya, itulah sebabnya ada sebutan keris buatan Banjar, senjata tajam mengandung kesaktian, demikian Pedanda Sakti Ngurah sangat cintanya, sebab beliau ingat akan leluhurnya, tidak ada lain asalnya memang bersaudara, pada saat masih berada di daerah Yawadwipa, itulah sebabnya ada perjanjian beliau berdua ada di desa Romarsana, agar tidak berpisah, saling menjaga, dalam suka duka, sama-sama senasib dan seperjuangan, satu bersenang semuanya bersenang, satu bersedih semuanya bersedih, sehingga bagaikan tingkah laku persaudaraan, lalu ditiru oleh masyarakat, demikianlah perjanjiannya, semua sudah bahagia, itulah sebabnya desa Romarsana disebut Sangket, sebab dipakai sebagai tempat mengikat perjanjian, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti dengan beliau yang dihormati Pedanda Sakti Ngurah, lanjut serta anak cucu beliau, agar meniru kebiasaan baik leluhurnya. dari putra yang tertua Sri Bagawan Dwijendra, Pedanda Sakti Wawu Rawuh nama lain beliau, sebab beliau mengawali datang ke Pulau Bangsul / Bali.&lt;br /&gt;Kembali diceritakan, putra Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, lahir dari I Dewa Ayu Juruh, kedudukannya sebagai putra mahkota, yang tertua bernama Ki Gusti Ngurah Panji, seperti nama ayah beliau, dan yang kedua bernama Ki Gusti Ngurah Panji Made, serta yang bungsu bernama Ki Gusti Ngurah Panji Wala, sama-sama tampan tak tercela keadaannya, amat tenteram hati beliau raja, ada terbetik dalam hati, bersiap untuk menyerang menuju daerah Brambangan, daerah Yawadwipa, sebab beliau ingat akan anugerah Ki Panji Landung, pada saat dulu, lalu beliau membuat akal-upaya selengkapnya, seluruh prajurit pemberani dipanggil, yang sudah sering menyerang musuh, Semuanya prajurit yang perwira sebagai pimpinan, dua puluh jumlahnya, sama-sama keturunan pemberani, diajak bermain gagak-gagakan, oleh baginda Raja Panji Sakti, dan mereka semua bergilir menjadi burung gagak, ditanya oleh baginda Raja, "Gagak apa yang kamu harapkan?" Si gagak kemudian menjawab, ada yang meminta makanan, minuman, anak gadis, mas permata, busana, serta manikam, bermacam-macam permintaannya masing-masing, semua sudah dipenuhi permintaan goak itu, sama-sama senang hati gagak itu menikmati makanan dan minuman, sandang, pakaian dan pangan, tidak jemu-jemu sama-sama memenuhi keinginan, setelah demikian, selanjutnya beliau Raja menjadi gagak, ditanya oleh para patih semua, "Gagak apa keinginanmu?", Si gagak lalu menjawab, "gagak, goak, gak, keinginanku menundukkan Brambangan", semua prajurit bersorak, sebab penuh sesak para prajurit yang menonton. Setelah selesai, bersiap-siap mengatur para prajurit itu, penuh dengan persiapan, beserta perahu sudah banyak disiapkan, sudah siap ditambatkan tinggal menunggu komando baginda Raja, berayun-ayun dalam samudera sampai ke sungai pelepasan.&lt;br /&gt;Pada saat hari yang baik, yang disarankan oleh Sri Bagawanta, beliau Sri Bupati berangkat, dengan menaiki perahu, diiring oleh rakyatnya banyak, adapun jalur yang dilalui perahu itu, menuju Candi Gading daerah pinggiran pantai Tirta Arum, selanjutnya menyerang ke daerah Banger, disergap oleh Dalem Brambangan, luar biasa ramainya pertempuran itu, jenazah bagaikan gunung, berlautan darah, di medan pertempuran, selanjutnya beliau bertemu dengan Dalem Brambangan, yang berada di tengah medan laga, selanjutnya satu demi satu mengadu kekuatan di medan laga, sama-sama ikhlas berani dan tangkas bertarung, entah berapa lama perang itu berlangsung, lalu terjebak Dalem Brambangan , dadanya ditikam oleh beliau Sri Panji Sakti, dengan keris Ki Semang, lalu beliau Dalem Brambangan terjerembab, selanjutnya menghembuskan nafasnya yang terakhir, akhirnya kekuasaan Brambangan jatuh menjadi tunduk, Semuanya tunduk memohon supaya tetap hidup.&lt;br /&gt;Didengarlah oleh Baginda Raja Solo, akan kehebatan Sri Panji Sakti, lalu beliau menjalin persahabatan berdua, selanjutnya beliau Sri Panji Sakti diberi gajah tunggangan, setelah Semuanya selesai, Sri Panji Sakti kembali pulang ke Bali, dengan membawa panji-panji hasil rampasan, segala macam yang utama, akan tetapi ada yang disakitkan dalam hati, sebab anaknya yang masih muda, yang bernama Ngurah Panji Nyoman, Danudresta nama lainnya, sudah gugur dalam medan pertempuran di Brambangan, tak lama berduka cita kemudian beliau kembali sukacita, seperti keadaan semula, sebab dihibur oleh Sri Maha Rsi Bagawanta, Pedanda Sakti Ngurah. Demikian kehebatan beliau Sri Panji Sakti terdengar&lt;br /&gt;Diceritakan Sri Panji Sakti, merintis membangun kota (pura), di pategalan daerah Balalak, tempat orang menanam Buleleng, ada dijumpai di sana, ibu leleng, banyak orang-orang yang tinggal di sana, tempat tanah lapang itu, di bagian utara wilayah Sukasada, setelah menjadi besar tempat kota itu, banyak orang berbondong-bondong pergi pindah ke sana, akhirnya penuh dengan rumah tempat tinggal, selanjutnya diberi nama Kota Buleleng, dan istana tempat tinggal baginda raja, diberi nama Singaraja, sebab jelas bagaikan singa keberanian baginda Raja, serta gajah beliau yang bagaikan gajah Nirwana, dibuatkan kandang di bagian utara kota, itulah sebabnya bernama Petak desa itu, dan yang menggembalakan gajah, adalah tiga orang dari Jawa, pemberian raja Solo, dua orang bertempat di daerah bagian utara Petak, itu selanjutnya bernama Kampung Jawa, serta yang seorang lagi, bertempat di Lingga dekat dengan pesisir Toya Mala, sebab asalnya dari Prabulingga Yawadwipa, di antara desa Petak dan desa (Kampung) Jawa, bernama desa Paguyangan, sebab tempat gajah beliau berguling-gulingan digembalakan di sana, demikianlah ceritanya dahulu.&lt;br /&gt;Setelah lama-kelamaan, orang Jawa di Kampung Jawa, mengembangkan keturunan, kemudian dibagi atas perintah baginda Raja, ditempatkan di hutan Pagatepan, selanjutnya juga diberi nama Pagayaman, sebagai penjaga benteng di daerah pegunungan.&lt;br /&gt;Entah berapa lama, kembali Sri Panji Sakti, pergi menyerang Jaranbana, oleh karena kehebatan keris Ki Semang, akhirnya hancur daerah Jaranbana, dapat ditaklukan oleh Sri Panji Sakti.&lt;br /&gt;Tak terhitung berapa lama kemudian, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, mendengar berita, ada seorang putri yang sangat cantik bernama Ki Gusti Ayu Rai, saudara dari Ki Gusti Ngurah Made Agung, yang berkuasa di Mengwi, beliau sekarang ingin melamarnya, akan dipakai sebagai istri, utusan pun sudah berjalan, lalu ditolak mas kawin beliau, akhirnya main beliau Ki Gusti Ngurah Panji, timbullah kemarahannya, ingin untuk menghancurkan wilayah Mengwi, oleh karena kewibawaannya dijadikan kebanggaan, setelah mampu menguasai daerah Banger, selanjutnya beliau mengirim utusan, menantang wilayah Mengwi untuk bertempur. Keinginan beliau untuk mengadu, prajurit andalan beliau yang berupa gagak-gagak itu, bersama prajurit Mengwi, sebab terkenal bernama Teruna Batan Tanjung, beserta Teruna Munggu, disanggupi oleh penguasa Mengwi, sama-sama mendorong prajurit beliau untuk bertempur, ramai pertempuran itu, saling amuk, sama-sama tikam, menikam, sama-sama pemberani, dilihat oleh beliau berdua, lalu disuruhnya untuk mengakhiri perang itu, oleh karena keinginan beliau Ki Gusti Ngurah Made Agung, mencoba keberanian dan kehebatan orang-orang Ler Gunung, sekarang telah beliau ketahui benar-benar keberaniannya dalam pertempuran, ikhlas hatinya memberikan adiknya, pada Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, tidak diceritakan perundingan beliau berdua, setelah sama-sama sepakat, maka sebagai raja yang berwibawa, baginda di atas singasana, selanjutnya Ki Gusti Ngurah Panji Sakti beserta Ki Gusti Ayu Rai dinikahkan, setelah demikian keadaannya, kembali beliau penguasa Den Gunung, diiringi istri beliau Ki Gusti Ayu Rai, sebagai balas jasa cinta kasih beliau kepada raja Mengwi, diserahkan daerah Brambangan, beserta Jaranbana, oleh baginda penguasa Ler Gunung.&lt;br /&gt;Setelah beliau tenteram berada di daerah Buleleng, tidak ada yang berani menentang atau melawan keinginannya, sehingga Ki Ngurah Panji Sakti memikirkan ingin menghadapi dengan alasan untuk bertempur, maka Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, pergi ke gunung Batukaru, daerah kekuasaan Bandana, diiringi banyak prajuritnya, dilengkapi dengan senjata, setiba beliau di sana, segera beliau merusak parahyangan Agung Batukaru, semua bangunan suci dirusaknya, dipindahkan dari tempatnya, tiba-tiba ada lebah berpuluh-puluh jumlahnya, masing-masing segenggam besarnya, tidak diketahui dari mana asal mulanya, bagaikan kehendak dewata, berhamburan menyerang beliau Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, bagaikan bencana dari Dewata pikirnya, tidak tertahan oleh beliau Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, selanjutnya beliau lari beserta dengan prajuritnya, tidak melihat lagi ke belakang, sebab beliau sudah merasa dalam hati, bahwasanya itu kutukan Dewata pada dirinya.&lt;br /&gt;Lama-kelamaan, kembali Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, menantang perang, datang ke wilayah Badeng, beserta dengan prajurit serta perlengkapannya, dengan menunggangi gajah besar, setiba beliau di daerah bagian utara tempat suci ( pura Satria ) Badeng, dihadang oleh banyak prajurit dari daerah Badeng, perangpun terjadi , tikam-menikam, namun akhirnya berdamai juga dengan penguasa daerah Badeng, daerah tempat pertempuran itu selanjutnya diberi nama Taensiat, sampai sekarang, oleh karena tempat permulaan terjadinya perang antara prajurit Den Bukit, melawan prajurit Badeng. Selanjutnya Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, mengambil istri dari golongan Wesya dari Banjar Ambengan Badung&lt;br /&gt;Beberapa lama kemudian, ada terdengar berita, oleh Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, bahwa cucunya Ki Gusti Ngurah Jarantik, di daerah Jarantik dikecewakan oleh Dalem Bali, di daerah Gelgel, kesalahannya karena tidak memberikan keris pusakanya, yang diinginkan oleh Dalem, itu yang menyebabkan beliau sedih dalam hati, beliau ingin meninggalkan daerah Jarantik, berusaha menyelamatkan diri, oleh karena terpikir pasti mati, jika tidak pergi dari daerah Jarantik, pergi jauh, terdorong atas kejengkelannya Ki Gusti Ngurah Agung, yang begitu iri hati ke hadapan Ki Gusti Ngurah Jarantik, oleh karena demikian keadaannya, beliau Ki Gusti Ngurah Panji Sakti segera, pergi ke daerah Jarantik, didapatkan orang-orang yang berada dalam istana sangat sedih dalam hati, terutama Ki Gusti Ngurah Jarantik, menceriterakan kesusahannya, setelah selesai daya upayanya, akhirnya mereka serempak pergi dari daerah Jarantik, mencari tempat menuju ke desa Tojan daerah Bala Batuh, atas perintah Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, selanjutnya beliau mengantarkan, lalu beristirahat di daerah utara desa Beng Gianyar, ada tanaman-tanaman penduduk di sana berupa kacang tanah, dimakan oleh gajah tunggangan beliau Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, karenanya ada wilayah yang bernama Kacang Bedol, sampai sekarang, oleh karena gajah tunggangan beliau memakan kacang yang ada di sana, tidak diceritakan perjalanan beliau yang mengungsi, lalu tiba di daerah Tojan, dijemput oleh Ki Bendesa Wayan Karang, yang menguasai daerah Tojan, selanjutnya beliau membangun istana, tunggangan beliau Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, digembalakan di daerah bagian barat laut daerah Tojan, itulah sebabnya bernama daerah Angon Liman, Bangun Liman nama lainnya sampai sekarang, dan di bagian timurnya ada semak belukar, tempat beliau Panji Sakti berburu, dinamakan Buruwan sampai sekarang.&lt;br /&gt;Entah berapa lama beliau Ki Gusti Ngurah Panji Sakti berada di Tojan, oleh karena sudah handal kedudukan Ki Gusti Ngurah Jarantik, bukan main senangnya beliau berdua dalam hubungan keluarga, sama-sama memperingatkan perjanjian, sehingga tidak luntur rasa cinta kasih dan keteguhan ikatan kekeluargaannya, serta keturunannya, suatu kedudukan untuk cucunya kemudian, sesudah sama-sama menyepakati ikrar itu, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, menunjukkan kebesarannya, lalu menghadiahkan tombak Ki Pangkajatatwa, kepada cucunya Ki Gusti Ngurah Jarantik, sebagai pemberian resmi kepada cucu, tujuannya sebagai tanda sampai di kemudian hari, setelah beliau selesai memberikan wejangan kepada anak cucunya tentang ajaran Kamahayanikan, serta tata cara memimpin wilayah, lalu beliau kembali pulang ke Den Gunung, demikian ceritanya.&lt;br /&gt;Entah berapa lamanya, oleh karena sudah kehendakNya, terjadilah kehancuran di daerah Gelgel, ketika itu Sri Dalem Dewa Agung Jambe masih kecil, oleh karena sifat loba dan durhakanya Kyayi Agung Maruti, mengharap-harapkan akan menggantikan raja Gelgel, serta sudah banyak para menteri dan rakyat yang senang menghamba kepadanya ( Kyayi Agung Maruti ), oleh karena kelicikan Kyayi Agung, merangkul semua orang, perkataannya sangat manis, dan lembut, akan tetapi banyak juga para Arya kesatria bujangga, tidak menyenangi tingkah laku Kyayi Agung, menyebabkan pikiran orang menjadi berbeda-beda, sama-sama mencari pemimpinnya yang disenangi sendiri-sendiri, sehingga terjadi keributan di wilayah Gelgel, Sri Dalem Cili, dilarikan oleh para menterinya, dibawa bersembunyi ke Singharsa, disangga selengkapnya oleh beliau Ngurah Singarsa, berkat baktinya bertuan.&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, terjadilah persidangan para punggawa agung, yang masih tetap setia kepada Dalem, sebagai pemimpin beliau Ngurah Singharsa, setelah selesai memberikan surat kepada para manca semua, sampai ke Ler Gunung serta ke daerah Badung, semua menyetujui dan satu tujuan dengan Ngurah Singharsa, hendak menghancurkan Kyayi Agung Maruti, setelah mufakat sama-sama berangkat dari daerahnya masing-masing, seperti Ki Gusti Ngurah Panji Sakti sudah berangkat, lengkap dengan segala macam senjata, tak terhingga banyaknya, memenuhi jalan dengan riuhnya, bermarkas di desa Panasan sebelah barat Toya Jinah, oleh karena sangat kesusahan masyarakat di sana, oleh senjata dari Ler Gunung, oleh karenanya disebut Desa Panasan sampai sekarang, kemudian bertemu dengan prajurit Kyayi Agung dari Gelgel, sebagai senapati Ki Dukut Kerta, dihadapi oleh Ki Tamlang, patih beliau Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, luar biasa ramai pertempuran itu, saling sergap, kemudian kalah pertahanan Ki Padang Kerta, dadanya tertikam, kepalanya dipenggal, matilah Ki Padang Kerta, oleh Ki Tamlang, kacau balau prajurit Ki Gusti Agung Maruti menjadi bubar, tak mampu bertahan, sehingga Ki Gusti Agung terpengaruh, ikut lari, melarikan diri dari pertempuran, seraya dikejar oleh prajurit dari Ler Gunung, seperti Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, dengan mengacungkan keris yang terbuat dari baja, bergagang kayu pelet berbentuk babodolan, yang sudah dihunus dari sarungnya, seberapa jauhnya Ki Gusti Agung Maruti lari, terus juga dikejar, lalu dibanjiri kanan kiri oleh prajurit dari Ler Adri, sehingga beliau ibarat anjing terpukul, oleh karena tidak ada jalan, sehingga beliau berbalik bersama prajuritnya, keinginannya untuk sekaligus dengan bertempur habis-habisan, mencari jalan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti yang ditujunya, beliau Ki Gusti Ngurah Panji Sakti penguasa dari Ler Adri sangat hati-hati, keinginannya untuk menandingi dalam pertempuran, ketika bersikap akan berbuat, kemudian tangkai keris itu pecah menjadi dua, tangkai keris yang berbentuk babodolan, rusak pukuh kerisnya, sehingga Ki Gusti Ngurah Panji Sakti kaget terhenti, selanjutnya mengganti senjata, mengambil keris pusaka Ki Semang, saat itu Ki Gusti Agung Maruti dapat kesempatan menghindar bersama prajuritnya, haripun menjelang malam, maka tidak dapat dikejar oleh Ki Gusti Panji Sakti, selanjutnya menuju Gelgel, di sana beliau mengutarakan sumpahnya, semua keturunannya sampai kemudian hari, tidak boleh mempergunakan senjata yang berkepala/berbentuk babodolan, oleh karena sangat tidak berguna, demikian ceritanya.&lt;br /&gt;Entah berapa lamanya, pemerintahan Sri Panji Sakti, beliau tetap tinggal di istana Sukasada, beliau menurunkan banyak putra serta cucu, tidak ada yang berani menentang perintah beliau raja, Semuanya diam tunduk dan setia, masing-masing melakukan kegiatannya, dan entah berapa lamanya, setelah tiba ajalnya, akhirnya beliau Ki Gusti Ngurah Panji moksah, menuju alam Nirwana, meninggalkan sanak keluarga, meninggalkan banyak putra laki perempuan, masing-masing namanya, yang tertua Ki Gusti Ngurah Panji Gede, yang berhasil menggantikan menjadi raja Den Bukit, beliau tinggal di istana Sukasada, adiknya bernama Ki Gusti Ngurah Panji Made, satu ibu lahir dari I Dewa Ayu Juruh.&lt;br /&gt;I Gusti Alit Oka, I Gusti Made Padang, satu ibu lahir dari golongan Wesya yang berasal dari Banjar Ambengan Badung. Beliau I Gusti Made Padang, mengambil istri I Gusti Luh Abyan Tubuh, anak Ki Gusti Sakti, raja Tabanan.&lt;br /&gt;Ki Gusti Wayan Padang, Ki Gusti Made Banjar, satu ibu berasal dari desa Panji. Dan lagi I Gusti Ayu Panji, beribu Ki Gusti Ayu Rai, putri raja dari Mangwi, dipakai istri oleh Ki Gusti Anom dari Kapal Mangwi.&lt;br /&gt;I Gusti Ngurah Panji Cede, mempunyai seorang putri, bernama I Gusti Ayu Jelantik Rawit, I Gusti Ngurah Panji Made, berputra I Gusti Ngurah Panji Bali, beristri I Gusti Ayu Jelantik Rawit, I Gusti Panji Tahimuk, I Gusti Made Munggu, I Gusti Nyoman Panji, I Gusti Oka paling kecil.&lt;br /&gt;I Gusti Alit Oka, mempunyai seorang putri, bernama I Gusti Ayu Nambangan Mas, nama lain beliau I Gusti Ayu Den Bukit, dipakai istri oleh beliau Dalem Dewa Agung Made, yang berhasil melahirkan Dewa Agung Panji beserta keturunannya.&lt;br /&gt;I Gusti Made Padang berputra Ki Gusti Gede Jelantik, beliau pindah ke Jineng Dalem. I Gusti Wayan Padang, berputra Ki Gusti Lanang Jelantik, I Gusti Panji Dalugdag. I Gusti Made Banjar, berputra tiga laki-laki, Semuanya ikut mengiringkan Ki Gusti Ayu Nambangan Mas Den Bukit, ke Klungkung. I Gusti Ayu Panji, kawin ke Mangwi daerah wilayah Kapal.&lt;br /&gt;Sesudah sama-sama pergi ke alam baka, seperti Ki Gusti Ngurah Panji Gede, beserta Ki Gusti Ngurah Panji Made, lalu digantikan oleh Ki Gusti Ngurah Panji Bali, menjadi raja di daerah Den Bukit, selanjutnya beliau beristana di Sukasada, akan tetapi istana di Singaraja dipelihara sebagai tempat bersenang-senang, karena dibuat oleh leluhurnya, supaya tidak hilang dan hancur, tetap handal selama pemerintahan beliau, tidak ada yang berani berbuat durhaka.&lt;br /&gt;Ada putranya Ki Gusti Ngurah Panji Bali, dua orang laki-laki berlainan ibu, yang tertua bernama Ki Gusti Ngurah Panji, beliau sebagai raja di istana Sukasada. Adiknya, bernama Ki Gusti Ngurah Jelantik, beliau yang menjadi raja di Singaraja, oleh karena sudah dibagi daerah Lor Adri oleh dua bersaudara itu, sama-sama lahir dari permaisuri.&lt;br /&gt;Adapun I Gusti Made Munggu, berputra Ki Gusti Wayan Panji. Ki Gusti Wayan Gulyang, sama-sama berada di Singaraja, I Gusti Made Ksatra, I Gusti Made Ino, serta I Gusti Ketut Intaran Kawan, yang pergi ke Patemon, dan lagi I Gusti Nyoman Patandakan, yang pergi ke Bon Tihing. I Gusti Nyoman Panji, berputra I Gusti Wayan Ksatra; I Gusti Made Ino, dan I Gusti Ketut Intaran Kawan, sama-sama di Sukasada. I Gusti Oka, beliau tidak berputra. Adapun Ki Gusti Gede Jelantik, beliau mempunyai dua orang putri, bernama I Gusti Ayu Raka yang tertua, dipakai istri oleh beliau yang berkuasa di Sukasada, dan yang kedua, I Gusti Ayu Rai, dipakai istri oleh beliau yang berkuasa di Singaraja. Adapun tiga orang yang mengikuti I Gusti Ayu Nambangan Mas, di Klungkung, pindahnya dari Banyuning, mereka menetap tinggal di Banjar Lebah Klungkung, mereka menurunkan banyak keturunan di sana, tunduk setia kepada beliau yang diikutinya. Ki Gusti Lanang Jelantik, berputra Ki Gusti Alit Ksatra. Ki Gusti Panji Dalugdag, berputra Ki Gusti Bagus Panji Celuk, beserta saudaranya di Banyuning. Demikian beliau pergi mencari tempat tinggal, sebab rakyatnya sama-sama bakti menghamba.&lt;br /&gt;Lama-kelamaan, sebagai manusia yang tidak luput dari kesulitan dan penyakit, tak terduga takdir Yang Maha Kuasa, terjadilah perselisihan di dalam keluarga, yang berkuasa di Sukasada, dengan yang berkuasa di Singaraja, semakin lama semakin keras bentrok mereka, tidak ada yang berani menghalanginya, sebab sama-sama sangat mempercayai fitnah, sehingga yang berkuasa di Singaraja, meminta bantuan kepada Ki Gusti Ngurah Ketut Karangasern, Raja di Amlapura, sebagai pengatur siasat I Gusti Nengah Sibetan Wiweka, sebagai penguasa desa Selat, apa yang dikatakan, Raja di Singaraja Ki Gusti Ngurah Jelantik, membuat perjanjian imbalan terlebih dahulu, jika sudah mencapai tujuan, menyebabkan tunduk kakaknya, yang berkuasa di Sukasada, bersedia akan membagi pajak bumi Den Gunung, sama-sama memimpin bumi Buleleng, sebagai pemimpin hanya Ki Gusti Ngurah Jelantik, sebagai lambang adapun Sri Bupati dari Amlapura sebagai raja muda (iwaraja), sebagai pemimpin taktik dan strategi pemerintahan (makocering niti), maka perjanjiannya disetujui oleh beliau yang memimpin Karangamla, segera berkemas prajurit itu lengkap dengan senjata, lengkap dengan segala perlengkapan, seluruh pasukan Karangasern, siap untuk berangkat ke Den Gunung, menuju kota Singaraja&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, didengar oleh kakaknya, jika adiknya meminta bantuan dari Karangasern, telah semua prajuritnya sampai di sana, luar biasa marahnya kepada adiknya, sehingga semua prajuritnya dipanggil dikumpulkan, disertai dengan senjata yang bertubi-tubi tan putus-putusnya, dengan maksud mendahului menyerang kota Singaraja, para prajurit menyebar menyerbu riuh rendah, hal itu diketahui oleh beliau penguasa Singaraja, sehingga sama-sama bersiaga, kemudian terjadilah perang, antara kedua istana itu, menjadi medan perang, setelah kedua belah pihak sama-sama melakukan pertempuran, saling berguguran. dorong mendorong, tikam-menikam, saling tombak, adapun sebagai pimpinan I Gusti Ngurah Jelantik, sehingga prajurit Sukasada menjadi terdesak, oleh karena kebanyakan musuh, dengan dibanjiri keberanian, tiba-tiba sama-sama melarikan diri bubar serta mundur, ada yang dirasakan dalam hati, akan hal kematiannya hampir tiba, itulah sebabnya Ki Gusti Ngurah Panji menjadi marah, menerobos ke tengah-tengah medan laga, ke depan dengan membawa keris pusaka Ki Semang, mengamuk dengan sangat hebatnya, banyak musuh beliau yang terbunuh, oleh karena kebanyakan lawan, sama-sama tidak hendak mundur, akhirnya kedua belah pihak Karangasern dan Singaraja berkumpul, menyerang mengurung, sehingga Ki Gusti Ngurah Panji dapat dikerubut, diusahakan merebut kerisnya, sehingga dapat diambil oleh musuhnya, akhirnya setelah lepas senjatanya beliau pun ditikam, darah beliau memancur, sehingga gugurlah beliau yang beristana di Sukasada, prajurit beliau semuanya tunduk memohon perlindungan, akhirnya semua prajurit Ler Gunung berkumpul menghamba kepada Ki Gusti Ngurah Jelantik, sebagai pemimpin daerah Den Bukit, beristana di Singaraja, sebagai raja muda beliau yang bergelar I Gusti Nyoman Karangasern, keturunan Arya Patandakan, sama-sama beristana di Singaraja, yang pindah dari Karangasern, atas perintah beliau Ki Gusti Ngurah Ketut Karangasern.&lt;br /&gt;Lama-kelamaan, setelah tiba ajalnya, beliau I Gusti Ngurah Jelantik wafat, namun karena liciknya daya upaya beliau raja Amlapura, akhirnya tersebar pula diketahui oleh rakyat, timbul pikiran loba dan tamak pada kawan, dengan mengandalkan kekuatan senjata dan rakyat, serta kereta perang dan perbekalan, di balik isi perundingan dulu, I Gusti Nyoman Karangasern dinobatkan menjadi raja Singaraja.&lt;br /&gt;Adapun anak beliau I Gusti Ngurah Jarantik, yang tertua bernama Ki Gusti Bagus Jelantik Banjar, berkedudukan sebagai patih di istana Bangkang, di bagian barat We Mala.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, Ki Gusti Nyoman Karangasern, memerintah sebagai raja wilayah Den Bukit, beliau meninggal karena diserang oleh penyakit, kemudian digantikan oleh Ki Gusti Agung Made Karangasern Sori, keturunan Karangasern, lebih kurang selama tiga tahun lamanya beliau berkuasa, beliau turun dari singgasana, oleh karena beliau tidak tegas memerintah rakyat, sehingga beliau memilih muka, tidak adil kepada rakyat.&lt;br /&gt;Adapun yang menggantikan beliau, bergelar Ki Gusti Ngurah Agung, mulanya juga dari Karangasern, sejak lama mengembara di Jembrana, sehingga beliau meninggal di Pangambengan Jambrana, diserang oleh prajurit penuh dengan senjata, oleh karena rakyat Jambrana tidak setuju menghamba kepada beliau.&lt;br /&gt;Kembali diceritakan, Ki Gusti Ngurah Panji, raja di Sukasada, yang meninggal di medan pertempuran dahulu, karenanya ada bernama desa Baratan, sampai sekarang, adalah bekas dua orang saudara bertempur, yang meninggal dalam pertempuran, meninggalkan putra, bernama Ki Gusti Ketut Panji, yang kalah dalam pertempuran dan masih hidup, selanjutnya beristana di Sukasada.&lt;br /&gt;Adapun yang menang dalam pertempuran, mempunyai putra bernama Ki Gusti Bagus Jlantik Banjar, beliau berkedudukan sebagai patih di istana Bangkang, ketiganya sama-sama meninggal karena tanah longsor, pada Isaka 1737 (1815 M), sebab lumpur dari gunung mengalir melaju ke wilayah Sukasada serta Bangkang, banyak rakyat yang meninggal terbenam oleh lumpur itu.&lt;br /&gt;Ada adik beliau Ki Gusti Bagus Jlantik Banjar, bernama Ki Gusti Ketut Jlantik, tidak meninggal oleh banjir lumpur itu, sebab beliau sudah pindah ke daerah Kubutambahan, serta adiknya yang bernama Ki Gusti Made Jlantik, mengungsi desa Pereyan Tabanan, beliau meninggal di sana, adapun yang bungsu bernama Ki Gusti Ketut Panji, beliau masih tetap tinggal di Singaraja.&lt;br /&gt;Adapun anaknya Ki Gusti Wayan Ksatra, yang bernama Ki Gusti Wayan Panji, Ki Gusti Wayan Panebel, serta Ki Gusti Nyoman Panarungan, sama-sama masih di Sukasada, Semuanya meninggal terbenam dalam lumpur pada tahun Isaka 1737 (1815 M).&lt;br /&gt;Adapun Ki Gusti Ayu Den Bukit, yang diambil sebagai istri oleh beliau Dalem Smarapura, berputra Dewa Agung Panji, beliau yang menurunkan Cokorda Agung Mangwi, beserta Dewa Agung Putu di daerah Getakan, serta Cokorda Mayun Giri, di daerah Nyalian.&lt;br /&gt;Adapun sanak saudaranya, beliau Ki Gusti Ayu Den Gunung, yang mengikuti beliau di Klungkung dahulu, yang paling tua menurunkan mereka yang berada di Gunung Rata, adiknya berputra yang menurunkan mereka yang berada di Sampyang Gianyar, sedangkan yang paling kecil berputra yang berada di daerah Lebah Klungkung.&lt;br /&gt;Kembali diceritakan, Ki Gusti Ketut Panji, berputra Ki Gusti Gede Panji, Ki Gusti Made Clagi, serta Ki Gusti Nyoman Pinatih, sama-sama berada di Sukasada. Ki Gusti Bagus Jlantik Banjar, berputra Ki Gusti Bagus Suwi, serta Ki Gusti Made Akeh, sama-sama berada di Bangkang.&lt;br /&gt;Adapun Ki Gusti Made Panji Muna, berputra Ki Gusti Bagus Jlantik Kalyanget. Ki Gusti Ketut Jlantik, berputra Ki Gusti Wayan Ksatra, berada di Kubutambahan, adiknya Ki Gusti Made Jlantik, berada di Panarukan.&lt;br /&gt;Adapun Ki Gusti Made Jlantik, yang meninggal di Pereyan, berputra Ki Gusti Wayan Jlantik, berada di Sasak. Sedangkan Ki Gusti Ketut Panji di Singaraja., sama-sama berada di Singaraja.&lt;br /&gt;Ada saudara beliau pergi ke Patemon, serta ke Bon Tihing, dan ke Depaha. Adapun Ki Gusti Wayan Panji, Ki Gusti Wayan Panebel, dan Ki Gusti Nyoman Panarungan, sama-sama menurunkan keluarga, selanjutnya dari Sukasada pindah ke Singaraja.&lt;br /&gt;Diceritakan Ki Gusti Gede Panji, berputra Ki Gusti Putu Panji, Ki Gusti Made Kari, dan Ki Gusti Ketut Panji, sama-sama berada di Sukasada. Ki Gusti Made Celagi beliau banyak menurunkan putra. Ki Gusti Nyoman Pinatih, mempunyai seorang putri bernama I Gusti Ayu Rai, serta saudara laki-lakinya. Ki Gusti Bagus Suwi, di Bangkang, mempunyai seorang putri Ki Gusti Ayu Made Ayu, beserta saudara laki-laki. Ki Gusti Made Akeh, di Bangkang, berputra I Gusti Nyoman Panji, I Gusti Ketut Jlantik Sangket, beserta saudaranya di Bangkang. Ki Gusti Bagus Jlantik Kalyanget, pindah dari Tukad Mungga, putra beliau Ki Gusti Bagus Jlantik Batupulu, adiknya Ki Gusti Made Batan, sama-sama di Tukad Mungga. Adapun Ki Gusti Wayan Ksatra di Kubutambahan, berputra I Gusti Putu Kari, Ki Gusti Putu Kebon nama lainnya, ada adiknya seorang wanita bernama Ki Gusti Ayu Made Batan.&lt;br /&gt;Adapun Ki Gusti Made Jlantik, di Panarukan, berputra Ki Gusti Ayu Putu Puji, Ki Gusti Ayu Jlantik, Ki Gusti Ayu Rai, dan Ki Gusti Ayu Putu Intaran Rudi. Selanjutnya I Gusti Wayan Jlantik yang berada di Sasak, berputra Ki Gusti Made Jlantik Jwala, serta Ki Gusti Ketut Jlantik Jwali. Adapun Ki Gusti Bagus Ksatra, di Singaraja, berputra Ki Gusti Bagus Rai, serta saudaranya, tidak diceritakan selanjutnya.&lt;br /&gt;Kembali diceritakan. setelah beliau Ki Gusti Ngurah yang wafat di Pangambengan , beliau digantikan, oleh yang bernama Ki Gusti Agung Pahang, pada saat Isaka 1751 (1829 M), beliau memindahkan istana Singaraja, ke sebelah barat jalan, entah berapa lamanya menjadi raja, terdorong oleh karena sudah kehendakNya, akhirnya keluar sifat angkara beliau, diduga tidak ada menandingi kewibawaannya, bertingkah laku tidak senonoh, sehingga melanggar tata susila yang sudah ada, gamya-gamana, serta berselingkuh dengan saudara perempuan beliau, hal itu diketahui oleh para menterinya, serta rakyatnya semua, akan tetapi Semuanya memendam dalam hati, tidak ada yang berani membuka mulut, akan kejahatan tuannya, akan tetapi semua sudah kentara bahwa semua mengetahui namun pura-pura tidak tahu, sehingga beliau Ki Gusti Ngurah Pahang menjadi was-was, mengira bukan mustahil rakyatnya semua akan menentang kekuasaannya, tetapi tetap niatnya berbuat ganas pada rakyatnya, terhadap tindak-tanduknya, belum pantas dihukum mati, dibunuhnya juga selalu memegang pentungan, tidak sedikit menyakiti rakyatnya, karena curiga pada diri atas perilakunya yang tidak senonoh. Kira-kira tiga tahun lamanya beliau menjadi raja, ada para arya bernama Ki Gusti Bagus Ksatra dari Singaraja, saudara beliau Ki Gusti Made Singaraja, anak beliau Ki Gusti Ketut Panji, beliau Ki Gusti Bagus Ksatra, disuruh membunuh oleh Ki Gusti Agung Pahang, sebab memberikan hidangan ikan udang kepada beliau, disangka oleh beliau raja, akan menjadi sebab berhenti menjadi raja Den Bukit, ada pula yang bernama Wayan Rumyani, Pan Apus nama lainnya, ia rakyat yang dipercayai menjadi perbekel, ikut juga dibunuhnya, oleh karena kelihatan sebagai raja gila, disangkanya jelas akan mencelakakan.&lt;br /&gt;Selanjutnya jenazah Ki Gusti Bagus Ksatra, ditambatkan di lapangan, telinganya kiri-kanan diberi bunga kembang sepatu merah, mayatnya menjadi tontonan orang banyak, dan adiknya Ki Gusti Made Singaraja, menghadap raja, memohon belas kasihan, memohon jenazah kakaknya, ternyata tidak diijinkan oleh beliau raja, setelah sore hari, barulah mayatnya diserahkan kepada sanak saudaranya.&lt;br /&gt;Oleh karena demikian keadaannya, luar biasa marahnya Ki Gusti Made Singaraja, beserta sanak keluarganya semua, semua keturunan pemberani Sri Panji Sakti, lalu bersama-sama mengadakan perundingan, setelah memperoleh keputusan, memaksa menerobos masuk istana.&lt;br /&gt;Pada saat hari baik, beliau raja &lt; &gt; Pahang mengadakan keramaian di istana, mengadakan pertunjukan wayang kulit, adapun sebagai Dalangnya bernama Ki Gulyang, dari desa Banjar, itulah kesempatan para arya semuanya, bermaksud ikut mengamuk di istana, sudah siap dengan senjata, hanya menunggu keluarnya beliau sang raja, menonton, sampai tengah malam, juga Ki Gusti Agung Pahang belum keluar, menonton wayang, adapun Ki Dalang Gulyang sedang memainkan perang wayang, akhirnya semua para arya kepayahan menunggu, akhirnya mereka menyebar mengacau, mengamuk orang-orang yang menonton wayang, ada yang menikam ke arah Dalang yang sedang memainkan wayang, layarnyapun robek, adapun sang dalang saat itu sedang memegang wayang Bima, serta wayang Tuwalen, serta membawa Capala, oleh karena kagetnya, lalu segeralah ia melompat mencari perlindungan, membawa wayang Bima dan Tuwalen, beserta capalanya.&lt;br /&gt;Tidak diceritakan banyaknya yang mati dan terluka di tempat orang menonton, kacau balau, mencari perlindungan, sehingga hiruk-pikuk mondar-mandir, di halaman kedua istana, disambut dengan suara kentongan bertalu-talu, luar biasa riuhnya orang-orang, seisi istana, sama-sama keluar dengan membawa senjata, sama-sama menunggu di jalan raya, sebab tidak ada yang berani masuk ke istana, oleh karena sangat gelapnya.&lt;br /&gt;Diceritakan ada yang bernama Ketut Karang, sebagai kepala penjaga istana, bertempat tinggal di Panataran, ia berbicara, mengingatkan Ki Gusti Made Singaraja, beserta pengikutnya, menyuruh untuk kembali pulang, sebab beliau raja sudah pergi mengungsi meninggalkan istana, tidak akan berhasil jika langsung masuk ke dalam istana, mungkin tujuannya akan menemui bahaya, demikian cegahan Ketut Karang, lalu mereka yang menyerang kembali pulang semuanya, menuju rumahnya masing-masing.&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Ki Gusti Agung Pahang, dihadapkan dalam persidangan, dihadapkan oleh semua para manca, akan tetapi para arya Den Bukit tidak ikut, melakukan persidangan, tentang pemberontakan para arya Buleleng, durhaka mengamuk dalam istana, setelah kesepakatan raja selesai, sesudah disepakati oleh para arya keturunan Karangasern, bahwa akan membunuh semua para arya Buleleng, laki perempuan, tua muda, supaya tidak ada tersisa, sebab sangat besar dosanya terhadap sang raja, setelah demikian keadaannya, tidak menunggu sehari, seketika mendadak dikerahkan para prajuritnya lengkap dengan senjata, disuruh untuk menghancurkan para arya yang ada di Ler Adri, ternyata lamban tindakan para arya itu kurang cepat mengelak, sehingga hancur beserta dengan anak-anaknya (arare cili), oleh karena angkatan bersenjatanya sangat hebat jitu melaksanakan perintah sang raja, itu sebabnya berpuluh bahkan sampai ratusan mereka yang dapat ditikam dengan keris, serta tombak, segala yang mengakibatkan kematian, bagaikan bergunung mayat dan berlautan darah kenyataannya, demikian diceritakan.&lt;br /&gt;Kenyataannya, sebab kehendakNya tidak dapat dilawan, untuk menciptakan kebesaran keturunan beliau Ki Gusti Ngurah Panji, walaupun beberapa banyaknya prajurit beliau, memporak-porandakan para arya Den Bukit, tetapi didorong oleh kekuatan suci beliau yang sudah mendahuluinya ( wafat), mereka tak mungkin sampai habis dihancurkan, ada juga yang tersisa, yang berhasil menurunkan keturunan sampai sekarang, bagaikan dilindungi oleh dewata persembunyiannya, sehingga terlepas dari kematian, siapakah itu yang masih hidup?, demikian kira-kira pertanyaannya, di antaranya, Ki Gusti Made Kari, Ki Gusti Ketut Panji, sama-sama ada di Sukasada, beliau sama-sama pindah ke wilayah Desa Kapal Mangwi, beliau yang menurunkan keturunan di Sukasada sampai sekarang. Adapun Ki Gusti Nyoman Panji, beserta saudaranya Ki Gusti Ketut Jlantik Sangket, sama-sama pergi menyelinap di hutan-hutan wilayah desa Panji, beliau yang menurunkan para arya di istana Bangkang sampai sekarang.&lt;br /&gt;Adapun Ki Gusti Bagus Ketut Jlantik Batupulu, serta adiknya Ki Gusti Made Batan, sama-sama mengungsi menuju wilayah desa Soka Tabanan, beliau yang menurunkan sanak keluarga para arya Tukad Mungga, sampai sekarang.&lt;br /&gt;Selanjutnya Ki Gusti Putu Kebon, Ki Gusti Putu Kari nama lain beliau, pergi ke desa Pakisan, dan berhasil menurunkan yang di istana Kubutambahan. Adapun Ki Gusti Ketut Jlantik Jwali, menurunkan keturunan di Karang Buleleng Sasak sampai sekarang.&lt;br /&gt;Pendeknya, apa sebab sama-sama masih hidup, karena ditolong oleh rakyatnya masing-masing, yang masih bakti menghamba, berusaha menyelamatkan diri.&lt;br /&gt;Kembali diceritakan, tidak menyimpang akan titah Nya, perbuatan semasa hidup didorong oleh perbuatannya dahulu, sebabnya Ki Gusti Ngurah Pahang, semakin bertambah angkara murkanya, bagaikan malapetaka dari-Nya, segera semakin diketahui oleh rakyatnya semua, perbuatannya gamya-gamana dengan adik, menyebabkan panas pada saat musim hujan, hasil panen tidak berhasil, kebutuhan sehari-hari jarang, negara menjadi terpecah, sehingga orang-orang menjadi ribut, bertengkar berperang dengan sanak keluarga, sama-sama tidak tertahankan oleh para manca serta semua rakyat , selanjutnya K-i Gusti Agung Pahang dikepung oleh rakyat bersenjata, akhirnya lari ke wilayah Karangasern, setibanya beliau di sana, akhirnya beliau dibunuh oleh rakyat Karangasern.&lt;br /&gt;Digantikan oleh beliau yang bernama Ki Gusti Ngurah Made, yang menggantikan kedudukan raja Buleleng, beliau juga keturunan Karangasern, dibantu oleh beliau yang bernama Ki Gusti Ketut Jlantik Gingsir, kedudukannya sebagai patih, diberi mandat memerintah negara Buleleng, keberanian beliau Ki Gusti Patih terkenal ke mana-mana sampai ke pelosok Pulau Bali, sebab beliau mengalahkan desa-desa yang ada di wilayah pegunungan Bangli, seperti Payangan, sangat luar biasa pujian rakyat, akan keberanian beliau menggempur musuhnya yang sakti.&lt;br /&gt;Entah berapa tahun lamanya, tiba-tiba ada perbedaan pendapat Ki Gusti Patih Ketut Jlantik, berselisih dengan pemerintahan Belanda, menyebabkan terjadinya permusuhan, perangpun terjadi sangat hebat, antara Belanda dengan rakyat Bali, lamanya perang hingga tiga tahun, akhirnya rakyat Den Bukit mengalami kekalahan, oleh pemerintahan Belanda, pada Isaka 1768 ( 1846 M), adapun raja Ngurah Made, serta Ki Gusti Ketut Jlantik, disertai prajuritnya, lari pergi menuju wilayah Karangasern.&lt;br /&gt;Setelah demikian, tidak ada lagi keturunan raja Karangasern yang memerintah di Buleleng, dan pemerintahan Belanda yang berhasil menang di Buleleng, untuk menjalankan pemerintahan, kembali mengangkat raja, memilih raja keturunan Den Bukit seperti dulu kala, setelah pembicaraan selesai, disetujui oleh para manca dan punggawa semua, diusahakan mencari yang benar-benar keturunan para arya, keturunan Sri Panji Sakti dahulu, yang memerintah di Den Gunung, sebab dipilih oleh semua orang yang menginginkan, sehingga dinobatkan bergelar Ki Gusti Made Rai di Sukasada, menjadi penguasa Den Bukit, beliau adalah putra dari Ki Gusti Made Kari, yang pergi ke daerah Kapal Mangwi, pada saat diserang oleh Ki Gusti Agung Pahang dahulu.&lt;br /&gt;Ada saudara tertua beliau Ki Gusti Made Rai seorang wanita, bernama Ki Gusti Ayu Pakisan, adiknya bernama Ki Gusti Ayu Rai, yang laki bernama Ki Gusti Made Panji, serta Ki Gusti Nyoman Panarungan.&lt;br /&gt;Adapun adik beliau Ki Gusti Made Kari, yang bernama Ki Gusti Ketut Panji, beliau berputra Ki Gusti Ayu Griya, Ki Gusti Agung, serta Ki Gusti Ayu Bulan, sama-sama berada di Sukasada.&lt;br /&gt;Adapun Ki Gusti Nyoman Panji, yang pergi menuju desa Alas Panji, berputra Ki Gusti Ayu Sekar, Ki Gusti Made Banjar, Ki Gusti Nyoman Banjar, serta Ki Gusti Ketut Tangkeban.&lt;br /&gt;Adapun adik beliau Ki Gusti Nyoman Panji, yang bernama Ki Gusti Ketut Jlantik Sangket berputra Ki Gusti Wayan Jlantik, Ki Gusti Nyoman Oka, Ki Gusti Ketut Rai serta yang lain ibu dengan Ki Gusti Ayu Kompyang Panji, Ki Gusti Ayu Nyoman Rai, Ki Gusti Ketut Ksatra, Ki Gusti Ketut Banjar, serta Ki Gusti Ayu Kaler, sama-sama kembali ke Bangkang.&lt;br /&gt;Adapun Ki Gusti Bagus Jlantik Batupulu, yang pergi ke desa pegunungan di daerah Soka Tabanan, berputra Ki Gusti Putu Panji, Ki Gusti Ayu Mas, Ki Gusti Ketut Ksatra, serta Ki Gusti Ketut Jlantik, semua kembali ke wilayah Desa Tukad Mungga.&lt;br /&gt;Juga adik beliau yang bernama Ki Gusti Made Batan, berputra Ki Gusti Putu Batan, Ki Gusti Ayu Made Taman, Ki Gusti Nyoman Jlantik, Ki Gusti Ketut Kaler, Ki Gusti Ayu Rai, Ki Gusti Ayu Panji, Ki Gusti Bagus Jlantik, Ki Gusti Made Karang, Ki Gusti Ketut Banjar, serta Ki Gusti Ayu Nyoman Soka nama beliau, sebab lahir di desa Soka, pada saat mengungsi dahulu, itu Semuanya lalu bertempat tinggal di Tukad Mungga. Selanjutnya membangun tempat pemujaan di rumahnya di Tukad Mungga, meniru yang ada di istana Bangkang.&lt;br /&gt;Adapun Ki Gusti Putu Kari, Putu Kebon nama lain beliau, yang pergi ke Desa Pakisan, beliau berputra Ki Gusti Bagus Panji Cuwag, Ki Gusti Ketut Kaler, Ki Gusti Ketut Jlantik, serta Ki Gusti Ayu Putu, Semuanya kembali ke Kubutambahan.&lt;br /&gt;Juga beliau Ki Gusti Ketut Jlantik Jwali, berputra Ki Gusti Bagus Jlantik, Ki Gusti Made Rai, serta Ki Gusti Nyoman Jlantik, sama-sama bertempat tinggal di Sasak.&lt;br /&gt;Yang lainnya, ketika diserang oleh beliau Ki Gusti Agung Pahang, dahulu, oleh karena para Arya Buleleng sama-sama mencari keselamatannya masing-masing, ada para arya yang berbudi ingkar lupa akan leluhurnya, tidak mengetahui asal-usulnya, menuruti jalan hidupnya, sehingga tinggal di rumah orang yang beragama Islam di pesisir Singaraja, yang sudah jelas tidak setia pada agamanya, menjadi beragama Islam, ada keturunannya sampai sekarang, setelah bercampur dengan orang-orang yang beragama Islam.&lt;br /&gt;Entah beberapa lamanya, lebih kurang tiga tahun lamanya, Ki Gusti Made Rai menjadi raja Buleleng, akhirnya beliau turun dari singgasana, oleh karena tidak menghiraukan rakyat, didorong oleh nafsu, tenggelam dalam sabungan ayam, tidak ingat akan kewajibannya sebagai raja, beberapa bulan meninggalkan istana, tinggal diam di desa Panji, diiring oleh para penjudi, sangat keras mengikuti keinginan berjudi.&lt;br /&gt;Setelah mendapat kata sepakat oleh pemerintahan Belanda, dibantu oleh para menteri, punggawa semuanya, sehingga dipilih beliau Ki Gusti Ketut Jlantik di Kubutambahan, putra beliau I Gusti Putu Kari, dinobatkan menjadi raja di Buleleng, sebab beliau memang benar-benar keturunan Sri Agung Panji Sakti, keturunan keempat dari Ki Gusti Agung Rai.&lt;br /&gt;Kemudian dari hasil keputusan pemerintahan Belanda, pindah dari Kubutambahan beristana di Singaraja, bergelar Ki Gusti Nglurah Ketut Jlantik, dibantu oleh ayah beliau Ki Gusti Putu Kari, berkedudukan sebagai punggawa di Kubutambahan.&lt;br /&gt;Adapun ipar baginda raja, bernama Ki Gusti Putu Batan, raja muda dengan jabatan sedahan agung kedudukan beliau, dan Ki Gusti Bagus Jlantik, patih kedudukan beliau, semula berkedudukan di Tukad Mungga, selanjutnya pindah ke Singaraja, Puri Kanginan, lain dari itu, masih berada di Tukad Mungga, sama-sama diberi kedudukan oleh baginda raja, demikian keluarga raja keturunan istana Bangkang, serta yang berada di Sukasada, menyebabkan tenang dan sempurna baginda raja, dibantu oleh sanak keluarga dan tanda mantri serta punggawa.&lt;br /&gt;Entah berapa lamanya, bagaikan kehendak-Nya, sebab sudah tiga giliran waktunya pembagian takdir Yang Maha Kuasa, disertai dengan perputaran jaman, menyebabkan keadaan menjadi kacau, menyebabkan banyak yang saling fitnah, diakibatkan oleh keinginan Belanda untuk menguasai negara, dengan cara-caranya sendiri, sehingga ada saja alasannya untuk menghukum, menyalahkan Ki Gusti Ngurah Ketut Jlantik, sehingga beliau diberhentikan menjadi raja, selanjutnya beliau dijadikan orang buangan di Pulau seberang yaitu wilayah Padang Pulau Sumatra.&lt;br /&gt;Setelah keadaan demikian, selanjutnya Belanda sebagai penguasa daerah Buleleng, tidak ada rajanya lagi, hanya Ki Gusti Bagus Jlantik kedudukannya sebagai patih, sebagai pemimpin orang-Bali di Buleleng.&lt;br /&gt;Kembali diceritakan, tentang keturunan beliau Ki Gusti Made Rai di Sukasada, beliau banyak menurunkan keturunan, yang tertua Ki Gusti Bagus Rai, adiknya Ki Gusti Made Ksatra, Ki Gusti Nyoman Karang, Ki Gusti Ketut Tangi, Ki Gusti Ketut Jlantik, Ki Gusti Bagus Dalang, Ki Gusti Ayu Ketut Rai, Ki Gusti Putu Gunung, Ki Gusti Nyoman Jlantik Ceples, Ki Gusti Ayu Jlantik, Ki Gusti Ketut Perasi, Ki Gusti Nyoman Jlantik, Ki Gusti Ketut Rai, Ki Gusti Ayu Putu, beliau dijadikan istri oleh Ki Gusti Putu Griya, di Singaraja.&lt;br /&gt;Adapun Ki Gusti Made Panji, berputra Ki Gusti Ayu Turun. Adapun I Gusti Nyoman Panarungan, berputra Ki Gusti Bagus Bebed, sama-sama berkedudukan di Sukasada.&lt;br /&gt;Adapun Ki Gusti Agung, pindah ke Depaha, berputra Ki Gusti Ayu Sekar, Ki Gusti Ayu Made Panji, Ki Gusti Ayu Made Rai Kebring, yang dijadikan istri oleh Ki Gusti Made Singaraja, di Singaraja, Ki Gusti Ketut Jlantik, Ki Gusti Putu Canang, Ki Gusti Made Togog, Ki Gusti Ayu Nyoman Tilem, Ki Gusti Ketut Panji, serta Ki Gusti Ayu Jlantik.&lt;br /&gt;Adapun yang berada di istana Bangkang, Ki Gusti Made Banjar, berputra Ki Gusti Ayu Dangin, istri beliau Ki Gusti Nyoman Gunung, di Tukad Mungga, Ki Gusti Ayu Mas, Ki Gusti Nyoman Jlantik, serta KI Gusti Made Panji.&lt;br /&gt;Adapun Ki Gusti Nyoman Banjar, berputra Ki Gusti Ayu Kompyang Panji, Ki Gusti Made Selat, serta Ki Gusti Ketut Putu. Adapun Ki Gusti Ketut Tangkeban, beliau tidak mempunyai keturunan.&lt;br /&gt;Adapun Ki Gusti Wayan Jlantik, berputra Ki Gusti Putu Cede, Ki Gusti Made Jlantik, Ki Gusti Ayu Nyoman Ayu, istri beliau Ki Gusti Nyoman Jlantik, Ki Gusti Ayu Kajeng, Ki Gusti Ayu Rai, istri beliau Ki Gusti Putu Intaran, di Bangkang, Ki Gusti Ayu Ketut Panji,, istri beliau Ki Gusti Ketut Putra di Tukad Mungga, serta yang bungsu Ki Gusti Bagus Jlantik.&lt;br /&gt;Adapun Ki Gusti Nyoman Oka, berputra Ki Gusti Putu Intaran, Ki Gusti Made Celagi, Ki Gusti Nyoman Jlantik Jebel, Ki Gusti Putu Gianyar, serta Ki Gusti Made Kaler. Kemudian Ki Gusti Ketut Rai, berputra Ki Gusti Ayu Jlantik, istri beliau Ki Gusti Bagus Rai dari Tukad Kemudian Ki Gusti Ketut Panji, berputra Ki Gusti Putu Panji, Ki Gusti Ayu Kompyang Sekar, istri beliau Ki Gusti Made Jlantik, Ki Gusti Ayu Made Rai, istri beliau Ki Gusti Nyoman Jlantik Jebel.&lt;br /&gt;Adapun Ki Gusti Ketut Kaler, berputra Ki Gusti Ayu Kompyang Jlantik, istri beliau Ki Gusti Bagus Jlantik dari Bangkang, serta adiknya Ki Gusti Made Raka. Adapun Ki Gusti Ketut Ksatra, berputra Ki Gusti Bagus Jlantik Dawuh. Kemudian Ki Gusti Ketut Banjar, berputra Ki Gusti Ayu Dalem, istri beliau Ki Gusti Ketut Putu di Bangkang, Ki Gusti Ayu Made Rai, Ki Gusti Panji Cuweh, Ki Gusti Ayu Made Ayu, Ki Gusti Ketut Ayu, Ki Gusti Ayu Selat, Ki Gusti Made Jiwa, Ki Gusti Nyoman Raka, serta Ki Gusti Ayu Ketut Griya, beliau Semuanya ada di Bangkang, satu tempat suci untuk pemujaan bagi beliau semua. Adapun yang ada di Tukad Mungga, yang bernama Ki Gusti Putu Panji, berputra Ki Gusti Bagus Rai, Ki Gusti Ayu Jlantik, istri beliau Ki Gusti Putu Intaran di Tukad Mungga, Ki Gusti Made Oka, Ki Gusti Ayu Nyoman Rempeg, istri beliau Ki Gusti Putu Gianyar di Bangkang, serta Ki Gusti Ketut Cede. Ki Gusti Ketut Ksatra, berputra Ki Gusti Ayu Kompyang Sekar, istri beliau Ki Gusti Ketut Cede, di Tukad Mungga, adiknya Ki Gusti Made Jlantik. Adapun Ki Gusti Ketut Jlantik, berputra Ki Gusti Ayu Kompyang Rai, istri beliau Ki Gusti Ketut Cede di Tukad Mungga.&lt;br /&gt;Selanjutnya Ki Gusti Putu Batan, berputra Ki Gusti Ayu Putu Sekar, istri beliau Ki Gusti Ketut Ksatra di Bangkang, Ki Gusti Ayu Made Jlantik, istri beliau Ki Gusti Made Celagi di Bangkang, Ki Gusti Ayu Kompyang Ayu, istri beliau Ki Gusti Putu Griya di Singaraja, Ki Gusti Made Singaraja, Ki Gusti Ayu Nyoman Ayu, istri beliau Ki Gusti Nyoman Raka, Ki Gusti Ketut Bagus, serta yang bungsu Ki Gusti Ketut Putu.&lt;br /&gt;Adapun beliau Ki Gusti Nyoman Jlantik, berputra Ki Gusti Putu Center, Ki Gusti Ayu Made Rai, istri beliau Ki Gusti Putu Cede di Bangkang, Ki Gusti Putu Selat, Ki Gusti Ayu Made Sekar, Ki Gusti Nyoman Jlantik Gunung, serta Ki Gusti Ketut Putra. Adapun Ki Gusti Ketut Kaler, berputra Ki Gusti Ayu Kompyang Kaler, serta Ki Gusti Ayu Made Griya, sama-sama diambil sebagai istri oleh Ki Gusti Ketut Jlantik.&lt;br /&gt;Selanjutnya Ki Gusti Bagus Jlantik Patih, berputra Ki Gusti Putu Intaran. Serta Ki Gusti Made Karang, beliau tidak mempunyai keturunan. Selanjutnya Ki Gusti Ketut Banjar, putra beliau tertua bernama Ki Gusti Putu Griya, adiknya Ki Gusti Ayu Made Panji, istri beliau Ki Gusti Putu Selat di Tukad Mungga, Ki Gusti Nyoman Raka, Ki Gusti Ketut Jlantik, serta Ki Gusti Ayu Rai, istri beliau Ki Gusti Putu Intaran di Tukad Mungga. Demikian keturunan beliau yang ada di Tukad Mungga, Semuanya bersatu dalam satu tempat pemujaan masing-masing di desa Tukad Mungga.&lt;br /&gt;Adapun Ki Gusti Ngurah Ketut Jlantik, bekas raja Buleleng yang terakhir, berasal dari keturunan di Kubutambahan, beliau mempunyai seorang putri, bernama Ki Gusti Ayu Kompyang, istri beliau Ki Gusti Made Singaraja, di Singaraja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber babad bali yayasan bali galang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5793188356812913061-7678673689166594994?l=serombotan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serombotan.blogspot.com/feeds/7678673689166594994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5793188356812913061&amp;postID=7678673689166594994' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/7678673689166594994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/7678673689166594994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serombotan.blogspot.com/2008/12/babad-buleleng.html' title='babad buleleng'/><author><name>gusade777</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04034465685906450642</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1ceAZbbktbQ/SUUa1X1BNmI/AAAAAAAAAA8/xoztvWY_U1k/s72-c/Puputan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5793188356812913061.post-3144428340746199057</id><published>2008-12-13T09:26:00.000-08:00</published><updated>2009-01-20T06:49:21.737-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='babad'/><title type='text'>babad keturunan gajah para</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1ceAZbbktbQ/SUPwkW8s98I/AAAAAAAAAA0/cHxV4SnA8QI/s1600-h/Acenter.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1ceAZbbktbQ/SUPwkW8s98I/AAAAAAAAAA0/cHxV4SnA8QI/s320/Acenter.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279327695634495426" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ya Tuhan semoga tidak mendapat halangan. &lt;br /&gt;Ong pranamyam sira sang siwyam, bhukti mukti hitarratam,&lt;br /&gt;prawaksye tatwa wijnevah, wisnwangsa patayo swaram.&lt;br /&gt;Sira ghranestyam patyam, rajasityam mahabalam,&lt;br /&gt;sawangsanira mangjawam, bhuphalakarn patyam loke.&lt;br /&gt;Ong nama dewa ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembah hamba ke hadapan Batara junjungan, daulat paduka leluhur yang telah menjadi batara, Engkau yang menganugerahi kehidupan (makanan) dan kebahagiaan, keberhasilan dalam segala kehendak, senantiasa bersemayam dalam perasaan dan pikiran, dipuja agar merestui, para bijak di lingkungan keluarga memohon untuk menyebarkan cerita ( sejarah ) ini, yang berkenaan dengan kewajiban seorang raja, menerangi dan menjadi contoh di dunia, akan diuraikan tentang silsilah keturunan oleh beliau junjungan utama yang telah sempurna. Pada awalnya dimulai. Selamat dan panjang usia, terhindar dari kutuk celaan fitnah bagaikan terkena racun, semoga terus dijunjung di dunia. Ya Tuhan semoga menemukan keberhasilan.&lt;br /&gt;Selamat pada tahun Saka 530 yang telah lewat, bulan Cetra (sekitar Maret), hari ke-12 terang bulan, hari dalam sepekan Julung Pujut, pada saat itu titah paduka batara Maharaja Manu, tiba di pulau Jawa di Medangkamulan, di sana dipuja sebagai dewa, dan menjadi pelindung pertama di negeri itu.&lt;br /&gt;Gurunam sobitah siyotah.&lt;br /&gt;Sebabnya beliau turun, karena atas titah ayah beliau , Batara Guru, menitahkan untuk menegakkan dharma ( kebenaran ) di Medangkemulan, kemudian selesainya melaksanakan dharma beliau, beliau juga melakukan semadi, menghadap/ memuja Surya pada waktu mulai terbit. Hasil dari tapanya, beliau bagaikan dewa dalam alam nyata, oleh karena itu tidak ada yang menyamai di dunia, demikian selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman loke turanjitah, stroteyam satya dharmmanam,&lt;br /&gt;Sakyam wakbhitah krtti loke, bhuta bhawanam wancanam.&lt;br /&gt;Karenanya tenteramlah negeri itu selama beliau dijunjung bagi beliau tidak ada yang melebihi selain darma, itulah sebabnya berhasil segala yang diucapkannya, Hyang Maharaja Manu juga memahami tentang kebatinan.&lt;br /&gt;Jawanam mandawe swijah, dasantih bhujanggam tayah,&lt;br /&gt;tasiyamnco ywanam prajah, haiwam santanam Wijnanah.&lt;br /&gt;Entah berapa lama hyang Batara Maharaja Manu, bertahta menjadi pemimpin di sana, bagaikan dewa dalam kenyataan, beliau tetap mempertahankan kemuliaan, sampai ke seluruh negeri, disegani oleh rakyat maupun bangsawan, orang pertama dalam keturunan Manu, di kerajaan, Medangkamulan.&lt;br /&gt;Awiji ekam sastito. &lt;br /&gt;Awalnya beliau Maharaja Manu, menurunkan keturunan utama seorang laki-laki, bergelar Sri Jaya Langit. Adapun Sri Jaya langit, menurunkan Sri Wrttikandayun. Adapun Sri Wrttikandayun, menurunkan Sri Kameswara Paradewasikan. Adapun Sri Kameswara Paradewasikan, menurunkan Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama Tungga Dewa, beliau sebagai pemimpin utama, perencana unggul, raja di antara para yogi dan penguasa tertinggi, menjabarkan tujuh formasi ilmu Sanskrit dalam tata bahasa, oleh dilampaui orang. Hasil karya Bagawan Byasa, digubah dalam palawakya, memahami seluk beluk cerita prosa dari Astadasa Parwa. Beliau bagaikan Raja yang unggul di dunia, pikiran beliau mengutamakan kebenaran, tidak diperdaya sebagai raja, menjaga daerah kekuasaan, mengutamakan kejujuran dan kesetiaan, sungguh beliau menjadi pelindung dunia.&lt;br /&gt;Prawaktayan sri gotrabih. Beliau raja penguasa pertama, pada waktu beliau memerintah negeri itu makmur, para pernuka tidak ada yang berani menentang beliau. Demikian keistimewaan beliau Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama Tunggadewa.&lt;br /&gt;Beberapa lama beliau dijunjung menjadi penguasa negeri, berhasil mempunyai keturunan, beliau berputra laki-laki yang utama, bernama Sri Kameswara, seperti nama buyut beliau. Adapun Sri Kameswara, memiliki keturunan tiga laki-laki, dan seorang perempuan, Semuanya ada empat, rinciannya adalah, yang tertua bernama Sri Krtta Dharma, beliau yang wafat di Jirah. Adapun adik beliau, Sri Tunggul Ametung, beliau wafat di Tumapel, saudara yang perempuan, bernama Dewi Ghori Puspatha, disunting oleh Mpu Widha, saudara dari Medhawati, telah menyatu ke alam baka, berkedudukan di kuburan. Adapun yang keempat, adalah Sri Airlangga, yang diangkat dari Sri Udayana Warmadewa, raja Bali, beserta Sri Guna Priya Dharmapatni, keturunan dari Mpu Sendok.&lt;br /&gt;Adapun Sri Airlangga menjadi raja penguasa berkedudukan di negara Daha. Memiliki keturunan dua laki-laki utama, yang ketiga putri di luar istana. Putra tertua itu bernama Sri Jayabhaya, dan Sri Jayashaba, lahir dari ibu permaisuri. Semuanya keturunan Wisnuwangsa Kediri. Adapun yang di luar istana (puspa capa), bergelar Sri Arya Buru, sama-sama keturunan orang dusun, cikal bakal lurah Tutwan, Si Gunaraksa yang datang ke Bali.&lt;br /&gt;Silsilah raja Sri Jayabhaya yang diuraikan terlebih dahulu, raja Sri Jayabhaya, berputra tiga orang laki-laki, yang tertua bernama raja Sri Dandang Gendis, Sri Siwa Wandhira, Sri Jaya Kusuma, demikian keturunan beliau Sri Jayabhaya. Adapun raja Sri Dandang Gendis, memiliki keturunan Sri Jaya Katong, dia wafat dalam peperangan, Sri Jaya Katong, berputra Sri Jaya Katha, adapun Sri Siwa Wandhira berputra Sri Jaya Waringin, Sri Jaya Waringin berputra Sri Kuta Wandhira berputra bernama Arya Kutawaringin, dia pergi ke Bali, diutus oleh beliau Patih Mada, berkembang keturunannya menjadi keluarga Kubon Tubuh, Kuta Waringin, sampai di sana diceritakan.&lt;br /&gt;Adapun Sri Jaya Kusuma, memiliki keturunan Sri Wira Kusuma, tidak mengikuti aturan kata krama keluarga, melahirkan keturunan berada di Pulau Jawa, tidak diceritakan lagi kelanjutannya.&lt;br /&gt;Kembali Sri Jayasabha yang diceritakan, memiliki keturunan seorang laki-laki, bernama Sirarya Kediri, memiliki keturunan bernama Arya Kapakisan, beliau dikirim oleh keturunan dua orang semua laki-laki, beliau Pangeran Nyuhaya, dan Pangeran Asak, sama-sama mengembangkan keturunan di Bali, cerita disudahi.&lt;br /&gt;Kembali diceritakan yang terdahulu, Jaya Waringin dan Jaya Katha, keturunan beliau Sri Siwa Wandhira dan Jaya Katong beliau berdua yang gugur dalam pertempuran, beliau berdua yaitu Jaya Waringin dan Jaya Katha, yang menyerah ke Tumapel, waktu ayah beliau hancur dalam peperangan negara Daha menjadi kacau, akhirnya berlanjut sampai cucu terkena kehancuran, kutuk beliau pendeta Çiwa maupun golongan Budha.&lt;br /&gt;Apa yang menyebabkan terjadinya perang itu? Menyebabkan Keraton menjadi hancur ?&lt;br /&gt;Dengarkan tambahan cerita ini, pada tahun Çaka yang lalu 1144 ( 1222 M ), bulan Palguna (sekitar Pebruari), hari ketiga belas setelah bulan Purnama, hari sepekan Watu Gunung, pada saat itu perintah beliau raja Ken Angrok, beliau yang bertahta di Tumapel, menyerang kerajaan Galuh, atas desakan beliau para pendeta Çiwa maupun golongan Budha. Bahwasanya raja Sri Dangdang Gendis, durhaka pada para pendeta, menghina kewajiban sang Brahmana, ibaratnya seperti maharaja Nahusa, yang berkeinginan menguasai Surga. Demikian perbuatan raja Sri Dangdang Gendis, menyebabkan semua pendeta menjadi bingung mengungsi ke Tumapel, sekarang kerajaan Daha, ibaratnya seperti segunung rumput kering, hancur lebur terbakar oleh api, siap dibakar?, itulah kemarahan sang pertapa, berkobar dalam pikirannya, ditiup angin tak henti-hentinya Raja Sri Ken Angrok menghembus, semakin menyala tak ada tandingnya.&lt;br /&gt;Pada akhirnya menyerah Sri Aji Dangdang Gendis, sadar akan ajalnya tiba, karena raja Sri Ken Angrok sungguh seorang keturunan Brahmana dari Waisnawa, beliau juga dijuluki Hyang Guru, nah itu sebabnya Sri Raja Dangdang Gendis, memusatkan pikiran, menggelar rahasia batin, segera moksa tanpa jasad turut pula kandang kuda beserta pembawa puan, payung, terlihat samar bayangan beliau, melambai di angkasa, menuju Wisnuloka. Demikian jelas Sri raja telah menyatu di alam sana.&lt;br /&gt;Ada lagi yang diceritakan yaitu para prajurit dan menteri lebih-lebih para keluarga utama ( dekat ), rakyat yang masih hidup, semua cerai-berai, mencari tempat berlindung, mencari tempat persembunyian, agar selamat, sebab pemimpin perang adalah Siwa Wandhira, beserta Misawalungan, Semuanya telah gugur, dengan penuh keberanian.&lt;br /&gt;Masih ada dua orang keluarga keturunan utama, Jaya Katha, dan Jaya Waringin yang terkenal, keturunan Jaya Katong, beserta Siwa Wandhira, yang gugur dalam medan perang. &lt;br /&gt;Mereka berdua dendam, atas tewas ayahnya dalam pertempuran, maju menyerang seperti harimau galak, lalu ditangkap bersama-sama oleh empat orang gagah berani yang masing-masing bernama , Arya Wang Bang, Misa Rangdi, Bango Samparan, Cucupu Rantya, di sana Jaya Katha dan Jaya Waringin, keduanya ditangkap. Tidak mampu melawan ikut pula istri Jaya Katha dibawa berlari beliau sedang hamil, sedang mengidam. Adapun Jaya Waringin, masih perjaka, belum mempunyai istri. Keempat menteri tersebut semua belas kasihan terhadap beliau Jaya Katha, dan pula terhadap Siwa Wandhira, itulah sebabnya lepas tidak terkena senjata.&lt;br /&gt;Adapun setibanya beliau di Tumapel, disayang oleh yang mendirikan memerintah Tumapel, diasuh oleh orang Japara, masih merupakan keturunan istri Mpu Sendok, dan Kebo ljo, di sana dipelihara, tidak mendapat kekuasaan. Beberapa lama mereka berada di Tumapel, setelah tiba masanya, akhirnya Jaya Katha berputra tiga orang laki-laki, yang sulung bernama Arya Wayahan Dalem Manyeneng, ketika ibunya dibawa lari janin itu berada dengan selamat di rahim ibunya, itulah sebabnya diberi nama Dalem Manyeneng.&lt;br /&gt;Adapun adiknya bernama Arya Katanggaran, itu yang menurunkan Kebo Anabrang, orang tua dari Arya Kanuruhan, yang dikirim ke Bali, mengembangkan keturunan, yaitu Arya Brangsinga, Tangkas, Pagatepan, sampai di sana diceritakan.&lt;br /&gt;Putra yang bungsu bernama Arya Nuddhata, seorang Arya yang menetap berdiam di Tumapel mengembangkan keturunan di kerajaan di Jawa, tidak diceritakan lebih lanjut.&lt;br /&gt;Adapun beliau Arya Wayahan Dalem Manyeneng, berputra dua orang laki-laki, yang sulung bernama Arya Gajah Para, adik beliau bernama Arya Getas, Mereka berdua itu diutus oleh Gajah Mada ke Bali, demikian uraiannya pada zaman dahulu. &lt;br /&gt;Ya Tuhan yang bersemayam dalam kalbu dan pikiran, yang diwujudkan dengan Ongkara dalam kesucian Batara junjungan hamba, para leluhur yang telah suci, hamba menghaturkan sembah suci agar berhasil, oleh karena semua para anggota keluarga, keturunan, karena beliau yang pertama mengembangkan keluarga hamba sendiri, tiada lain beliau itu yang menetap di Tumapel. Beliau itu adalah Arya Wayahan Dalem Manyeneng, gelar beliau yang terkenal. Beliau yang pertama menurunkan keluarga hamba, maafkan agar tidak kena kutukan, para keluarga hamba mohon ijin untuk menguraikan cerita ini, semoga selamat dan panjang umur, menemui kesempurnaan, sampai anggota keluarga dan keturunan, berhasil dalam segala tujuan, tidak kekurangan pangan, kekayaan, semoga tetap disegani di bumi. Ya Tuhan semoga sukses, berhasil selalu.&lt;br /&gt;Permulaan cerita disusun dalam silsilah, berkat jasa beliau seorang brahmana pendeta sakti, beliau bergelar Wayahan Tianyar, yang berasrama di Griya Punia, atas dorongan Kyayi I Gusti Ngurah Tianyar, pemimpin di utara gunung, keturunan beliau Jaya Katong dari Kediri, itulah sebabnya sang pendeta sakti, menulis tentang silsilah , telah dimuat dalam tulisan sesuai dengan bahasa dalam babad Jawa.&lt;br /&gt;Adapula diceritakan, bernama Kriyan Patih Gajah Mada, memanggil Arya Damar, atas titah dari maha raja Pulau Jawa, melaksanakan empat daya upaya, menyerang kerajaan Bali, setelah siap perbekalan dan kendaraan, segeralah beliau berangkat ikut pula para Arya semua, para perwira dan menteri berkelompok-kelompok menaiki perahu, disertai pula prajurit beliau, tepi laut Bali dikelilingi oleh musuh, para Arya itu dibagi-bagi oleh Kriyan Patih Mada, utara, timur, barat selatan semuanya penuh, penuh sesak di pantai laut, yang masing-masing menempati posisinya, ditambatkan perahunya.&lt;br /&gt;Adapun beliau Arya Gajah Para, beserta saudara beliau Arya Getas, disertai oleh Arya Kutawaringin yang cekatan, diikuti oleh Jahaweddhya, para gusti dari Majapahit, seperti tiga patih bersaudara, yang bernama Tan Kawur, Tan Mundur, dan Tan Kober. Beliau tiga bersaudara menambatkan perahu layarnya di pelabuhan Tejakula, yang menyerang dari barat Toya Anyar.&lt;br /&gt;Desa-desa menjadi kacau balau, semuanya yang ada di kerajaan Bali, sangat ramai pergulatan perang itu, memarang diparang, kacau balau, banyak rakyat yang tewas, dan menderita, karena keperkasaannya serangan dan Pulau Jawa. Dengan sekejap kalah pasukan Maharaja Sri Bhedamuka (Bedahulu), amat panjang tidak diceritakan dalam buku ini. &lt;br /&gt;Sementara setelah gugurnya maharaja Bhedamuka, para Arya itu semua kembali, menuju Majapahit, keadaan Pulau Bali menjadi sunyi senyap, karena belum ada yang memimpin Bali, demikian. Setelah sekian lama datanglah Sri Kresna Kepakisan, dinobatkan menjadi raja di Pulau Bali. Diikuti oleh semua Arya, Arya Kepakisan, Arya Wang Bang, Arya Kenceng, Arya Dalancang, Arya Belog, Arya Kanuruhan, lagi beliau Arya Wang Bang, Tan Kober, Tan Kawur, Tan Mundur, yang terakhir Arya Kutawaringin semua mengiringi sebagai para perwira menteri, Beliau Arya Kutawaringin, menjadi kepala penasehat pasukan tinggi tersebut.&lt;br /&gt;Sesampainya Sri Maharaja Kapakisan, dinobatkan menjadi raja Pulau Bali, orang- orang dusun ada yang tidak mau menghormati ( tunduk ), yang di sebelah utara gunung Agung, oleh karena tidak ada pemimpin yang disegani yang datang di sana. Demikian cerita berakhir.&lt;br /&gt;Kemudian kembali diceritakan, beliau Arya Gajahpara, bersama saudara beliau Arya Getas didesak oleh raja, sebagai mahapatih raja yang ada di Bali. Beliau menurut ( menyerah ), karena ingat dengan kewajiban sebagai seorang anak, tidak pantas melawan perintah orang tua, demikian motto kepemimpinan beliau, dengan tetap pula melaksanakan keperwiraan utama dan keadilan, kedua Arya tersebut diberikan istri, juga merupakan putra Arya. Tetapi di sana para Arya itu segera diajar tentang kewajiban dan tingkah laku seorang kesatria, oleh ayah beliau, untuk tetap melaksanakan cita-cita kewajiban seorang pahlawan (pemberani).&lt;br /&gt;Setelah demikian, kedua Arya itu menyembah dan mohon pamit, berdiri dan segera berangkat. Sekejap telah sampai di pantai laut, segera beliau naik ke perahu, perahu berlayar hilir mudik, setelah melewati pertengahan laut, selanjutnya, berlabuhlah beliau di daerah Pulaki, barat daya Pulau Bali, beliau menumpang di rumah I Gusti Bendesa Pulaki, yang merupakan keluarga keturunan Bendesa Mas. Sangat senang hati I Gusti Bendesa, tulus hatinya dan sangat ramahtamah sambutannya, hormat terhadap kedua Arya itu, seperti berbunga-bunga hati sang tuan rumah, lengkap dengan jamuan penyambutan I Gusti Bendesa Pulaki. Di sana beliau menginap dua malam.&lt;br /&gt;Pagi-pagi pergilah kedua Arya tersebut, diantar oleh I Gusti Bendesa, tujuannya untuk menghadap Sri Maharaja, yang beristana di Samprangan. Tidak habis jika diceritakan perjalanan kedua Arya tersebut, diantar oleh beliau I Gusti Bendesa. Segera tiba di penghadapan, beliau langsung mendekat dan menghadap pada baginda raja. Tak lama antaranya kedua Arya tersebut dipandang oleh sang raja, dengan sopan dan tulus sembah kedua Arya tersebut, demikian pula I Gusti Bendesa, menimbulkan kekaguman setiap yang melihat, orang yang berada di tempat penghadapan, oleh tingkah laku yang baik kedua Arya itu.&lt;br /&gt;Ada petunjuk dari sang raja, terhadap kedua Arya, dinobatkan menjadi patih oleh beliau raja penguasa, bertempat di sana di sebelah utara Tohlangkir, bermukim di Sukangeneb penyerangan beliau Mada untuk membunuh raja Bedha Murdhi ( Bedahulu ), kalahnya Pulau Bali oleh Majapahit. Menjadi patuhlah Arya itu, dengan segera ditutuplah penghadapan raja. Setelah itu mohon pamitlah beliau pada Sri Maharaja, dan permohonannya dikabulkan, kedua Arya itu berjalan menuju ke utara, diiringkan oleh rakyat sebanyak lima puluh orang, menuju Sukangeneb Toya Anyar. Setibanya di sana, segera beliau membangun rumah, tenanglah penduduk sebelah utara gunung Agung itu, batas sebelah timurnya adalah Basang Alas, sebelah baratnya sampai di Tejakula, sebelah utaranya sampai di desa Got, demikian batas wilayah kerja beliau, wilayah pemerintahan Arya Gajah Para, berdua beserta saudara beliau.&lt;br /&gt;Beberapa lama kemudian beliau Arya Gajahpara berdua bersama saudara beliau, hidup di Sukangeneb Toya Anyar, beliau berdua sama-sama memiliki putra. Adapun putra beliau Gajah Para tiga orang laki-laki dan perempuan, laki-laki yang sulung I Gusti Ngurah Toya Anyar, adiknya ( bernama ) I Gusti Ngurah Sukangeneb, yang perempuan Ni Gusti Luh Raras, diambil dijadikan istri oleh beliau Sri Raja Wawu Rawuh, untuk sementara tidak diceritakan.&lt;br /&gt;Beliau Arya Getas yang diceritakan sekarang, berputra dua orang laki-laki, yang tertua bernama I Gusti Ngurah Getas, adiknya diberi nama I Gusti Kekeran Getas. Adapun beliau Arya Getas, setelah berputra dua orang diadu oleh Sri Maharaja, disuruh menyerang daerah Selaparang, karena beliau menguasai empat daya upaya yang licin, diikuti oleh seribu enam ratus orang bawahannya, setelah semua lengkap dengan perbekalan dan kendaraan, menjadi penuhlah desa-desa pesisir di sepanjang pantai, beliau bersama semua rakyatnya hilir mudik menaiki perahu.&lt;br /&gt;Setelah itu berhasillah beliau berlabuh di tepi pantai Selaparang, turun dari perahu, berjalan beliau Arya Getas. Rakyat Selaparang menjadi terdiam, oleh karena beliau ( Arya Getas ) berhasil memasang empat daya upaya yang licin, beliau langsung menerobos memasuki semua desa, orang-orang yang berada di Praya semua diam, semua memberi hormat kepada Arya Getas, itu sebabnya ( beliau ) tinggal di Praya sampai sekarang dan mengembangkan keturunan.&lt;br /&gt;Diceritakan kedua putra beliau yang tinggal di Sukangeneb Toya Anyar, sama-sama mengembangkan keturunan, telah tercatat. Kembali diceritakan, tersebut I Gusti Ngurah Sukangeneb, pindah ke arah barat, diikuti oleh rakyat dengan tiba-tiba, terlunta-lunta perjalanan beliau, sampai tiba di desa Pegametan, bergegas penduduk di sana, disambut oleh I Gusti Bendesa Pegametan, keturunan dari Bendesa Mas, senang hati I Gusti Bendesa sama-sama memohon maaf dengan tulus dan sopan, tidak beberapa lama masuklah di sana I Gusti Ngurah Sukangeneb, bergandeng tangan dengan I Gusti Bendesa, yang menjadi penguasa di Pegametan, masuk ke dalam Puri, duduk di beranda rumah, beliau sama-sama senang saling bertukar pikiran dan berunding, tidak diceritakan jamuan beliau I Gusti Bendesa. Karena saling mengasihi dari dulu.&lt;br /&gt;Waktu telah berlalu, sekarang I Gusti Ngurah Sukangeneb, beliau berdiam di Pegametan, menyebabkan I Gusti Bendesa menjadi akrab, dengan I Gusti Sukangeneb. Oleh karena itu dijadikan menantu laki oleh I Gusti Bendesa. I Gusti Ngurah Sukangeneb. Permintaan I Gusti Bendesa agar I Gusti Ngurah Sukangeneb dikawinkan dengan I Gusti ……………………………..Kekeran, I Gusti Getas, dinikahkan pada hari, Senin Umanis, Wuku Tolu, tanggal empat belas hari terang bulan, sasih kelima ( sekitar Nopember ) pada tahun Saka 1560 ( 1638 M). Tidak diceritakan perkawinan beliau, pada akhirnya beliau mempunyai dua orang putra, laki-laki, yang sulung I Gusti Gede Pulaki, adiknya I Gusti Ngurah Pegametan. Cerita selesai sampai di sini.&lt;br /&gt;Selanjutnya kembali diceritakan, tersebutlah I Gusti Ngurah Toya Anyar, ada saudara beliau, laki-laki dua orang dan perempuan seorang. Adapun yang tertua I Gusti Ngurah Tianyar, beliau yang dinobatkan menggantikan ayah beliau Arya Gajah Para, yang ketiga mengambil istri I Gusti Ayu Diah Wwesukia, adiknya I Gusti Ngurah Kaler, kawin dengan I Gusti Diah Lor. Adiknya yang bernama I Gusti Luh Tianyar, dijadikan istri oleh Pendeta Sakti Manuaba. Adapun I Gusti Ngurah Getas, dan I Gusti Ngurah Kekeran Getas, beliau tinggal di Sukangeneb, Toya Anyar, beliau sama-sama mengembangkan keturunan. &lt;br /&gt;Kemudian kembali dikisahkan, diceritakan I Gusti Ngurah Tianyar, beliau yang dinobatkan menjadi tetua di Toya Anyar, generasi ketiga, putra beliau yang seibu yaitu I Gusti Ayu Diah Wwesukia. Putra tertua ( bernama ) I Gusti Gede Tianyar, yang selanjutnya berdiam dan memiliki keturunan di Kebon Culik, putra kedua ( juga ) laki-laki bernama I Gusti Made Tianyar, yang kemudian tinggal dan berkembang di Sukangeneb Toya Anyar. Putra yang bungsu I Gusti Nyoman Tianyar, beliau ( yang ) lahir di Desa Pamuhugan, tidak berbeda seperti leluhur beliau dahulu, janin itu selamat dalam rahim ibunya yang sangat setia kepada suaminya, berkat anugerah beliau sang raja penguasa di Gelgel, ketiganya itu diijinkan kembali ke Toya Anyar.&lt;br /&gt;Sekarang kembali diceritakan I Gusti Ngurah Kaler, mempunyai empat orang putra dari seorang ibu lahir dari I Gusti Ayu Diah Lor, putra tertua bernama I Gusti Gede Kaler, pindah menuju desa Antiga, berdiam di sana dan mengembangkan keturunan, putra kedua I Gusti Made Kekeran, pindah menuju Desa Kubu, berkembang di sana. Putra ketiga I Gusti Nyoman Jambeng Campara, pindah ke Desa Sukadana Tigaron, menetap dan mengembangkan keturunan di sana. Adapun yang bungsu I Gusti Ketut Kaler Ubuh, lahir di Tanggawisia, beliau dijuluki Ubuh, karena ayahnya meninggal pada saat masih dalam kandungan ibunya Sang Diah yang setia terhadap suami, akhirnya tinggal dan mengembangkan keturunan di Tanggawisia, dihentikan penuturannya sebentar. Cerita kembali lagi, pada I Gusti Gede Pulaki, diambil anaknya I Gusti Bendesa Pulaki, dikawinkan menjadi istri bernama I Gusti Luh Mas. Selanjutnya I Gusti Ngurah Pegametan, beliau tinggal di desa Pegametan. Adapun saudara beliau I Gusti Gede Pulaki, tinggal di desa Pulaki, putra beliau laki-laki, terlanjur sudah, beliau meninggal. Sedih hatinya I Gusti Gede Pulaki.&lt;br /&gt;Diceritakan sekarang Batara Nirartha, adik dari Mpu Angsoka, putra dari Hyang Danghyang Asmaranatha, beliau menemukan kemurahan batin, datang di Bali, menaiki buah labu (waluh kele), dan sampan yang bocor, mendarat di tepi pantai Purancak, mampir di pondok I Gusti Gede Pulaki, beserta putra beliau semua. Ada putra Batara Nirartha, laki perempuan lahir dari golongan Brahmana Keturunan Daha, yang sulung sangat cantik dan parasnya menawan, tidak ada yang menyamai di dunia, harum semerbak baunya. Adiknya bernama Pedanda Kemenuh, lagi pula ada saudara beliau seorang perempuan, menikah dengan Mpu Astamala beliau dari Aliran Budha&lt;br /&gt;Ada pula anak beliau yang lahir dari putri Brahmana dari Pasuruhan, empat orang laki-laki, tertua Pedanda Kulwan, Pedanda Lor, Pedanda Ler. Ada lagi putra dari Pedanda Batara Nirartha, laki perempuan, ibunya dari golongan Kesatria saudara dari Dalem Keniten Blambangan, bernama Patni Keniten. Istri Pedanda Rai, pendeta perempuan tidak bersuami, Pedanda Telaga, Pedanda Keniten.&lt;br /&gt;Kembali lagi pada cerita, Batara Nirartha, berada di pondok I Gusti Gede Pulaki, disambut dan diterima oleh I Gusti Gede Pulaki, beliau berucap "Aum-aum hamba sangat bahagia atas kedatangan sang pendeta, apa tujuan tuan pendeta, katakan yang sebenarnya", Danghyang Nirartha menjawab, "Aum Ngurah Gede Pulaki, tujuan saya datang padamu, maksud saya untuk menyembunyikan putraku sekarang, takut saya jika ia datang di kerajaan menghadap pada raja, karena harum semerbak bau tubuhnya, juga sangat cantik paras mukanya, maksud saya sekarang untuk menyatukan kembali ke alam sepi (alam gaib), I Gusti Gede Pulaki menyetujui dan berkenan mengantar, seraya memohon ikut ke alam gaib ia bersedih dan berduka karena terputus keturunannya, tidak ada lagi putranya, diam ( lah ) Batara Nirartha, memikirkan perasaan hati I Gusti Gede Pulaki. Maka bersabdalah Batara Nirartha, sabdanya, "Duhai Ngurah Pulaki, apa sebabnya demikian, menjadi sangat sedih perasaan hatimu, janganlah engkau demikian". Bersikeras I Gusti Gede Pulaki, memohon restu, agar ia mengiringkan menuju alam gaib. Dengan demikian dikabulkan semua perkataan I Gusti Gede Pulaki, bersama putra beliau, beserta semua prajuritnya mengiringkan putra beliau (Batara Nirartha) tidaklah nampak lagi di alam nyata oleh semua orang.&lt;br /&gt;Diceritakan sekarang berhubung dipenuhinya permintaan I Gusti Ngurah Pulaki, senanglah hati beliau, maka menyiapkan prajurit, kemudian disuruh membuat upacara selamat, di Pura Dalem, lengkap dengan sanggar cucuk, masing-masing pasukannya disuruh untuk memasang di pintu masing-masing, pada had Kamis Kliwon, lengkap dengan sesajennya. Dengan sekuat tenaga Batara Nirartha, melakukan yoga smertti, terhadap Batara Berawa, beserta penghormatan dan permohonan, kemudian dianugerahi beliau oleh Batara sarana untuk tidak tampak di alam ini, oleh semua orang.&lt;br /&gt;Segera setelah itu ada terlihat tabung bambu kuning bergelayutan, tanpa gantungan, dari dalam sebuah tempat pemujaan di kahyangan ( pura ), tidak lama kemudian keluar baju loreng, dari lubang tabung bambu kuning tersebut. Segera diambil baju itu oleh semua orang. Demikian pula I Gusti Ngurah Pulaki, sama-sama disuruh mengenakan pakaian itu, masing-masing sebuah, di sana orang-orang itu semua dan I Gusti Ngurah Pulaki, segera berubah wujud, menjadi harimau, desa tempat tinggal itu, hilang tidak tampak di alam ini. Adapun putra beliau Batara Nirartha, secara gaib menyatu di alam tidak tampak, berdiam di Mlanting, di puja oleh orang yang tidak kelihatan (samar), sampai sekarang.&lt;br /&gt;Cerita kembali lagi, waktu I Gusti Ngurah Pulaki, memohon berubah wujud menyatu dalam alam tidak tampak mengikuti Batara di Mlanting, I Gusti Ngurah Pegametan, sedang tidak ada di rumah, beliau pergi mengunjungi Bendesa Kelab, yang berada di Jembrana. Beberapa hari berada di sana, kembali pulang dia ke Pulaki, bersama semua pengiringnya, tidak diceriterakan dalam perjalanan, segera sampai di perbatasan desa, kaget perasaannya I Gusti Ngurah Pegametan, karena tidak seperti sedia kala, bingung perasaan I Gusti Ngurah Pegametan ………………….&lt;br /&gt;"Wahai saudaraku, apa sebabnya tidak tampak olehku penduduk desa itu, tidak seperti sedia kala tempat tinggal desaku saat ini ". &lt;br /&gt;Kemudian terdengarlah suara-suara binatang bercampur dengan suara harimau, mengaum ribut tiada tara. Terkejut perasaan I Gusti Ngurah Pegametan, tidak kepalang tanggung hati I Gusti Ngurah Pegametan, ingin mengadu keberaniannya, beliau marah dan mengumpat-umpat, ujarnya " Hai engkau harimau semua, tampakkanlah wujudmu, hadapi keberanianku sekarang.&lt;br /&gt;Segera I Gusti Ngurah Pegametan melangkah, tidak kelihatan yang bersuara gemuruh itu, kemudian beliau berjalan hendak meninjau Toya Anyar. Berjalan beliau bersama prajurit, sampai tiba di Rajatama, perjalanannya diikuti oleh wujud yang maya itu, sekilas tampak berupa harimau, semua pengikut itu perasaannya menjadi takut, semakin mendekat harimau itu, perilakunya seperti orang menghormat, menunduk pada I Gusti Ngurah Pegametan, kemudian mengumpat serta menghunus keris. Jadi hilang rupa bayangan itu, segeralah beliau melanjutkan perjalanan. Tidak diceritakan desa yang telah dilewati, orang-orang yang mengiringinya, diceritakan sekarang telah sampai di desa Wana Wangi, banyak pengiring itu berlarian teringat para pengiring yang hilang sebanyak lima puluh orang, karena jurangnya menyulitkan berbahaya dan terjal diliputi oleh gelap, tidak terlihat keberadaan di dalam hutan. &lt;br /&gt;Tidak terpikir oleh I Gusti Ngurah Pegametan, tidak menghiraukan lembah terjal perjalanan beliau, segera sampai di Samirenteng. Menuju ke timur perjalanan beliau, sampailah beliau di hutan sekitar Sukangeneb Toya Anyar. Beristirahatlah beliau di sana, dihitung prajuritnya, dulu diiringi oleh dua ratus prajurit, telah hilang tersesat lima puluh orang, sekarang pengiringnya tinggal seratus lima puluh orang, itulah sebabnya ( tempat itu ), bernama Desa Karobelahan sampai sekarang. &lt;br /&gt;Adapun lima puluh orang pengikut yang tersesat, dikumpulkan bertempat di Bengkala. Adapun beliau I Gusti Ngurah Pegametan, beserta pengikut menuju keluarganya di Sukangeneb Toya Anyar. Tidak diceritakan sekarang untuk sementara. &lt;br /&gt;Cerita kembali lagi, sekarang diceritakan beliau Arya Gajah Para, setelah lama beliau berada di Sukangeneb, Toya Anyar. Karena masa tuanya, pada saatnya akan dijemput oleh Kala Mrtyu ( Kematian ), sudah tampak tanda-tanda kematiannya. Sudah diyakini oleh beliau, tidak boleh tidak beliau pasti akan meninggal. &lt;br /&gt;Ada pesan beliau terhadap cucunya, yang bernama I Gusti Ngurah Kaler, katanya " Wahai cucuku Ngurah Kaler, apabila nanti saya meninggal buatkan panggung jasadku, di sana di puncak gunung Mangun, satu bulan tujuh hari (42 hari), dihias dengan bunga-bunga, dan diiringi dengan tabuh dan tari-tarian, karena ibuku dulu bidadari". Demikian pesan beliau Arya Gajah Para terhadap cucunya I Gusti Ngurah Kaler, cucu beliau mematuhi, tidak berani menolak pesan kakeknya.&lt;br /&gt;Tidak diceritakan lagi telah tiba saatnya maka wafatlah beliau Arya Gajah Para. Adapun cucu beliau yang bernama I Gusti Ngurah Tianyar, tidak mengetahui wasiat tersebut, karena ( pada saat itu ) beliau tidak berada di rumah, beliau pergi ke Gelgel, menghadap pada Sri Maharaja, bersama-sama dengan I Gusti Ngurah Pegametan, sama-sama berada di Gelgel.&lt;br /&gt;Tidak diceritakan lagi, setibanya kembali I Gusti Ngurah Tianyar, beserta saudaranya, dijumpai orang-orang di pun, semua menyongsong I Gusti Ngurah Tianyar, memberitahukan tentang wafatnya Arya Gajah Para. Kaget dan terhenyak hati yang baru tiba, berpikir-pikir tentang wafatnya, segera datang I Gusti Ngurah Kaler, diberitahukan ada pesan beliau (Arya Gajah Para), bahwa disuruh untuk membuatkan panggung jasad beliau di puncak gunung Mangun. Demikian perkataan beliau I Gusti Ngurah Kaler terhadap kakaknya. Diam I Gusti Ngurah Tianyar, berpikir-pikir beliau. Tidak disetujui semua ucapan yang disampaikan I Gusti Ngurah Kaler, bersikeras pula I Gusti Ngurah Tianyar, menyuruh semua rakyat, untuk membantu bersama-sama mengerjakan bade ( tempat usungan mayat ) bertumpang sembilan, pancaksahe, taman agung cakranti tatrawangen, beserta segala upakara ngaben seperti lazimnya orang-orang berwibawa bernama anyawa wedhana, harapan beliau agar segera jasad leluhurnya dikremasi. Karena hari baik sudah dekat, itu sebabnya masyarakat itu beserta tamu semua segera membantu bekerja baik laki maupun perempuan, membuat upakara ngaben (pitra yadnya).&lt;br /&gt;Diceritakan sekarang I Gusti Ngurah Kaler, kembali ingat dengan wasiat pesan leluhurnya dahulu, tidak berani menolak setia pada perintah, semakin khawatir I Gusti Ngurah Kaler terhadap kakaknya I Gusti Ngurah Tianyar. Diceritakan I Gusti Ngurah Tianyar, menyuruh rakyat beliau memulai mengerjakan terhadap upacara pengabenan, setelah beliau tentukan, saat pelaksanaannya, tidak diceritakan upacara tersebut. Tersebutlah sekarang I Gusti Ngurah Kaler, semakin besar dendam hatinya, banyak alasannya, marah, terhadap I Gusti Ngurah Tianyar. Itu Sebabnya I Gusti Ngurah tidak ingat terhadap kakaknya, terikat oleh kesetiaan beliau, yakin terhadap kebenaran ucapan wasiat leluhur beliau, perasaan hatinya yang marah tidak dapat dikendalikan, segera kakaknya ditantang berperang, marah I Gusti Ngurah Tianyar, memuncak kemarahannya, sama-sama tidak mau surut kejantanannya, sebagai seorang kesatria untuk mendapatkan kemashuran di ujung senjata utama, lagi pula prajurit sama-sama prajurit, semua setia membela kehendak tuannya, sama-sama beringas, saling parang memarang, terus menerjang berbenturan. Lagi pula peperangan beliau I Gusti Ngurah Tianyar, dengan I Gusti Ngurah Kaler, sama-sama gagah berani, sangat hebat peperangan itu, bagaikan perang kelompok raksasa, banyak rakyat hancur menjadi korban, darah bercucuran, dan mayat para prajurit menggunung, itu sebabnya diberi nama Tukad Luwah sampai sekarang. Adapun peperangan I Gusti Ngurah Kaler, dengan I Gusti Ngurah Tianyar, sama-sama tidak berkurang keberaniannya, sama-sama saling menikam. I Gusti Ngurah Kaler menikam dengan keris Si Tan Pasirik, tembus dada I Gusti Ngurah Tianyar, membalaslah ia menikam dengan keris " I Baru Pangesan ", sekejap sama-sama meninggal beliau berdua.&lt;br /&gt;Kemudian datang I Gusti Abyan Tubuh, bersama I Gusti Pagatepan, yang merupakan utusan dari Sri Raja penguasa di suruh untuk melerai pertikaian mereka berdua. Agar tidak terjadi perkelahian, karena dia bersaudara, sekarang keduanya ditemukan telah meninggal, terhenyak I Gusti Abyan Tubuh, demikian pula I Gusti Pagatepan, memikirkan tentang kematiannya berdua, juga tentang ketidakberhasilan tugasnya, diutus oleh Sri Raja penguasa. Beliau segera kembali untuk menghadap Baginda Raja, tidak diceritakan perjalanannya I Gusti Abyan Tubuh, beserta I Gusti Pagatepan, tibalah mereka di Sweca Negara (Gelgel), segera mereka menghadap sang raja memberitahukan tentang meninggalnya mereka berdua karena berkelahi katanya. " Baiklah paduka Sri Prameswara, tidak membuahkan hasil yang baik tugas yang hamba emban dari paduka, hamba temukan keduanya telah meninggal. Melongo gundah hati sang raja, berpikir-pikir beliau, bahwa sungguh merupakan takdir Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;Sekarang diceritakan, putra I Gusti Ngurah Kaler, dan I Gusti Ngurah Tianyar, keturunannya sama-sama pria. Adapun putra I Gusti Ngurah Tianyar, yang sulung bernama I Gusti Gede Tianyar, adiknya bernama I Gusti Made Tianyar, yang bungsu bernama I Gusti Nyoman Tianyar, lahir di desa Pamuhugan, semua bijaksana, paham dengan segala ilmu pengetahuan. Diceritakan pula putra I Gusti Ngurah Kaler, empat orang laki-laki, yang tertua I Gusti Gede Kaler seperti nama ayahnya. Adiknya bernama I Gusti Made Kekeran, yang muda bernama I Gusti Nyoman Jambeng Campara, yang bungsu I Gusti Ketut Kaler Ubuh, lahir di Tanggawisia, karena di antara dua orang yang meninggal ( ayahnya ) sama-sama meninggalkan isterinya yang sedang hamil, itu sebabnya tidak ada yang melakukan satya, "menceburkan diri dalam api pembakaran mayat " kemudian setelah sama-sama kandungan mencapai usianya, pada saatnya lahirlah bayi itu sama-sama pria, ada di Desa Pamuhugan di Tanggawisia, hentikan ceritanya sebentar.&lt;br /&gt;Sekarang diceritakan, tentang beliau Batara Sakti Manuaba, putra dari Batara Ler, ibunya dari I Gusti Dawuh Baleagung, dengan gelar Batara Buruwan, berhasil menjadi pendeta besar, mendapatkan tingkat kemuliaan yang tinggi, tidak ada yang menyamai tentang kependetaan beliau, bertempat di Manuaba. Banyak brahmana ikut tinggal di sana. Beliau mendengar tentang pertikaian I Gusti Ngurah Tianyar dan I Gusti Ngurah Kaler, yang sama-sama meninggal, beserta rakyatnya yang mati tidak terhitung jumlahnya. Menjadi kasihan beliau Batara Sakti Manuaba. Tujuan beliau datang untuk mengetahui keadaan sesungguhnya kedua orang yang bertikai tersebut. Tidak diceritakan perjalanan beliau sang Resi sakti. Tidak beberapa lama tiba beliau di Sukangeneb, Toya Anyar. Dijumpai saudara I Gusti Ngurah Kaler, perempuan seorang, berpengetahuan dan rupawan, bernama I Gusti Ayu Tianyar.&lt;br /&gt;Disarankan oleh beliau sang raja penguasa, agar beliau melamar (meminang ), dikawinkan dijadikan istri sang Resi Wisesa. Tidak diceritakan beliau. &lt;br /&gt;Ada anak lahir dari I Gusti Ayu Tianyar, laki-laki tiga orang, yang sulung bernama Ida Wayahan Tianyar, adiknya bernama Ida Nyoman Tianyar, yang bungsu bernama Ida Ketut Tianyar, bagaikan dewa Brahma, Wisnu, Çiwa kecerdasannya.&lt;br /&gt;Cerita kembali lagi, diceritakan istri I Gusti Ngurah Tianyar, dan istri I Gusti Ngurah Kaler, mereka berdua sangat sedih, hatinya sangat duka, menyebabkan mereka meninggalkan puri. Bersama putra beliau yang masih bayi, diikuti oleh dua ratus orang pengikut, tujuannya untuk datang menghadap Sri raja, yang berada di Sweca pura (Gelgel). Adapun I Gusti Diah Lor, pergi meninggalkan rumahnya, bersama putranya, diiringkan oleh pengikut sebanyak dua ratus orang menuju Desa Tanggawisia, tidak diceritakan perjalanan beliau. &lt;br /&gt;Adapun I Gusti Ayu Wwesukia, datang menghadap ke Gelgel, menghadap raja mohon belas kasihan dari beliau Dalem, dengan sopan dan hormat, terhenyak hati Dalem, melihat penderitaan I Gusti Diah Wwesukia, kemudian bersabdalah beliau. "Wahai engkau Wwesukia, aku paham dengan kesedihan yang menimpamu. Sekarang tabahkan hati dalam suka duka, karena sudah menjadi nasib, jangan engkau terlalu bersedih ingatlah akan kesetiaan sebagai seorang istri, jangan gundah, menyesali karma, aku berikan engkau tempat tinggal, beserta rakyat yang banyak yang akan menyertaimu, di sana di Desa Pamuhugan", demikian sabda Dalem. Senang hati I Gusti Diah Wwesukia, bagaikan disiram dengan air kehidupan, hatinya sangat senang, terdorong kesetiaannya sebagai seorang istri, lagi pula sabda beliau Dalem bagaikan sungai Gangga yang membasuh perasaan ternoda.&lt;br /&gt;Diceritakan sekarang I Gusti Diah Wwesukia, memohon diri pada Dalem, bersama sama dengan pengikutnya, menuju desa Pamuhugan, beserta putra beliau yang bernama I Gusti Nyoman Tianyar, tinggal di Desa Pamuhugan, mereka menyiapkan dan menyuruh untuk segera bekerja, karena banyaknya pengikut, puri cepat terwujud, sampai di sana diceritakan.&lt;br /&gt;Diceritakan sekarang I Gusti Diah Lor, setibanya di Tanggawisia, bersama dengan putra beliau yang bernama I Gusti Ketut Kaler Ubuh, diikuti oleh rakyat sebanyak dua ratus orang, juga ikut tinggal di sana, mengembangkan keturunannya, di Desa Tanggawisia wilayah Buleleng, sampai sekarang. Cerita kembali lagi, diceritakan sekarang yang berada di Sukangeneb, Toya Anyar, itu sudah dewasa, putra I Gusti Ngurah berdua, yang gugur dalam peperangan, Semuanya bernama I Gusti Gede Tianyar, I Gusti Made Tianyar, adapun I Gusti Gede Tianyar, menghadap pada Sri Raja penguasa di Sweca negara (Gelgel), menyampaikan tentang penderitaannya berada di Sukangeneb, Toya Anyar, lemah bagaikan diiris hatinya. Bersabda sang raja, menyuruh untuk berpindah tempat, tidak menolak perintah, I Gusti Gede Tianyar, kemudian mohon pamit pada beliau Dalem, berpindah ke Desa Kebon Dungus, tinggal beliau di sana, mengembangkan keturunan sampai sekarang. Adapun I Gusti Made Tianyar, tinggallah beliau di Sukangeneb, Toya Anyar, mengembangkan keturunan di sana sampai kemudian.&lt;br /&gt;Selanjutnya diceritakan putra I Gusti Ngurah Kaler, I Gusti Gede Kaler Putra yang sulung, I Gusti Ngurah Tianyar Pohajeng pindah, berjodoh di desa Blungbang Antiga, Adiknya I Gusti Made Kekeran, berpindah ke Kubu, yang ketiga I Gusti Nyoman Jambeng Campara, segera pindah ke Desa Sukadana Tigaron, telah diceritakan dahulu semuanya mengembangkan keturunan, cerita selesai.&lt;br /&gt;Diceritakan kembali, Batara Sakti Manuaba, putranya yang lahir dari I Gusti Ayu Tianyar yang sulung Ida Wayahan Tianyar, Ida Nyoman Tianyar, Ida Ketut Tianyar, sekarang sudah selesai didiksa (ditasbih) menjadi pendeta Siwa, dilantik oleh Batara Sakti Abah, karena beliau itu adalah saudara lain ibu, beliau mencapai puncak kemuliaan. Setelah selesai dilantik oleh pendeta mahasakti, ( putra ) sulung bergelar Batara Wayahan Tianyar, adiknya bernama Batara Nyoman Tianyar, yang bungsu Batara Ketut Tianyar, sama-sama menemukan puncak kemuliaan, lagi pula mereka bertiga dianugerahi keterampilan, Batara Wayan Tianyar, beliau diberi pangrupak ( alat tulis pada daun lontar ), Batara Nyoman Tianyar diberi pustaka, Batara Ketut Tianyar dianugerahi ilmu panah, semua sama-sama dipahami, pemberian guru pendidiknya, cerita selesai.&lt;br /&gt;Selanjutnya diuraikan, yang bernama Gusti Ngurah Batu Lepang, di Batwan desa beliau, angkara murka dan dengki melihat asrama di Manuaba, sangat indah dan makmur, keberadaan Asrama Manuaba, semua brahmana yang berada di asrama itu, tidak urung diobrakabrik, oleh Si Ngurah Batu Lepang, oleh karena Batara Sakti Manuaba telah berpulang ke Surga.&lt;br /&gt;Tetapi Batara Sakti Abah yang ditakuti oleh Si Ngurah Batu Lepang, sedang tidak berada di asrama, sedang bepergian ke Banjar Ambengan. Segera Si Ngurah Batu Lepang menyiapkan pasukan, lengkap dengan senjata, ingin menggerebeg Asrama Manuaba. Bergemuruh sorak para prajurit. Adapun Pedanda Teges menjadi takut, gemetar, memohon ampun pada Si Ngurah Batu Lepang, adapun para brahmana semua sama-sama untuk bertahan, sangat pemberani dan melawan, seperti perang antara dewa melawan raksasa, mundur berlari pasukan Si Ngurah Batu Lepang, dihancurkan, lain lagi ada yang mati. Si Ngurah Batu Lepang menjadi marah, maju dengan rakyat yang berlimpah, dikurung asrama tersebut. Adapun kaum brahmana, sama-sama tidak ada yang mundur, karena jumlahnya sedikit bergantian dipukul oleh lawan, tidak lama kalah asrama itu, hancur semuanya, banyak yang meninggal dan yang lainnya hancur, yang lainnya ada yang menjauh laki perempuan menuju desa tidak henti-hentinya menangis.&lt;br /&gt;Adapun Ida Wayahan Tianyar, Ida Nyoman Tianyar, Ida Ketut Tianyar baru tanggal gigi pada waktu itu, perjalanannya menuju ke timur tiba di Bukit Bangli, di pertapaan Pedanda Bajangan. Tersebar berita I Gusti Dawuh Baleagung, mendengar kabar, di Gelgel, dicari tiga bersaudara yang berada di Bangli, karena masih ada hubungan cucu, tidak habis kalau diceritakan, datanglah beliau di Bukit Bangli, beliau menghadap Pedanda Bajangan, meminta ketiga cucu beliau, Ida Wayahan Tianyar, Ida Nyoman Tianyar, Ida Ketut Tianyar, semua senang. Memohon pamit pada Pedanda Sakti Bajangan. Tidak diceritakan dalam perjalanan, telah tiba di Gelgel, didengar oleh raja, bahwa Ida Wayan Tianyar datang, bersama semua saudaranya, diutuslah I Dewa Wayahan Tianyar ke istana, menghadap pada Dalem, disambut dengan lirikan yang manis, dan ucapan yang simpatik, ujar beliau. Duhai Ida Wayan Tianyar, masuklah ke teras, mari duduk mendekat, katakanlah sekarang tentang kesedihanmu.&lt;br /&gt;Kemudian berkatalah Ida Wayan Tianyar, sebabnya asrama/pertapaannya hancur diserbu karena keangkuhan Si Ngurah Batu Lepang, diserang hancur beserta penghuninya, banyak meninggal yang ada di pertapaan, bersabdalah sang raja. Kata beliau, Duhai jika demikian, Si Ngurah Batu Lepang, " Hai semoga ia tidak berlanjut menemukan kewibawaan, karena ia perusak pendeta, menemukan kesengsaraan ( karena ) membunuh brahmana ". Demikian kutukan beliau sang raja , terhadap si Ngurah Batu Lepang.&lt;br /&gt;Demikian pula Pedanda Sakti Abah melepaskan kutukan seperti senjata Bajra beracun ke luar dari mulut beliau, demikian umpat kutukannya. ''Sekarang Ida Wayan Tianyar beserta dua saudaranya, janganlah ragu-ragu dalam hati, saya memberikanmu tempat, ada keluargamu di Pamuhugan, Kyai Nyoman Tianyar nama beliau, juga aku akan memberikan pengiring, dua ratus orang beserta keris warisan dari ibumu, bernama Ki Tan Pasirik, dibawa oleh Kyayi Nyoman Tianyar, ini keris Si Baru Pangesan saya berikan kepadamu", Ida Wayan Tianyar menurut, demikian pula Ida Nyoman Tianyar, Ida Ketut Tianyar. Cerita sampai di sini dulu.&lt;br /&gt;Tidak diceritakan Pedanda Teges setelah kalah/hancurnya Pertapaan Manuaba, kemudian dijarah semua isi pertapaan. Adapun Pedanda Sakti Abah, mendengar tentang kehancuran pertapaan, dirusak oleh Si Ngurah Batu Lepang, beliau marah dan mengutuk. "Jah tasmat (semoga hancur) Si Ngurah Batu Lepang dia sangat tidak berperasaan, congkak dan garang kepada kami brahmana, biadab membunuh brahmana pendeta, semoga dia tidak berlanjut menemukan kewibawaan, lagi pula terbenam dalam Yamaniloka (sengsara) pada bersumpah untuk Si Teges, jangan engkau saling mengambil (dalam perkawinan), dan menjalin kekeluargaan dengan keturunan Si Teges". Didukung oleh semua keluarga beliau.&lt;br /&gt;Diceritakan Pedanda Sakti Abah lama berada di Pertapaan Pedanda Sakti Bajangan, di sana di Bukit Bangli, Pada suatu ketika, akhirnya menginjak dewasa ketiga adiknya, sudah wajar diupacarai, diberi penyucian (padiksan), oleh Pedanda Sakti Abah, sekarang berganti nama yang sulung Pedanda Wayan Tianyar, Pedanda Nyoman Tianyar, Pedanda Ketut Tianyar.&lt;br /&gt;Adapun Pedanda Wayan Tianyar, kawin dengan seorang putri dari Kekeran, Pedanda Nyoman Tianyar beristrikan dari Intaran Badung, Pedanda Ketut Tianyar dari Blaluwan isterinya. Adapun Pedanda Sakti Abah, beliau pindah pertapaan ke Banjar Ambengan, selanjutnya bergelar Pedanda Lering Gunung. Selesai diceriterakan.&lt;br /&gt;Kembali lagi diceritakan Si Ngurah Batu Lepang, setelah beberapa lamanya, menghancurkan pertapaan itu, lalu terbukti kutuk brahmana itu mengena, kegusaran, gundah gulana bercampur ( menyebabkan ) kesusahan hati, akhirnya menentang terhadap Sri raja, marahlah baginda raja, diperintahkan untuk mengangkat senjata, Sri raja hendak menghancurkan Si Ngurah Batu Lepang, karena kemarahan sang raja, maka berembug dengan keluarganya semua, perintah Si Ngurah Batu Lepang, "Terlebih dahulu gempur raja pada malam hari, agar meninggal" maka didukung oleh keluarganya semua, perintah Si Batu Lepang pula, menyuruh untuk membunuh semua keluarga dan isterinya, agar tak ada lagi yang diingat-ingat di rumah, sampai di sana diceritakan.&lt;br /&gt;Diceritakan sang raja, para punggawa diperintahkan, untuk menghancurkan Si Ngurah Batu Lepang, semua keluarga sampai anak isterinya. Semua prajurit itu ribut mengangkat senjata, banyak tak terhitung, penuh menyebar ke mana-mana tak putus-putusnya dan para menteri sang raja, siap untuk menyerbu rumah Si Ngurah Batu Lepang, diserang bersama. Bingung Si Ngurah Batu Lepang, kehilangan akal, hingar bingar prajurit itu, saling berbenturan mendesak bergulat mengincar keadaan perang itu, meraba-raba tidak tahu dengan temannya, karena diliputi oleh gelap, itu sebabnya sama-sama menyalakan obor. &lt;br /&gt;Sekarang kembali mengejar ke arah timur Si Ngurah Batu Lepang, mundur rakyatnya Si Ngurah Batu Lepang, karena banyak yang mati dan menderita, kemudian mengamuk Si Ngurah Batu Lepang, tidak dapat menahan hati, memarang, tombak-menombak menusuk kiri kanan, oleh karena gelap gulita.&lt;br /&gt;Kemudian Si Ngurah Batu Lepang terhalang tidak melihat jalan, tidak tahu apa yang harus diperbuatnya, karena banyak rakyatnya yang gugur, sisa dari yang gugur semua lari menuju rumah masing-masing. Bingung hati Si Ngurah Batu Lepang, masuklah ia ke rumah tempat mesiu, di sana dikejar diburu Si Ngurah Batu Lepang, dikelilingi oleh banyak prajurit, adapun belas kasihan perlakuan prajurit dan menteri semuanya, tak diijinkan membunuhnya dengan mengikat dan menyiksa. Sadar Si Ngurah Batu Lepang, bahwa dirinya akan dibunuh dengan siksaan oleh musuh, kemudian didekatilah bungkusan mesiu itu, kemudian dibakar, segera menyala menjulang tinggi sampai ke angkasa, Si Ngurah Batu Lepang pun segera meninggal, hangus beserta prajuritnya, demikian akibat kutuk brahmana, karena (dulu ) membunuh brahmana tidak berdosa, saat kematiannya lama menemukan hina sengsara.&lt;br /&gt;Sekarang kembali diceritakan putra Batara Sakti Manuaba bagaimana keutamaannya yang bernama Bajangan, mempunyai tiga orang putra laki-laki, yang sulung bernama Pedanda Bajangan, Pedanda Taman, dan Pedanda Abyan. Pedanda Bajangan mendirikan pertapaan di Bukit Bangli, beliau berputra seorang bernama Pedanda Tajung. Adapun Pedanda Taman, mendirikan pertapaan di Sidhawa, putra beliau bernama Pedanda Manggis. Juga Pedanda Abyan, mencari pertapaan di Tagatawang, mempunyai dua orang putra laki-laki, disebut Pedanda Buringkit, Pedanda Made Tubuh. Adapun istri Batara Abah, berputra seorang laki-laki, disebut Pedanda Abah, beliau bertempat di Bajing, pemberian dari Sri Raja penguasa. Berputra empat orang laki-laki, yang sulung bernama Pedanda Kelingan, Pedanda Gunung, Pedanda Tamu, Pedanda Abah.&lt;br /&gt;Adapun istri Batara yang bernama I Gusti Ayu Tianyar, keturunannya tiga orang laki-laki, yang tertua bernama Pedanda Wayan Tianyar, Pedanda Nyoman Tianyar, Pedanda Ketut Tianyar. Beliau merupakan Bagawanta Arya Dawuh, di Desa Singharsa (Sidemen). Adapun Pedanda Wayan Tianyar, memiliki dua orang istri, keturunan Arya Kekeran seorang, berasal dari Jasi seorang, ada putra lahir dari Kekeran, seorang laki-laki bernama Pedanda Kekeran, mempunyai seorang adik perempuan, bernama Laksmi Sisingharsa, lagi pula putra beliau yang lahir dari keturunan Jasi, bernama Pedanda Tianyar, seperti nama ayahnya, adiknya perempuan bernama Pasuruhan.&lt;br /&gt;Beliau Pedanda Wayan Tianyar, yang memiliki dua orang istri, seorang dari Intaran, dari Blaluwan seorang, keturunan yang lahir dari ibu Intaran, Pedanda Wayan Intaran, Pedanda Made Intaran. Keturunan dari Blaluwan, seorang perempuan disunting oleh Pedanda Wayan Kekeran. Pedanda Ketut Tianyar, beristrikan Ngurah Sukahet, berputra tiga orang laki-laki, yang sulung bernama Pedanda Sukahet, Pedanda Made Wangseyan, dan Pedanda Ketut Wanasari.&lt;br /&gt;Adapun istri Batara yang bernama Kutuh, mempunyai seorang putra laki-laki, bernama Pedanda Kutuh, kawin dengan perempuan dari Karangasern, memiliki empat orang putra laki-laki, Pedanda Wayan Karang, Pedanda Made Karang, Pedanda Nyoman Karang, dan Pedanda Ketut Karang.&lt;br /&gt;Adapun Istri Batara yang berasal dari Sambawa, berputra seorang laki-laki, bernama Ida Raden, kemudian beliau berputra bernama Ida Panji, beliau sudah tercatat. &lt;br /&gt;Diceritakan kembali, I Gusti Nyoman Tianyar, yang berada di Pamuhugan, melahirkan keturunan lima orang anak laki-laki, tertua I Gusti Ngurah Sangging, adiknya I Gusti Made Sukangeneb, I Gusti Nyoman Tianyar, I Gusti Ngurah Diratha, yang bungsu I Gusti Ngurah Intaran.&lt;br /&gt;Pada akhirnya seperti mendapat petunjuk dari leluhur, habis semua isi rumah beliau, hutan ( ladang ) sawah, ada yang digadaikan, ada yang dijual, ke desa lain, oleh karena menuruti hawa nafsu, I Gusti Nyoman Tianyar menjadi tidak henti-hentinya bingung pikirannya, menjadi kasihan setiap ia melihat anak-anaknya yang masih kecil.&lt;br /&gt;Kemudian di dengar oleh Batara Wayan Tianyar kasihan terhadap kesusahan I Gusti Nyoman Tianyar, maka beliau pergi menuju Desa Pamuhugan. Maka disuruhnya I Gusti Nyoman Tianyar, mengambil warisannya dahulu berupa sebidang tanah, yang berada di Sukangeneb.&lt;br /&gt;Berkata I Gusti Nyoman Tianyar, Ucapnya. "Jika demikian saya tidak mau kembali ke Sukangeneb Toya Anyar". Berpikir-pikir Batara Wayan Tianyar, tentang kehancurannya di sana, terketuk hatinya sangat kasihan melihat keluarga beliau I Gusti Nyoman Tianyar" Wahai keluargaku semua, jangan anda di sini, mari bersama-samaku di Singarsa, saya memberi anda tempat, sebab kami tak bisa berpisah dengan anda".&lt;br /&gt;Diceritakan sekarang I Gusti Nyoman Tianyar semua mengikuti Batara Wayan Tianyar, berbondong-bondong bersama anak isterinya, tidak diceritakan dalam perjalanan tiba di Singharsa, I Gusti Nyoman Tianyar disuruh membangun rumah di Abyan Sekeha, wilayah Dusun Ulah yang disebut Malayu, dijadikan pengawal pendamping dari asrama Batara di kota Singharsa.&lt;br /&gt;Adapun putra beliau Batara Wayan Tianyar, yang bernama Batara Wayan Kekeran, pindah asrama ke Pidada, kawin dengan putra Batara Nyoman Tianyar, menjadi istri beliau, mempunyai dua orang putra, yang tua bernama Pedanda Nyoman Pidada, adiknya bernama Pedanda Ketut Pidada, sama-sama mencapai keutamaan. Pedanda Nyoman Pidada, pindah asrama menuju ke Pangajaran, Pedanda Ketut Pidada pindah pertapaan ke Sinduwati, sama-sama mempunyai keturunan. Kembali diceritakan Pedanda Wayahan Kekeran, yang berada di Pidada, memiliki seorang putra laki-laki lahir dari golongan bawah yang bernama Ni Jro Dangin, putra itu bernama Ida Wayan Dangin.&lt;br /&gt;Sekarang diceritakan kembali Pedanda Wayan Intaran, berada di Gelgel, memiliki murid dari golongan Sulinggih empat orang. Adapun Pedanda Made Intaran, beliau berada di Toya Mumbul, beliau pindah dari Toya Mumbul, pindah menuju desa Duda, beliau menetap di sana, kawin dengan putra Pedanda Wayan Kekeran, berputra dua orang laki-laki bernama Pedanda Wayan Intaran, di Pendem. Pedanda Made Intaran. Adapun Pedanda Wayan Intaran memiliki anak dua orang, yang sulung bernama Pedanda Nyoman Intaran, Pedanda Ketut Intaran, mengembangkan keturunan di Pendem dan di Kediri Sasak. Adapun Pedanda Made Intaran, berputra dua orang laki-laki, yang sulung bernama Pedanda Nyoman Paguyangan, berasrama di Sindhu, Pedanda Ketut Tianyar di Pidada, ada keturunan beliau di Pasangkan berhasil dalam mengobati segala penyakit.&lt;br /&gt;Diceritakan Pedanda Sukahet, memiliki dua orang istri, seorang putri dari Pedanda Wayan Kekeran, dari Banjar Kebon seorang, istri dari golongan Brahmana tersebut memiliki putra, namanya Pedanda Wayan Sukahet, (dan) Pedanda Made Sukahet, bertempat tinggal di Banjar Wangseyan, kemudian beliau pindah ke Wanasari, kemudian pindah lagi ke Pasedehan. Adapun putra beliau yang lahir dari istri yang berasal dari Banjar Kebon, bernama Ida Nyoman Banjar, keturunannya berada di Abyan Tubuh daerah Sasak. Adapun Pedanda Made Sukahet, memiliki putra laki-laki bernama Pedanda Sukahet, sedangkan Pedanda Wanasari, putranya bernama Pendeta Wayan Wanasari, beliau yang melahirkan keturunan yang berada di Sindhu daerah Sasak.&lt;br /&gt;Cerita Kembali lagi, diceritakan putra beliau I Gusti Nyoman Tianyar, setelah waktu berselang lama, beliau yang memiliki lima orang anak kini telah tumbuh dewasa. Adapun I Gusti Ngurah Diratha, pindah rumah tinggal di Kubu Juntal, memiliki keturunan, di antaranya I Gusti Ngurah Bratha, kemudian berganti nama menjadi I Gusti Ngurah Bhujangga Ratha. Adiknya bernama I Gusti Ngurah Tianyar. pindah menuju Katawarah. menetap di sana. I Gusti Ngurah Cakrapatha, di Bhawana. Yang bungsu I Gusti Ngurah Gajah Para, di Kubu, mengembangkan keturunan yang berada di Tongtongan, Bubunan, Bondalem, Bakbakan, Antiga, Gamongan. &lt;br /&gt;Adapun I Gusti Ngurah Intaran, mendirikan tempat tinggal di Banjar Getas Tianyar. Keturunannya ada tiga orang, I Gusti Ngurah Cadha, I Gusti Ngurah Cadha Sukangeneb, I Gusti Ngurah Bhojasem yang memiliki keturunan berada di Tista, semuanya memiliki keturunan. Adapun I Gusti Nyoman Tianyar, menjadi pengiring Pedanda Made Intaran, di Toya Mumbul, di sana menetap dan memiliki keturunan.&lt;br /&gt;Adapun I Gusti Made Sukangeneb, berada di Singaraja, memiliki empat orang putra, yang sulung I Gusti Wayan Tianyar, pindah ke Badung. Adiknya bernama I Gusti Made Danti, pindah menuju Panghi. I Gusti Nyoman Tianyar pindah menuju Mataram di daerah Sasak, yang bungsu I Gusti Ketut Tianyar, menetap di Antiga. &lt;br /&gt;Adapun I Gusti Ngurah Sangging, beliau masih menetap di Abyan Sekeha ikut dengan ayahnya. Kemudian beliau melakukan diksa, berganti nama menjadi I Gusti Wayan Tianyar.&lt;br /&gt;Adapun I Gusti Ngurah Sangging, memiliki tiga orang anak. Putra tertua I Gusti Ngurah Subratha, adiknya I Gusti Ngurah Jathakumba pindah menuju Pangi, yang bungsu bernama I Gusti Ngurah Ketut Tianyar, pindah menuju Bajing, memiliki keturunan dua belas orang.&lt;br /&gt;Adapun beliau I Gusti Ngurah Subratha, mulanya tinggal di Jumpungan, setelah didiksa kemudian pindah asrama ke Abyan Sekeha. Berganti nama menjadi I Gusti Wayan Tianyar Taman. Pindah asrama ke Sindu, menjadi pengikut Pedanda Ketut Pidada, pada waktu mendirikan asrama di Sindhu.&lt;br /&gt;Adapula kolam peninggalan beliau di Patal, berupa tempat penyucian waktu di pertapaan, sangat kemilau dan menyenangkan di Patal, dihiasi dengan berbagai bunga, di tepi kolam tersebut, merupakan tempat bercengkrama Pedanda Ketut Pidada. Beliau juga mendirikan tempat pemujaan, tiga buah, sebuah untuk pemujaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, ada (pula) titah beliau Pedanda Ketut Pidada terhadap I Gusti Wayan Tianyar Taman, Duhai anaku Wayan Tianyar, ini bangunan untuk memuja dewa, tiga buah. Ananda nantinya yang menjadi pemangku, kemudian saya juga berada di sana, dipersatukan dengan beliau Sang Hyang Siwa, jangan tidak disucikan, sampai nanti seterusnya, anda yang menjadi pemangku untuk keluarga saya, bagian yang sebelah utara diupacarai. Untuk semua keturunanmu, itu yang di sebelah selatan. Karena itu, jangan melupakan keturunan saya juga keturunanmu yang seterusnya dapat menemukan Surga (kebahagiaan). I Gusti Wayan Tianyar Taman mengiyakan, sampai ke lubuk hati, cerita disudahi. &lt;br /&gt;Adapun I Gusti Wayan Tianyar Taman, beliau memulai menetap di Sinduwati, mengambil wanita menjadi isterinya dan keturunan Pulasari, memiliki putra seorang bernama I Gusti Gede Tianyar, kemudian beliau juga didiksa. Adapun I Gusti Gede Tianyar, berputra seorang laki-laki, tidak berbeda tingkah laku dengan leluhurnya, beliau juga didiksa, bernama I Gusti Gede Tianyar Sekar. Adapun I Gusti Gede Tianyar Sekar, memiliki tiga orang keturunan, I Gusti Gede Tianyar, I Gusti Made Tianyar Blahbatuh, adiknya I Gusti Made Tianyar Tkurenan, beliau pada akhirnya menjadi Rohaniwan. &lt;br /&gt;Demikian perkembangan keturunan yang berada di Sinduwati, daerah Singharsa, lengkap dengan tempat pemujaan Dewa, bernama, Pura Puri Anyar Sukangeneb, diteruskan dari sejak dulu, masa kini dan masa yang akan datang. Cerita disudahi.&lt;br /&gt;Ya Tuhan semoga selalu berhasil. Ini petunjuk/tingkah laku keturunan Manu, pesan beliau Batara Manu, agar ditaati oleh para keluarga dan keturunan, tentang lahirnya dari keturunan Manu. Jika petunjuk/kewajiban/ajaran ini sudah dikuasai, dapat menyebabkan kesembuhan/menghilangkan sengsara dalam diri, jika badan dapat dijaga dengan baik, atas perintah pikiran yang tak ternoda. Tidak tercoreng oleh noda-noda yang menyakitkan telinga, begitu pula nafsu dan tamak/loba, itu tujuannya untuk mendapatkan kesenangan yang besar, lebih-lebih keutamaan batin, kenali perbuatanmu masing-masing.&lt;br /&gt;Singkatnya, ajaran/tuntunan perbuatan itu sungguh dipahami, dan dilaksanakan, jangan gegabah dengan segala perilaku, itu dapat menjagamu (agar) tidak menyimpang dari sifat-sifat manusia, oleh karena tahu akan penjelmaan. Tidak bercampur-baur dengan kaum Ekajati hendaklah dipilih yang pantas dijadikan sahabat, apa sebab demikian, karena engkau sungguh manusia yang baik, keturunan dari golongan Manu, hendaknya ingat dengan tugas masing-masing, lebih-lebih dalam melaksanakan aturan brata, utamakanlah kesetiaan dan kebaikan yang dapat mengontrol perbuatanmu, tidak diselingi perbuatan salah, perbuatan durjana, ini ajaranmu yang pantas diikuti dan dilarang mendatangkan mala petaka kutuk, ditujukan kepada siapa saja, ditujukan kepada semua keturunan dan warga Manu. &lt;br /&gt;Pada jaman dahulu kala, di India, beliau Batara penguasa tertinggi, dapat dikalahkan, oleh musuh, ditangkap dipukul dan disiksa, tidak dapat membela diri, akhirnya lari dengan tidak menentu, ingin masuk ke tengah hutan, masuklah ia di bawah biji tumbuhan Jawa, dinaungi oleh tumbuhan hea beras, ada burung perkutut dan bayan, lagi pula (ada) sapi hitam mulus. Di sana burung tersebut memakan biji-bijian, menampakkan keadaan yang wajar, burung itu bersuara, sapi itu jinak tidak liar. Oleh karena demikian, dikira oleh musuh beliau Batara, tidak ada orang di sana, segera ditinggalkan, pada akhirnya selamatlah beliau. Pergilah beliau menuju Jawa, dinobatkan menjadi pemimpin negeri, beliau berwasiat, seketurunan Wisnuwangsa tidak memakan daging perkutut, dan Bayan, apalagi daging sapi yang bulunya berwarna hitam mulus, wija maya (Jawa), eha beras, sama-sama tidak boleh yang melanggar, oleh semua keluarga seketurunan golongan Wisnuwangsa.&lt;br /&gt;Demikian wasiat beliau Batara Manu. Apabila tercela dalam kehidupan, lebih-lebih untuk mengabdi, terhadap keluarganya, akibat kesulitan penghidupan, oleh karena itu menjadi melanggar pedoman hidup, itu tidak merupakan dosa, berhak bila merendah terhadap saudara, sebab satu keturunan, seperti perputaran roda pedati, dapat di bawah dan dapat pula di atas. Jika engkau memohon bantuan/perlindungan terhadap orang bawah, ya dapat pula merendahkan derajat, berakibat menyimpang dari etika, menyebabkan terperosok ke dalam sumur mati, menjadi manusia biasa ( ekajati), tidak memiliki nama baik, senang makan minum kepunyaan orang lain, itu namanya hina, tidak dapat disucikan, ( hendaknya ) dijadikan pedoman bagi empat golongan manusia, janganlah engkau meniru perbuatan tersebut, semoga selamat, panjang umur, sempurna, sampai sanak saudara dan keturunannya, selamanya disenangi di bumi, ya Tuhan semoga senantiasa berhasil. &lt;br /&gt;Ini adalah jenis busana (alat) yang dapat/bisa digunakan dalam upacara kematian, ijin dari beliau Sri Raja Batur Renggong, engkau bisa menggunakan busana manusia utama, sesuai dengan tata cara kerajaan (Dalem), menggunakan peti usungan, upacara penyucian, upacara Ngaben dengan membakar jenazah, bade ( tempat usungan ) bertumpang sembilan, taman agung, candra sari, cakraantita trawangan, tempelan kapas lima warna, sembilan tumpang warna warni, kain panjang, cemeti dari bulu merak yang panjang dan burung cendrawasih berkuncir, balai-balai dari bambu gading, gender yang digotong menyertai bade (tempat usungan), binatang singa bersayap, yang lain sapi/lembu jantan yang hitam, magumi undag sapta, balai silunglung, lengkap dengan kajang (kain penutup may at) dengan perlengkapannya, walantaga, pakelem yang dibuat dari emas, lengkap dengan kawat emas, parbha padma lenkara, bukan diikatkan pada galar. Harus diberi tirta (air suci) untuk ukuran yang utama dengan uang (harga) 16.000, menengah 8.000, sederhana harga 4.000,. Kelanjutan dari (upacara) kematian, boleh melakukan upacara Atma wedhana, upacara baligya sradha, menengah panileman, mangrorasin. &lt;br /&gt;Demikian rangkaian upacara pengabenan tingkatan utama, boleh menggunakan kawat emas, itu perwujudan dari delapan penjuru arah yang di tengah-tengahnya terdapat bulatan yang bertuliskan Dasa Aksara. Berapa besar bahaya keutamaannya? Kamu tidak tabu, hanya keinginan untuk mempercayai orang lain, mengikat galar, tidak tahu dengan maknanya, jika engkau ingin mengetahuinya inilah sebenarnya, Hurat mawrat, tar porat, jika memakai perlengkapan yang berat ( berlimpah ), menengah namanya. Jika tidak memakai perlengkapan yang berbobot, bernama nista (sederhana). Jika menggunakan/berbobot perlengkapannya, bernama besar (utama). Rupa/fungsi kawat emas, bagaimana bentuk kawat mas? Kain putih, lebarnya seukuran destar, itu sebagai alas, simbul tikar, di tempel bentuk Ongkara kawat mas, tidak boleh digambari (dirajah) oleh orang kaum rendah (Sudra), yang berhak juga brahmana.&lt;br /&gt;Setelah siap/sedia , dipasang di atas bagian hulu pawalungan, itu melambangkan padmanglayang, setelah jenazah diperciki dengan tirta pangentas, ditutupi dengan kawat emas, agar sama-sama terbakar dengan jenazah, itu bermakna utama. &lt;br /&gt;Apa keutamaannya ? Ini kenyataannya, dahulu di Surga, pada waktu semua roh berkumpul, dijemur di teriknya panas, ada satu roh, terbebas oleh panas, tertutup oleh awan, kemudian ditanyai oleh Sang Suratma, diperiksa tulisan di kepalanya, menjawab roh itu, mengaku memakai kawatamas, berbentuk padma reka, itu sebabnya terbebas dari kekeringan. Itu kemudian ditiru oleh yang mengetahui keadaan tersebut, karena kawat emas itu sangat utama, demikian diberitakan, jangan ceroboh.&lt;br /&gt;Ini petunjuk perilaku Arya Gajah Para yang menjadi rohaniawan. Bagi yang melaksanakan/menjadi Resi, diwajibkan melakukan diksa brata boleh mengenakan jujumpung dan rambut di sanggul , seperti pakaian seorang pendeta Siwasidhanta (sekta Siwa), juga boleh bercukur pendek seperti pendeta golongan Budha. Berpakaian serba putih, harus memakai tongkat yang berukuran panjang setinggi badan, pada ujungnya bhajra yantu, tidak boleh lepas tongkat itu, dibawa pada saat bepergian, sebagai tanda itu, untuk tidak salah tafsir. Jika sudah diberi tanda, menggunakan tongkat bhajra yantu, yang menjadi ujungnya, itu sesungguhnya adalah Bhujangga Resi, tidak keliru (bila) akan bertanya, karena masih ada yang menandakan. Jika dia Resi, Bhujangga, berjalan tanpa tongkat, itu dapat membuatnya terserang noda/kotor, bagaimana ia itu, ketiga aliran sulinggih, berjumpa di jalan, Semuanya menyapa, disertai tercakupnya kedua telapak tangan, serta membungkukkan badan, sang Resi segera berkata, mengaku dirinya bukan pendeta, mereka sang tri wangsa menjadi malu, dalam benaknya salah sangka, marah dalam hatinya, segera terdengar suara cemoohan, menimpa diri Sang Resi, itulah sebabnya berjalan dengan tongkat, baru kelihatan keadaan yang nyata (kejatiannya), wajah Resi Bhujangga, pendeta bertabiat tenang dan murid sang pendeta.&lt;br /&gt;Demikian perilaku Resi Bhujangga, jangan tidak berhati-hati, menjaga tingkah laku itu, jelas sang Adi Guru, semoga tidak bercampur dengan pikiran kotor, bagaikan kristal permata, pikiran itu serta bersih berkilap tidak berawan, tidak menentang perintah, sang Adi Guru, sekalipun tertimpa hujan dan panas, berat ringan, lebih-lebih turun ke sungai jurang yang dalam dan tidak dirisaukan oleh orang yang menjunjung dharma, bising hening menahan lapar, dahaga menginginkan agar berhasil perintah sang Adi Guru, bersama orang yang wajib dihormati, sampai dengan keluarga sang Adi Guru, putri guru, kakak guru, adik guru, paman guru, kakek guru, keluarga guru, cicit guru seluruh anggota keluarga, kawan, keluarga sang Adi Guru, hendaknya semua dapat dihormati. Karena semua pengajar (guru) dianggap berasal dari perbuatan utama ( baik ).&lt;br /&gt;Lagi pula seorang Resi tidak berhak mencarikan jalan bagi orang yang satu keturunan (sidikara) bila meninggal, jika mencarikan jalan keluarga, itu akan menjadi rendah (nista), bukan orang yang telah suci, apa sebabnya demikian, karena seorang Resi itu adalah dari keturunan, maka hilanglah keharumannya, tidak dapat disucikan/diupacarakan oleh sang pendeta Brahmana. Kemudian ada salah seorang berkeinginan untuk menyucikan diri menjadi pendeta, berlaku seperti Resi Bhujangga, itu tidak dapat didiksa, puasa, oleh beliau Mpu Dhang Guru Brahmana, karena murid Resi, bukan keturunan wiku, brahmana, seorang petani tulen menjadi utama, demikian celakanya bila dicarikan jalan oleh Resi.&lt;br /&gt;Lagi jika upacara hayu (bukan duka ), upacara penyucian diri, upacara tentang kehidupan, itu dapat dipimpin oleh Resi, tetapi sebelumnya menyampaikan perkenan kepada Dhang Guru agar tidak berbuat sekehendak hati, lancar, bebas/terlepas dari kekurangan lebih-lebih membuat bingung, tidak berhasil, sebagai akibat kurang nasihat dari sang Adi Guru, ikut terbawa-bawa sang guru, oleh karena pelaksanaan keliru muridnya, itu juga sama-sama menyebabkan ditaati, memohon restu kepada sang Adi Guru, pada waktu melaksanakan upacara, lagi pula pada saat sang Guru dalam wujud Ardhanareswari menyatu ke alam sunyatmaka (Surga), Sang Resi harus mempersembahkan air suci pada kaki, menghaturkan penyucian kaki beliau. Juga pada waktu hari raya Galungan tiba, Kuningan, pada saat itu sang Resi (juga) mempersembahkan daging untuk pelaksanaan Galungan, sebagai persembahan layaknya hormat kepada Gumi. Lagi pula ingatlah tata krama itu, menghadap sang Adi Guru, jangan sembunyi-sembunyi, pergi (juga ) sembunyi-sembunyi, tidak mengabaikan bimbingan, tidak memalingkan muka, tidak salah dengar, tetap menatap muka, setiap berucap dan berkata dengan hormat, jangan menutupi pembicaraan yang tidak benar, tidak mencampuri pembicaraan Adi Guru, tidak menyangkal perintah, mempercepat dapat dimengerti, jangan tetap membenarkan terhadap apa yang belum benar, tidak mengeruhkan permandian sang Adi Guru, tidak menolak perintah, tidak menginjak bayangan sang Adi Guru, tidak menduduki tempat duduk sang Guru, tidak turun naik dalam perasaan, tidak memotong-potong pembicaraan sang Adi Guru, jangan sering lemah dan memudar, dan juga awasi dari kejauhan, jika belum nyata/ pasti tentang keadaan sang Adi Guru, jangan segera mencampuri, jangan berbicara dan menjawab dengan membalikkan punggung.&lt;br /&gt;Demikian tata cara seorang putra guru, putri guru, kakak guru, adik guru, ada penghormatan yang tulus dari dalam hati, dengan suara yang lembut, bahasanya/nadanya datar, ucapannya mempesona, dengan perkataan Ida Bagus, Ratu Ida Ayu, lagi pula saat menghadap sang Adi Guru, jika terlihat putra sang Guru, putri guru, kakak dan adik guru, ajak (tawari) duduk bersama, jangan engkau menghalangi duduk, juga jangan membelakangi, jangan menyuguhkan makanan yang telah diambil dengan tidak teratur. Jika telah tiba saatnya meninggal, engkau dapat meminta untuk menggunakan Padmasana, apa sebabnya bisa, karena engkau merupakan perlindungan manusia, menjadi sahabat sang pendeta menceriterakan jalan/mengupacarakan orang yang telah meninggal, sekalipun engkau gadis yang kecantikannya telah menyusut, gadis (istri ) Resi panggilanmu, sama-sama bisa/dapat menjadi pelindung manusia, memakai gelung kesa gagato seperti pakaian istri pendeta. &lt;br /&gt;Demikian tata cara sang Resi, taat terhadap sang brahmana, jangan mabuk menganggap diri tabu, engkau merupakan wadah berbunyi, sang pendeta yang mengisinya, menghidupkan, dan memberikan kekuatan jagat, beliau dianggap air kehidupan, sekalipun wadah itu bocor, tetapi memiliki kewenangan untuk menyalurkan kehidupan, berbeda dengan kulit seekor kambing, dipakai oleh Baladewa, menimba air dari sumur, sekalipun pekerjaan suci, waspadai baunya yang busuk, karena dicemari oleh tempat. Demikian perbuatan yang alpa, itu sebabnya di waspadai oleh yang menjunjung dharma ( kebenaran ), berusaha melaksanakan tiga perbuatan baik, agama, kebaikan, tingkah laku yang baik. &lt;br /&gt;Ini purana (silsilah /cerita kuno ) tentang area perwujudan di Pura Puri Anyar Sukangeneb, yang berada di Sinduwati, Singharsa, dipuja oleh para keturunan beliau semua. Ahli waris yang memelihara, para keturunan Jro Gede Wiryya, keturunan dari I Gusti Gede Tianyar, beliau memang bersaudara, tiga, anak dari I Gusti Gede Tianyar Sekar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber  : Babad bali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5793188356812913061-3144428340746199057?l=serombotan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serombotan.blogspot.com/feeds/3144428340746199057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5793188356812913061&amp;postID=3144428340746199057' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/3144428340746199057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/3144428340746199057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serombotan.blogspot.com/2008/12/babad-keturunan-gajah-para.html' title='babad keturunan gajah para'/><author><name>gusade777</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04034465685906450642</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1ceAZbbktbQ/SUPwkW8s98I/AAAAAAAAAA0/cHxV4SnA8QI/s72-c/Acenter.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5793188356812913061.post-7468984293139441740</id><published>2008-12-03T07:31:00.000-08:00</published><updated>2009-01-21T08:14:37.756-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HINDU RELIGION'/><title type='text'>SEKILAS TENTANG SODARA / TEMAN YANG ADA DI DIRI KITA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1ceAZbbktbQ/STamx4b1-gI/AAAAAAAAAAs/J_BkvcL5NTk/s1600-h/Kgosa2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 202px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1ceAZbbktbQ/STamx4b1-gI/AAAAAAAAAAs/J_BkvcL5NTk/s320/Kgosa2.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275587389404084738" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;Rekan sedharma Yth.&lt;br /&gt;Om Swastyastu,&lt;br /&gt;Kanda Pat adalah Empat Teman: Kanda = teman, Pat = empat, yaitu kekuatan-kekuatan Hyang Widhi yang selalu menyertai roh (Atman) manusia sejak embrio sampai meninggal dunia mencapai Nirwana. Menurut Kitab Suci Lontar Tutur Panus Karma, nama-nama Kanda Pat berubah-ubah menurut keadaan/ usia manusia:&lt;br /&gt;Usia Manusia Kanda 1 Kanda 2 Kanda 3 Kanda 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandapat Rare:&lt;br /&gt;Embrio Karen Bra Angdian Lembana&lt;br /&gt;Kandungan 20 hari Anta Prata Kala Dengen&lt;br /&gt;Kandungan 40 minggu Ari-ari Lamas Getih Yeh-nyom&lt;br /&gt;Lahir, tali pusar putus Mekair Salabir Mokair Selair&lt;br /&gt;Kandapat Bhuta:&lt;br /&gt;Bayi bisa bersuara Anggapati Prajapati Banaspati Banaspatiraja&lt;br /&gt;Kandapat Sari:&lt;br /&gt;14 tahun Sidasakti Sidarasa Maskuina Ajiputrapetak&lt;br /&gt;Bercucu Podgala Kroda Sari Yasren&lt;br /&gt;Kandapat Atma:&lt;br /&gt;Meninggal dunia Suratman Jogormanik Mahakala Dorakala&lt;br /&gt;Kandapat Dewa:&lt;br /&gt;Manunggal (Moksa) Siwa Sadasiwa Paramasiwa Suniasiwa&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk kandapat yang dapat dilihat dan diraba secara nyata adalah ari-ari, lamas, getih dan yeh-nyom. Setelah mereka dikuburkan (segera setelah bayi lahir) maka perubahan selanjutnya adalah abstrak (tak berwujud) namun dapat dirasakan oleh manusia yang kekuatan bathinnya terpelihara. &lt;br /&gt;Bagan di atas dapat juga dibaca terbalik dengan pengertian sebagai berikut: &lt;br /&gt;Hyang Widhi mewujudkan diri menjadi empat manifestasi, kemudian keempatnya itu yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hyang Siwa selanjutnya mewujudkan dirinya menjadi ari-ari&lt;br /&gt;2. Hyang Sadasiwa mewujudkan diri sebagai lamas&lt;br /&gt;3. Hyang Paramasiwa mewujudkan diri menjadi getih, dan&lt;br /&gt;4. Hyang Suniasiwa mewujudkan diri menjadi Yeh-nyom. &lt;br /&gt;Keempat teman yang abstrak ini menyertai terus sampai manusia mati dan rohnya menghadap ke Hyang Widhi. Mereka juga menjaga dan melindungi roh, serta mencatat sejauh mana atman (roh) terpengaruh oleh indria keduniawian. Semua pengalaman hidup di record oleh Sang Suratman yang dahulu berbentuk ari-ari. Inilah catatan subha dan asubha karma yang menjadi penilaian dan pertimbangan kesucian roh untuk menentukan tercapainya moksa (bersatunya atman-brahman) ataukah samsara (menjelma kembali). Kandapat ada dalam diri/ tubuh manusia, namun ketika tidur, kandapat keluar dari tubuh. Maka mereka perlu dibuatkan pelinggih berupa "pelangkiran" di kamar tidur, tempat bersemayamnya kanda pat ketika kita tidur pulas.&lt;br /&gt;Demikian penjelasan saya, &lt;br /&gt;Om Santi, Santi, Santi, Om....&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;Tulisan Beliau di HDNet • Mailing List Hindu Dharma   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;© Yayasan Bali Galang 2000 - 2003. All rights reserved.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5793188356812913061-7468984293139441740?l=serombotan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serombotan.blogspot.com/feeds/7468984293139441740/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5793188356812913061&amp;postID=7468984293139441740' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/7468984293139441740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/7468984293139441740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serombotan.blogspot.com/2008/12/sekilas-tentang-sodara-teman-yang-ada.html' title='SEKILAS TENTANG SODARA / TEMAN YANG ADA DI DIRI KITA'/><author><name>gusade777</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04034465685906450642</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1ceAZbbktbQ/STamx4b1-gI/AAAAAAAAAAs/J_BkvcL5NTk/s72-c/Kgosa2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5793188356812913061.post-4634288159134720973</id><published>2008-12-03T07:26:00.000-08:00</published><updated>2009-01-20T06:46:27.970-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='babad'/><title type='text'>BABAD KI TAMBYAK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1ceAZbbktbQ/STaljH7cVZI/AAAAAAAAAAk/VPkyw9tQyVE/s1600-h/Kehen.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 207px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1ceAZbbktbQ/STaljH7cVZI/AAAAAAAAAAk/VPkyw9tQyVE/s320/Kehen.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275586036353488274" /&gt;&lt;/a&gt;OM AWIGENAM ASTU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Semoga tiada halangan dengan memuja Ongkara Bali (memuja Tuhan dalam wujud Aksara Suci), dengan anugerah Hyang Prajapati, segala bencana terhindari. Sujud hamba kehadapan leluhur, kehadapan Sang Hyang Bumipati, izinkanlah hamba mengutarakan kisah Arya Tambyak pada masa lampau. Semoga hamba tidak terkena kutukan leluhur, tidak durhaka, tidak tertimpa mala petaka, dan semoga berhasil dengan sempurna, menemukan keselamatan, panjang umur dan seluruh sanak keluarga hamba menemukan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang brahmana sakti, datang ke Bali, menyertai Paduka Batara Putra Jaya yang bersemayam di pura Besakih, dan Sang Hyang Genijaya yang bersemayam di Gunung Lempuyang. Beliau adalah Begawan Maya Cakru yang gemar bertapa dan berasrama di Silayukti. Entah berapa hari lamanya baginda pendeta tinggal di Bali, dia pun bermain-main di Desa Panarajon di tepi Danau Batur. Tiba-tiba ia disusul oleh isterinya. Ketika tiba di Desa Panarajon, ia sangat kaget melihat isterinya menyusul perjalanannya. Baginda pendeta berkata:&lt;br /&gt;"Wahai Adinda, apa sebabnya Adinda datang, menyusul perjalanan Kakanda, tanpa merasa lelah". Isterinya menjawab: "Sujud hamba kehadapan Paduka Pendeta, hamba berhasrat menyusul perjalanan Paduka". Begawan Maya Cakru menjawab: "Wahai istriku, Kakanda bermaksud menghadap Paduka Bhatari di Ulun Danu. Oleh karena Adinda sedang hamil, janganlah Adinda mengikuti Kakanda". Ketika sang pendeta berkata demikian, tampak isterinya masih tetap bersikeras menyertai suaminya, agar dapat menghadap Paduka Bhatari. Mereka berjalan amat cepat.&lt;br /&gt;Tiba-tiba mereka sudah sampai di tepi Danau Batur, di sana ada sebuah batu datar terletak di bawah pohon kayu mas ( kayu sena ). Di sanalah isterinya duduk, oleh karena terlalu lelah dalam perjalanan. Tidak lama kemudian bayinya pun lahir dan jatuh di atas batu. Batu itu pecah. Baginda pendeta berkata: "Wahai anakku yang baru lahir, aku terpesona menyaksikan kelahiranmu, jatuh di atas batu, namun engkau tidak cedera dan tetap hidup. Karena itu, aku memberikan nama I Tambyak. Sekarang aku akan kembali ke alam dewa (moksa), semoga engkau selaku keturunanku tetap bahagia, panjang umur, sampai kelak tetap dikasihi oleh raja-raja Bali". Demikianlah kata-kata Begawan Maya Cakru, lalu beliau menggaib. Tidak dikisahkan lagi baginda pendeta, sekarang dikisahkan bayi itu sedang menangis menjerit-jerit di atas batu.&lt;br /&gt; Tidak panjang lebar dikisahkan, tersebutlah seorang Kabayan dari Desa Panarajon sedang bermain-main di tepi danau. Bayi itu dijumpai sedang menangis di bawah pohon kayu mas, lalu diambilnya. Bayi itu berhenti menangis. Kabayan Panarajon memungut bayi tersebut dan dijadikan anak angkat. Entah berapa hari lamanya, bayi itu dipelihara oleh orang-orang Bali Aga, ia tumbuh dengan sehat. Alangkah besarnya kasih sayang sekalian orang-orang Panarajon kepada si bayi. Ketika dia sudah bisa membalas budi baik penduduk desa-desa di sekitarnya, lalu ia bergelar Pangeran Tambyak. &lt;br /&gt;Demikianlah ceritanya bahwa ada seorang rakyat di Desa Panarajon Batur amat pandai dalam berbagai ilmu pengetahuan, dan bertabiat mulia. Oleh karena baginda raja ingin mengetahui kehebatan Ki Tambyak, maka Ki Jro Kabayan Panarajon beserta anak angkatnya itu dipanggil agar menghadap ke istana. Demikian pula para menteri istana, antara lain Baginda Kebo Waruga yang memerintah di Blahbatuh, diikuti oleh prajurit pilihan. Baginda Arya Tunjung Tutur memerintah di Tenganan Pagringsingan juga diikuti oleh prajurit terpilihnya. Si Arya Kalungsingkal yang bertahta di Taro diikuti pula oleh para prajurit andalannya. &lt;br /&gt;Demikian pula Ki Pasung Grigis yang menguasai Desa Tengkulak didampingi oleh seorang prajurit terkemuka yang dijuluki Pasar Tubuh Bedahulu, siap-siaga sama-sama memegang senjata, mereka nampak sama-sama tegar, siaga dengan bekal keahlian dan kesaktian, akan bertanding mengadu kekuatan dengan I Tambyak Tidak diceritakan lebih jauh, mereka sudah tiba di kerajaan Batanyar, menghadap Sri Haji Tapohulung. Selanjutnya, para prajurit itu disuruh membuat benteng pertahanan oleh baginda raja, di sebelah timur Desa Pejeng. Orang- orang Panarajon berada di utara. Orang-orang Tenganan, Blahbatuh, Tengkulak, Taro, ada yang berjaga di timur, di barat, dan di selatan. Lalu baginda raja muncul dikawal oleh Baginda Kebo Taruna, Kalungsingkal, Tunjung Tutur, dan Pasung Grigis. Itulah para menteri baginda raja Sri Haji Tapohulung. Dari kursi singasana emas, baginda raja memanggil seluruh prajuritnya untuk bersama-sama berperang melawan I Tambyak. &lt;br /&gt;Majulah seorang prajurit Si Arya Pasung Grigis yang bernama I Kabayan Batu Sepih yang sudah siap siaga dengan senjatanya, yaitu keris Si Pedang Lembu, yang bersinar bagaikan pancaran sinar mercu. Orang-orang Bali selatan bersorak-sorai, silih berganti, oleh karena kemenangan baginda I Kabayan Batu Sepih, oleh karena beliau sudah termashur jaya dalam peperangan. Pada saat itu, orang-orang Panarajon nampak ketakutan. Si Kabayan Panarajon niscaya mampu menghadapi serangan musuh, karena itu Ki Tambyak disuruh bersiap siaga. Baginda raja menyuruh I Tambyak agar siap berlaga. Dia pun datang ke tengah medan laga, sama-sama menghunus keris. Suara kentongan bertalu-talu, tawa-tawa, kendang besar dan bunyi-bunyian mengalun, diiringi dengan suara gamelan, serta suara kendang dan gong beri yang berbarung gemuruh, suara gong itu menggema dibarengi sorak- sorai yang tiada putus-putusnya, sungguh bagaikan gelombang lautan.&lt;br /&gt;Mereka berdua nampak siaga dan mulai mematukkan kerisnya, saling mengintai, saling tangkis, saling sodok, saling tendang, mereka sama-sama pandai memainkan pedang. Mereka bergulat saling tusuk, tubuhnya sama-sama melemas. Debu-debu pun tertidur karena diinjak-injak oleh orang yang sedang berlaga itu, sungguh-sungguh bagaikan peperangan Bima melawan Suyudana ketika mengadu kesaktian. Namun tiba-tiba dalam sekejap saja, Kabayan Batu Sepih terkena tusukan Ki Tambyak sehingga gugur terkapar di tanah. Karena Ki Pangeran Batu Sepih gugur maka seluruh prajuritnya berang. Abitah artinya dia tidak takut kepada orang banyak, pregitah artinya dia tidak takut menandingi musuh yang banyak, dan asayah artinya dia tidak takut mati di tangan musuh. Demikianlah dia tetap berlaga melawan musuh-musuhnya, bagaikan roda pemintalan, I Tambyak berputar-putar. Banyak prajurit yang gugur, tidak ada yang tidak patah lengannya, ada pula ususnya keluar, mayat bertumpuk-tumpuk bagaikan gunung di medan laga, oleh karena telah terbukti kehebatan I Tambyak. I Tambyak disuruh berhenti berperang dan dipersilakan duduk oleh baginda raja. Dengan disaksikan oleh seluruh rakyat dan para menteri. Dia pun diberi pakaian kebesaran seorang patih serta perlengkapan lain yang utama. Oleh karena itu, dia lalu bergelar Ki Patih Tambyak. Entah berapa lama sudah Ki Tambyak menjabat patih, keadaan negeri sangat tenteram di bawah pemerintahan baginda raja Sri Haji Bedhamurdi yang sudah termashur di seluruh negeri. Tidak diceritakan lebih lanjut kejayaan baginda raja dalam memerintah Bali.&lt;br /&gt; Sekarang dikisahkan baginda Patih Tambyak menjadi teladan semua rakyat, dengan sentosa seluruh sanak keluarganya ikut serta menjaga negeri, turun-temurun menjadi patih. Diturunkan dari sifat ayahnya, maka segala bentuk upacara korban selalu dilaksanakan, adat-istiadat berlangsung sebagaimana tercantum dalam purana. Demikianlah keadaan negeri pada masa pemerintahan Patih Tambyak. Setelah berselang beberapa lama, Sri Haji Gajah Wahana dinobatkan menjadi raja Bali Aga. Namun tampak kejanggalan- kejanggalan pada masa pemerintahannya pertanda masa Kali sudah tiba. Sekarang dikisahkan kehancuran kerajaan Bedahulu yang disebabkan oleh serangan Majapahit di bawah pimpinan Patih Gajah Mada, yang membuat tipu muslihat dan menjalankan ajaran aji sukma kajanardanan.&lt;br /&gt;Demikian misalnya terdengar berita kematian Kebo Taruna, tertangkapnya Pasung Grigis di daerah Tengkulak menyebabkan hancurnya kerajaan Bedahulu, juga karena kesaktian Arya Damar yang menguasai ilmu kadigjayan yang sempurna, Sri Haji Bedhamurdi terlebih dahulu meninggal, baginda Patih Kalungsingkal dibunuh oleh Arya Sentong.&lt;br /&gt;Adapun Ki Patih Tambyak, beserta sanak keluarganya, ada yang mati, ada yang masih hidup, ada yang mengungsi terpencar ke sana-sini, ada yang menyusup ke desa-desa, ada yang ke sebelah utara gunung yaitu ke Desa Bungkulan, ada yang ke Jembrana, ada yang ke Tabanan, ada yang ke timur, ke selatan. Mereka tidak berani mengakui wangsanya. Di setiap desa yang disusupinya, mereka senantiasa mengaku keturunan Arya Bandesa. Adapun ketika masa kekalahan Bali Aga, di Bali tidak ada raja. Para dewa pun cemas menyaksikan kehancuran ini. Tersebutlah seorang pendeta suci yang bernama Dang Hyang Kepakisan. Beliau Adalah penasehat Patih Gajah Mada. Konon beliau lahir dari batu. Pada saat beliau memuja Dewa Surya (Surya Sewana), beliau bertemu dengan bidadari. Bidadari itu dinikahinya. Setelah beliau berputra, putra-putranya itu diminta oleh patih Gajah Mada sebagai raja. Yang paling tua dinobatkan di Blambangan, yang kedua bertahta di Pasuruhan, yang perempuan dinobatkan di Sumbawa, dan terkecil dinobatkan di Bali Aga, disertai oleh rakyat yang sakti dan kebal- kebal, serta bertabiat mulia. &lt;br /&gt;Sungguh-sungguh bagaikan Kresna titisan Dewa Wisnu, nyata sekali baginda sudah mendalami Tri Radya. Setelah itu akan dikisahkan baginda Maharaja Kapakisan yang memerintah Bali yang kerajaannya diusahakan oleh patih Gajah Mada beserta pakaian kebesaran kerajaan dan sebilah keris yang bernama Si Ganja Dungkul, lengkap tidak ada yang kurang, serta didampingi oleh beliau Arya Kanuruhan, Arya Wang Bang, Arya Dalancang, Arya Belog, Arya Pangalasan, dan Arya Manguri. Di belakang Arya Wang Bang adalah Arya Kutawaringin dan tersebut pula Arya Gajah Para datang ke Bali dan menetap di Tianyar. Sedangkan Arya Kutawaringin bertempat tinggal di Toya Anyar. Hal itu disebabkan karena dahulu beliau itu ialah guru dari patih Gajah Mada yang kini menyertai perjalanan Arya Kapakisan ke Bali. Ada pula tiga orang Wesya yang berasal dari Majapahit yaitu Si Tan Kober, Tan Mundur dan Si Tan Kawur juga datang ke Bali.&lt;br /&gt;Demikianlah cerita yang tersebut dalam lontar. Jika ada kata-kata yang menyimpang, mohon dimaafkan agar tidak terkena kutukan, dan semoga hamba menemukan keselamatan, tidak menemui rintangan-rintangan sampai pada sanak keluarga dan keturunan-keturunan hamba, selalu dicintai rakyat. Tidak akan dikisahkan lebih jauh mengenai pemerintahan Dalem beserta sanak keluarganya yang beristana di Harsapura (Klungkung). Sekarang akan diceritakan beliau Arya Wang Bang, seorang keturunan brahmana. Pada zaman dahulu ada seorang pengawal turun ke Bali mendampingi beliau Dalem Kresna Kapakisan. Beliau kemudian menguasai wilayah Tabanan. Beliau bernama Kyayi Ngurah Kenceng. Beliau beristrikan putri Pangeran Bendesa Tumbak Bayuh, dan mempunyai dua orang anak laki-laki. Yang tertua bernama Si Arya Rangong dan adiknya bernama Si Arya Ruju Bandesa.&lt;br /&gt;Adapun beliau Arya Rangong amat in hati terhadap adiknya. Kematian adiknya seakan-akan dicari-cari. Namun dia tidak berhasil karena amat besar cinta kasih para dewa terhadap Arya Ruju Bandesa. Ada lagi tipu muslihat Si Arya Rangong yaitu ada pohon beringin yang sangat besar dan tinggi, tempat persemayaman Jro Gede dari Nusa Kambangan. Pohon beringin itu sangat angker, berada di Puri Buahan. Si Arya Ruju Bandesa disuruh memangkas pohon beringin itu oleh kakaknya. Dia tidak menolak dan segera memangkas pohon beringin itu. Semua orang terpesona menyaksikan Si Arya Ruju Bandesa memangkas pohon beringin karena sama sekali tidak tertimpa bencana. Setelah itu, beliau bergelar Arya Notor Waringin, ia amat dicintai rakyat, bakti terhadap dewa, tidak henti-hentinya memuja Tuhan, dalam menciptakan kesejahteraan negeri. Demikian seterusnya, sebuah candi pun telah didirikan oleh Arya Notor Waringin. Namun kakaknya Arya Rangong masih saja merasa iri hati kepadanya. Tiba-tiba dia minggat dari istana, berjalan menyusup ke tengah hutan, sambil memuji kebesaran Tuhan guna mendapatkan kekosongan. Tidak dikisahkan dalam perjalanannya, tiba-tiba dia telah sampai di pinggir sebuah danau dekat Desa Panarajon. Di sana dia bertemu dengan Pangeran Bandesa Tambyak. Mereka berdua saling memperkenalkan diri. Alangkah bahagianya Pangeran Bandesa Tambyak dapat bertemu dengan seseorang yang berbudi luhur.&lt;br /&gt; Entah berapa lamanya Kyayi Notor Waringin berada di Desa Panarajon, bermain-main di tepi danau. Tiba-tiba Paduka Batara muncul di tengah danau. Mereka berdua segera menyembah, tidak berselang lama, akhirnya mereka berdua dipanggil untuk datang dan duduk di hadapan Paduka Batara. Mereka menyembah dengan hati yang suci bersih. Setelah selesai memuja, mereka disuruh naik ke puncak bukit. Mereka tidak menolak perintah Paduka Batara. Pada saat mereka berdua tiba di puncak bukit, mendampingi Paduka Batara, Kyayi Notor Waringin dianugerahi sebuah sumpit. Dia dipersilakan melihat daerah-daerah melalui lubang sumpit itu. Adapun daerah yang berhak dikuasainya, dari timur, barat, utara, dan selatan. &lt;br /&gt;Daerah-daerah itu nampak terang. Tetapi di arah barat laut terlihat sebuah desa yang gelap. Menurut Batara, konon daerah itu akan dikuasai oleh Ki Ngurah Arya Notor Waringin. Demikian anugerah Batara kepadanya. Beliau Arya Notor Waringin kemudian menguasai daerah Badung, didampingi oleh teman dekatnya yang bernama Bandesa Tambyak. Setelah itu, Pangeran Bendesa Tambyak di anugerahi oleh temannya: "Wahai Bandesa Tambyak, betapa besarnya cinta kasihmu terhadap diriku, baik pada saat suka maupun duka, sejak dulu sampai sekarang. Saat ini engkau dan aku berada di daerah Badung atas restu Paduka sejak dulu sampai kelak, tidak dapat dipisahkan, kita sehidup semati, demikian sampai kelak seluruh sanak keluarga dan keturunan Bandesa Tambyak tidak dikenai hukuman. Tidak dijatuhi hukuman mati, jika engkau mendapat hukuman mati, hal itu dapat dibayar dengan uang. Jika engkau didenda dengan uang, itu dapat diampuni. Harta milikmu tidak dapat dirampas. Jika engkau bersalah, engkau akan diusir dan terampuni". Demikian anugerah raja Badung kepada Pangeran Tambyak. Entah berapa lamanya, Sri Anglurah Notor Waringin menjadi raja Badung, didampingi oleh abdi setianya yaitu Pangeran Tambyak, betapa sejahteranya negeri Badung. Tidak ada musuh yang berani menandingi baginda. Semakin hari semakin besar restu dan anugerah Batara kepada baginda. Beliau berhasil membunuh burung gagak siluman, sehingga dia diangkat sebagai menteri oleh Dalem, memimpin para menteri. Entah berapa lamanya Kyayi Notor Waringin memerintah negeri Badung, timbullah niat buruk Ki Bandesa Tambyak, dengan mengadakan huru-hara di istana. Karena itu dia disuruh menguasai desa-desa berikut penduduknya di daerah Bukit Pecatu. Ada pula yang diusir ke Sumerta, dan ada yang ke Desa Pahang. Semua keturunannya hidup tenteram. Tidak akan dikisahkan lebih jauh perihal Sri Anglurah Notor Waringin yang berkuasa di negeri Badung. Putra-putranya silih berganti, turun-temurun menjadi raja. Ada yang bertahta di Puri Tambangan, ada yang bertahta di Puri Denpasar, dan ada bertahta di Puri Kesiman.&lt;br /&gt;Adapun Pangeran Bandesa Tambyak yang berada di Desa Pahang, kemudian mengungsi ke Desa Timbul Sukawati beserta istri, anak-anaknya dan Gusti Grenceng serta I Gusti Brasan. Entah berapa lamanya mereka berada di Sukawati, lalu mereka berpindah lagi, karena kekalahannya melawan Cokorda Karang. Gusti Brasan sudah lebih dulu kembali ke Badung bersama-sama Gusti Grenceng. Adapun Ki Bandesa Tambyak yang masih tertinggal di Sukawati menyamar menjadi Pangeran Pahang. Dia pun masih dikejar-kejar oleh I Dewa Nataran, karena itu ia lari untuk bersembunyi ke pinggir sungai Wos.&lt;br /&gt;Setelah itu dia lari ke arah barat menuju Desa Mantring. Hujan dan angin ribut menyelimuti daerah di sekitar desa itu. Karenanya orang-orang yang mengejarnya kembali pulang. Di sana Pangeran Pahang menangis tersedu-sedu, katanya: "Oh Tuhanku, Dewa dari semua Dewa, beserta Paduka Batara Sang Hyang Siwa Raditya, dan leluhurku yang berada di Desa Panarajon, dan Paduka Batara Dalem di Desa Pahang, lindungilah hamba dari kematian dan kejaran musuh". Tiga empat kali, ia memuja Paduka Batara, Tiba-tiba dari pohon beringin itu muncul sinar, dan I Buta Panji Landung menampakkan diri, amat kasihan melihat Ki Bandesa Tambyak menangis di sisi tempat tidurnya: " Wahai Bandesa Tambyak, aku menganugerahimu, agar engkau menemukan keselamatan". Ki Tambyak menjawab: " Oh Tuhanku, siapa gerangan yang masih menaruh belas kasihan terhadapku?" "Wahai Tambyak, aku adalah Buta Panji Landung, Dewa dari semua Dewa di pohon beringin ini. Wahai Tambyak, semoga engkau menemukan keselamatan, panjang umur, sanak keluarga dan keturunanmu mendapatkan kesejahteraan, dicintai oleh masyarakat, oleh semua mahluk, tidak tertimpa mara bahaya". "Sujud hamba kehadapan Batara abdi Paduka Batara tidak akan meninggalkan desa ini, supaya ada yang menyembah Paduka Batara di sini, sanak keluarga dan keturunan hamba turun-temurun tidak akan lupa menyembah Paduka Batara" "Wahai Bandesa Tambyak, janganlah engkau lupa akan janjimu". Demikianlah anugerah Setelah itu beliau menggaib lagi. Karena itulah jalan itu dinamakan Rurung Panji. Tidak dikisahkan lagi keadaan Ki Tambyak, sekarang akan diceritakan Sri Agung Karang bertahta di daerah Tapesan. Negerinya amat Sejahtera, tidak jauh berbeda dengan kakaknya yang bertahta di Peliatan. Tidak diceritakan lagi Ida Dewa Agung Karang, kini akan diceritakan Ki Bandesa Tambyak yang menetap di Desa Celuk Mantring, sama-sama memiliki tempat tinggal. Setelah itu beliau memindahkan leluhurnya dari Desa Pahang, diwujudkan dalam bentuk Area Batara Siwa Raditya, dijadikan tempat persemayaman Batara Panji Landung yang berada di Madyasari. Demikian cerita Ki Bandesa Tambyak yang berada di Celuk Mantring. Sudah tersurat dalam lontar (prasasti).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;© Yayasan Bali Galang 2000 - 2003. All rights reserved. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5793188356812913061-4634288159134720973?l=serombotan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serombotan.blogspot.com/feeds/4634288159134720973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5793188356812913061&amp;postID=4634288159134720973' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/4634288159134720973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5793188356812913061/posts/default/4634288159134720973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serombotan.blogspot.com/2008/12/babad-ki-tambyak.html' title='BABAD KI TAMBYAK'/><author><name>gusade777</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04034465685906450642</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1ceAZbbktbQ/STaljH7cVZI/AAAAAAAAAAk/VPkyw9tQyVE/s72-c/Kehen.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
